
Tidak tahu berapa lama menit telah berlalu sejak Freya menatap Lucas. Pria itu tengah sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, sementara Freya menemani Syakia belajar di ruang tengah.
Pria itu terlihat serius dengan kacamatanya. Freya baru menyadari bahwa Lucas belum berubah. Dia masih pria dingin dan serius. Jarang tersenyum dan semakin ketat mengekangnya. Yah, walaupun ketika baru bertemu lagi, Lucas sering tertawa tanpa alasan yang dia ketahui.
Tiba-tiba, Freya merasa dirinya bodoh. Tidak tahu apa pun mengenai Lucas padahal mereka sudah lama kenal. Saat itu, Freya hanya berfokus untuk membawa kembali Lucas yang lama. Ceria dan selalu memperhatikannya. Sampai dia tidak menyadari bahwa pria itu masih melakukan hal yang sama, yaitu melindunginya dengan cara yang berbeda.
Apakah waktu itu juga karena janjinya pada orangtuanya?
Merasa diperhatikan secara terus-menerus, pandangan Lucas bergeser dari laptop ke Freya. Wanita itu masih memandangnya, tetapi entah mengapa dia merasa jika pikiran Freya sedang tidak berada di tempat.
"Frey," panggilnya.
Wanita itu tersentak dan menjawab, "Ya?"
Alis Lucas berkedut. "Kenapa liatin aku?" Freya menggeleng pelan. Lucas kembali pada laptopnya, tapi istrinya itu memanggil namanya.
"Lucas?"
Pria itu mengangkat wajahnya. Freya diam. Matanya jatuh ke bawah, menatap lantai.
"Gak ada."
Sebenarnya, Freya ingin bertanya pada Lucas apa saja yang pria itu sembunyikan darinya. Mengapa dia bersikap dingin dan seolah-olah tidak peduli padanya? Mengapa dia harus melindungi dirinya dengan cara seperti itu?
Freya ingin bertanya banyak hal, tetapi gengsinya menahan dirinya untuk membuka mulut.
Lucas mengerutkan keningnya. Dia ingin kembali pada laptopnya, tapi tiba-tiba teringat sesuatu.
__ADS_1
Dia meletakkan laptop di atas meja. Lalu, menyuruh Freya untuk duduk di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Freya.
Lucas menunjuk laptop di depannya. "Kamu bilang mau kerja. Jadi, belajar ini dulu."
Freya melihat arah tunjuk Lucas dan sama sekali tidak paham apa yang tertulis di sana.
"Apa itu?" tanya Freya.
Lucas menyuruh Freya untuk duduk lebih dekat dengannya dan meminta wanita itu memperhatikan penjelasannya dengan baik.
Freya kurang paham, tapi dia berusaha untuk mengerti agar dirinya bisa mengelola perusahaan miliknya dengan baik tanpa bantuan Lucas lagi.
"Ini, ketik di bagian ini."
Lucas mengarahkan kursor ke bagian yang harus diperbaiki. Freya memperhatikannya dengan saksama hingga tanpa sadar, kepala mereka semakin dekat.
Jarak di antara keduanya sangat dekat. Mereka sama-sama terdiam menatap mata indah orang lain. Perlahan ... Lucas memberanikan diri untuk menghapus jarak tipis di antara mereka. Freya pun tak bergerak, membiarkan Lucas mendekatinya.
Ketika bibir hampir bersentuhan, sebuah tangan kecil mendorong bahu Lucas. Menyebabkan jarak setipis kertas itu melebar.
Freya segera membuang muka karena malu atas tindakan yang akan dilakukan oleh Lucas. Dia berpura-pura mengetik sesuatu di laptop.
Sementara itu, Lucas hendak memaki orang yang mengganggunya, tapi ketika dia melihat bahwa Syakia adalah pelakunya, Lucas tidak bisa marah.
Anak kecil ini benar-benar benci jika dia berdekatan dengan ibunya.
__ADS_1
"Hah. Anak kecil udah waktunya tidur," kata Lucas.
Syakia menatap ayahnya datar, lalu dia pergi ke ibunya dan mengajak Freya ke kamar. Bocah itu sudah lelah belajar dan dia ingin tidur sekarang.
Tanpa mengatakan apa pun, Freya langsung membawa Syakia ke kamar untuk menidurkan anak itu.
Sementara itu, Lucas mengusap kasar wajahnya. Dia hampir saja mencium Freya jika anak kecil itu tidak mengganggu momennya.
"Untung anak gue, kalo gak udah tamat dia."
Lucas merasa kecewa, entah pada dirinya sendiri atau pada hal yang dia sendiri tidak tahu apa itu.
Selesai meratapi nasibnya, Lucas kembali pada pekerjaannya dan melupakan kekesalannya.
...***...
"Mama yakin ini berhasil?" tanya Aurora.
Di sebuah bar mewah dengan nuansa elegan dan tenang, Aurora dan Mia duduk bersama sambil menikmati minuman dengan alkohol tingkat rendah.
Mia membalas sambil memutar gelasnya. "Pasti. Mama yakin. Freya itu gampang salah paham. Kalo gak, dia gak mungkin pergi dari Lucas."
Aurora diam sambil berpikir. Kemudian, dia mengangguk. "Ma, apa pertunangan ini bisa dilanjut kalo Freya dan Lucas pisah?"
Mia melirik Aurora dengan ujung matanya. Dia berdecak, "Kamu takutin apa, sih? Kalo udah pisah, Lucas gak punya alasan, dong. Dia harus lanjut sama kamu. Pak Oga udah jadi mitra bisnis Bryan selama ini. Dia sangat menghormati ayah kamu."
Aurora masih takut jika Lucas tetap menolaknya meski sudah pisah dengan Freya. Karena pria itu tidak pernah melihat ke arah dirinya, meskipun berbagai cara telah dia lakukan untuk mendapatkan hati pria tersebut.
__ADS_1
"Udah. Pokoknya kamu ikutin aja rencana Mama."
Aurora mengangguk patuh. "Iya, Ma."