Cold Love

Cold Love
Bab 8. Perasaan Yang dirindukan


__ADS_3

Dua tahun berlalu dengan cepat bagi sebagian orang. Sementara sebagiannya lagi merasa jika dua tahun berjalan dengan lambat. Awan bergerak, angin berhembus ... hari-hari pun berlalu.


Selama dua tahun, Freya tidak memiliki teman di sekolah. Dia dijauhi karena kekurangan fisiknya. Freya berusaha menyembunyikannya dengan memakai kardigan. Lengannya panjang sehingga bisa menutupi jari-jarinya.


Akan tetapi, hanya karena seorang kakak kelas lelaki mendekatinya dan menemukan jika jari-jarinya tidak lengkap, rumor pun beredar.


Dari rumor berubah menjadi fakta. Keysha, orang yang membenci Freya menyebarkan fakta itu. Membuatnya seolah-olah Freya adalah orang menjijikkan.


Freya tidak lagi pusing memikirkan itu. Dia sudah terbiasa dijauhi dan dibuli. Ketika SD dan SMP dia dirundung lebih parah. Pernah kakinya patah dan harus dilarikan ke rumah sakit karena seseorang mendorongnya ke selokan yang dalam.


Di SMA, setidaknya mereka hanya mencibir dan mengata-ngatainya. Tidak sampai melukai fisiknya. Bagi Freya itu sudah cukup. Dia tidak ingin membuat Bryan atau Lucas khawatir.


Walaupun sejak SMA, Lucas tidak pernah menunjukkan kekhawatiran atau kepeduliannya. Freya yakin Lucas masih peduli padanya jauh di dalam dirinya yang tidak bisa Freya lihat.


Saat ini, mereka berdua sudah masuk tahun ketiga. Lucas semakin populer dikarenakan wajah tampan dan tubuhnya yang berotot. Setiap kali dia memakai baju tanpa lengan dan celana pendek selutut, para perempuan akan menghabiskan suara mereka untuk berteriak. Memanggil-manggil nama Lucas saat dia bermain basket.


"Lucas!"


"Jadi pacar gue, dong! Gila! Lo ganteng banget!"


"Lucas!"


"Barusan Lucas ngeliatin gue!"


"Apaan? Dia liat gue kali."


Mereka berdorong-dorongan di bangku penonton. Bersorak ketika Lucas berhasil memasukkan bola basket ke dalam keranjang. Suara mereka riuh memenuhi lapangan.


"Lucas, ribut banget mereka." Chiko datang dari samping. Menepuk bahu Lucas. Menunjuk-nunjuk ke arah penonton dengan dagunya.


"Fans lo kebanyakan. Bagi gue dikit napa?" katanya lagi.


Napas Lucas sedikit tidak teratur akibat kelelahan. Dia tidak terlalu memedulikan omongan Chiko. Matanya terarah pada sosok Freya yang tengah membantu Pak Iki menyapu halaman sekolah.


Dari jauh, Lucas melihat keringat mengalir di pelipis Freya. Gadis itu spontan menyeka keringatnya. Kemudian kembali menyapu daun-daun kering yang jatuh dari pohon-pohon di sekitar sana.


Melihat Freya yang tampak kelelahan, terutama saat ini cuaca sedang panas, Lucas berbalik untuk mengambil sebotol air mineral dari tasnya. Mengabaikan suara Chiko yang masih membahas tentang para penggemarnya.


"Mau ke mana lo?" tanya Chiko.


Lucas berhenti berjalan. Dia menunduk, melihat ke botol air yang dia pegang.

__ADS_1


"Woi!"


Chiko memukul bahu Lucas yang diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian, lelaki itu tersadar dari pikirannya dan menggeleng.


"Gak ke mana-mana."


Lucas membuka air yang dia pegang. Lalu, sekali tegukan dia menghabiskan setengah isi dari botol air tersebut.


"Haus lo?" celetuk Chiko.


Lucas mengangguk dan mendorong botol tersebut ke dada Chiko.


"Buat gue?"


"Em."


Chiko menerimanya dengan senang hati. Menghabiskannya dengan dua kali tegukan.


...***...


Selama Freya bersekolah di sini, dia sering membantu Pak Iki yang merupakan petugas kebersihan di sekolah. Dua tahun lalu, Freya melihat Pak Iki yang sudah tua sedang menumpuk daun-daun dan memasukkannya ke dalam kantung sampah.


Sudah menjadi kebiasaan di saat bel istirahat. Kaki Freya akan bergerak otomatis melangkah ke ruang belakang sekolah untuk menemui Pak Iki. Meminta sapu dan pergi ke halaman untuk menyapu.


Banyak orang di sekolah yang mengira dia adalah pekerja di sana. Jadi, mereka suka melempar bungkusan bekas makan mereka ke tempat Freya selesai menyapu. Terkikik-kikik saat melihat Freya berbalik dan menyapu kembali di tempat yang baru selesai disapu.


"Eh, Pak Iki. Sini Freya bantu."


Freya meletakkan sapu lidinya di batang pohon. Menyandarkannya sedikit miring agar sapunya tidak terjatuh. Kemudian dia berlari kecil menghampiri Pak Iki yang sedang mengangkat karung sampah berukuran besar.


"Gak papa, Nak. Saya bisa sendiri." Pak Iki menolak. Freya sudah terlalu banyak membantu pekerjaannya tanpa meminta bayaran. Pria tua itu tidak bisa membiarkan Freya membantunya untuk mengangkat barang berat.


"Pak Iki kesusahan bawanya. Freya bantu."


Tidak mempedulikan penolakan Pak Iki, Freya membantunya mengangkat karung sampah dari belakang. Mengurangi beban berat di bahu Pak Iki.


Pria tua itu pasrah. Tidak lagi menolak. Dia hanya bisa mengucapkan terima kasih yang banyak pada Freya.


Selesai membuang karung sampah ke tong yang disediakan di depan gerbang, Freya kembali ke halaman dan melanjutkan kegiatannya.


Daun-daun yang sebelumnya sudah disapu dan terkumpul, telah bubar dari tempat perkumpulan.

__ADS_1


Freya membuang napasnya. Dia lelah, tapi tidak bisa melakukan apapun selain menyapu kembali dan memaksa daun-daun itu berkumpul di satu tempat.


"Freya."


Saat sedang menyapu, tiba-tiba ada suara lelaki yang memanggilnya. Suara itu terdengar berat dan tidak asing di telinganya.


Freya berbalik untuk melihat dan dia mendapati sosok Lucas berdiri di belakangnya sambil memegang Jersey basket.


"Ya?" tanya Freya.


Dia tidak tanda dengan suara Lucas karena mereka jarang berbicara. Di rumah, mereka menghabiskan waktu di kamar masing-masing. Keduanya hanya bertemu di ruang makan atau ruang televisi. Sisanya mereka sama-sama tidak keluar dari kamar kecuali ada keperluan di luar.


"Pak Iki mana?" tanyanya lagi.


Freya melirik ke sekitar dan menjawab, "Tadi di depan. Kenapa? Kamu perlu sama Pak Iki?"


Lucas memandang Freya agak lama. Kemudian dia menggeleng. "Nanya aja."


"Oh." Freya membulatkan mulutnya dan mengeluarkan nada panjang.


"Kamu baru selesai main basket?" tanya Freya. Sekadar basa-basi agar tidak canggung.


Lucas mengangguk sekali. Lalu memperhatikan Freya lagi.


Ditatap seperti itu, Freya merasa sedikit tidak nyaman. Dia mulai berpikir mungkin Lucas juga sama seperti yang lain. Menganggap dia pekerja di sekolah ini.


"Kenapa?" tanya Lucas.


Mulut Lucas sudah sedikit terbuka, tapi tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.


"Lucas?" panggil Freya.


"Gak ada," jawabnya, "aku balik dulu."


Freya mengangguk dan membiarkan Lucas kembali ke kelasnya.


Freya sedikit bingung. Jarang-jarang Lucas menghampirinya di sekolah. Bisa dikatakan ini adalah pertama kalinya sejak mereka SMA.


Senyum tipis tertarik di bibirnya. Harapan akan kembalinya Lucas yang dulu bukanlah sekadar khayalan. Walaupun berbeda, tapi Freya dapat merasakan perasaan yang sama ketika berada di dekat Lucas.


Perasaan akrab yang telah lama dia rindukan.

__ADS_1


__ADS_2