Cold Love

Cold Love
Bab 16. Rasanya Sedingin Es, Sakit Jika Terlalu Lama Terkena Kulit


__ADS_3

Dua hari berlalu begitu saja. Kejadian di mana Lucas mengeluarkan amarahnya pada Freya, tidak memiliki perubahan apapun.


Lucas masih dengan Alana, sementara Jeremy masih mendekati Freya. Walaupun Freya tidak terlalu mengerti dengan alasan Lucas di hari itu, dia tetap mendengarkan peringatan Lucas. Setiap kali Jeremy berusaha berdiri di dekatnya, Freya akan menemukan banyak alasan untuk pergi dari sana.


Freya hanya ingin menyelamatkan dirinya. Mungkin di depannya, Jeremy terlihat baik. Bisa saja di belakang dia menjadi orang yang berbeda dari yang dia kenal selama ini. Oleh karena itu, demi kebaikannya, Freya akan menuruti perkataan Lucas untuk tidak terlalu dekat dengan Jeremy.


Setelah acara pentas seni selesai, Freya berencana untuk membicarakan tentang perjodohan itu dengan Bryan dan juga Lucas agar semua jelas. Freya tidak ingin menikah dengan orang yang tidak mencintainya. Meskipun dia mencintai Lucas, Freya tidak ingin memaksa Lucas, apalagi alasannya adalah karena orangtua mereka.


Acara pentas seni dimulai dengan acara formal. Dibuka oleh satu pembawa acara. Acara formal dibuka dengan penampilan tarian tradisional Betawi. Kemudian dilanjutkan dengan kata-kata sambutan dari kepala sekolah, dewan sekolah, dan para tamu undangan khusus. Selesai memberi beberapa patah kata, acara dilanjutkan dengan perlombaan. Berbagai macam sekolah menampilkan bakat para siswanya. Saling mengadu untuk menunjukkan siapa yang terbaik.


Hasil dari perlombaan akan diumumkan keesokan harinya. Maka itu, saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, acara pun berubah menjadi non-formal.


Para siswa yang sudah pulang di jam 5 sore, kembali lagi untuk melakukan pertunjukan. Kebanyakan dari mereka datang untuk menonton dan boleh memakai pakaian bebas. Berbeda pada saat acara formal, semua siswa harus memakai seragam sekolah.


"Aaaa! Lucas!"


"Woi! Minggir! Gue mau liat Lucas!"


"Aaaa! Jarang banget liat dia main gitar!"


"Kelas kalian emang the best! Aaaa! Lucas!"


Freya mengernyit. Sepertinya dia harus menyumpal telinganya dengan sesuatu yang bisa meredam teriakan orang-orang di sekitarnya.


Kelas Lucas tampil setelah kelas Freya. Jadi, gadis itu tidak lagi memiliki kesibukan. Dia bisa menonton penampilan Lucas malam ini.


"Kamu di sini, Freya."


Jeremy tiba-tiba muncul dan berdiri di sampingnya. Freya menoleh sebentar, kemudian dia kembali melihat ke arah panggung.


Di atas sana, Lucas sedang menyetel senar gitar. Teman-temannya yang lain pun mencoba menyesuaikan suara speaker dengan alat musik mereka.


Selain Lucas, ada satu orang lagi yang menarik perhatian Freya.


Itu adalah Alana. Gadis yang Freya pikir adalah pacar Lucas. Dia menjadi vokalis malam ini.

__ADS_1


Ternyata benar, mereka dekat karena urusan pentas seni. Ah, Freya merasa malu sekarang karena telah salah paham. Pulang nanti dia akan meminta maaf dengan benar pada Lucas.


Setelah selesai mengatur beberapa hal, mereka pun mulai serius.


Alana menarik mikrofon lebih dekat ke mulutnya. Penampilannya hari ini terlihat menarik. Rambut gelombangnya dibiarkan tergerai melewati bahunya. Alana memakai jaket jeans biru dongker dengan kaos putih di dalamnya serta celana panjang berwarna hitam.


Sebelum bernyanyi, Alana menyebutkan judul lagu yang akan mereka bawa. Itu adalah lagu milik Jorja Smith dengan judul Don't Watch Me Cry.


Alunan suara piano menjadi pembuka dari lagu ini. Nadanya lembut dan membawa perasaan sedih ketika mendengarkannya.


Petikan gitar menyahut, mencocokkan diri dengan irama piano.


Alana menarik napasnya. Sorot matanya sendu, seolah-olah dia sedang berbicara dengan seseorang.


"Oh, It's hurts the most


Cause i don't know the cause."


Begitu Alana mengeluarkan suaranya, tepuk tangan riuh memenuhi aula. Orang-orang bersorak, beberapa lelaki bersiul sebagai bentuk pujian.


Di tengah-tengah penonton, Freya juga ikut terpukau dengan suara Alana. Gadis itu memiliki wajah yang cantik. Penampilannya juga memikat. Wajar jika banyak orang menyukainya.


Apa iya Lucas gak punya rasa?


Dekat dengan gadis seperti Alana ... siapa yang tidak akan jatuh cinta?


"Suara Alana bagus, ya?"


Pertanyaan Jeremy menyadarkan Freya. Dia menoleh ke arah Jeremy.


"Iya. Bagus."


Setelah menjawab, Freya kembali melihat panggung. Jeremy pun tidak berkata apa-apa lagi dan ikut fokus menonton.


"I am not crying cause you left me on my own. I am not crying cause you left me with no warning. I am just crying cause i can't escape what could've been."

__ADS_1


Semua orang terhanyut dalam suara merdu milik Alana. Seakan-akan mereka tenggelam dalam lautan. Hati mereka terasa seperti dinginnya es, sakit jika terlalu lama terkena kulit. Sejuk, tapi memberi perasaan gundah.


"Freya," panggil Jeremy.


Freya hanya bergumam sebagai jawaban. Dia tidak ingin melihat Jeremy karena Lucas sedang bernyanyi sebagai suara kedua.


Cup!


Kecupan ringan Freya dapatkan. Spontan dia memalingkan wajahnya, melihat tepat pada Jeremy. Lelaki itu tersenyum tanpa rasa bersalah.


Freya memegang pipinya. Seumur hidupnya, orang yang dia izinkan untuk mencium pipinya adalah orangtuanya. Dulu, ketika Lucas masih bersikap manja padanya, dia pernah mencoba untuk mencium pipi Freya, tapi gadis itu menolak dengan mengatakan jika Lucas boleh melakukan itu saat mereka sudah menikah.


Kini, prinsip yang dia jaga sejak dulu telah rusak. Bagi Jeremy, mungkin itu hanyalah sekadar mencium pipi. Namun, bagi Freya itu bukanlah masalah kecil. Dia benar-benar menjaga dirinya untuk pasangannya di masa depan nanti.


Bukan sok suci, tapi setiap orang memiliki prinsip dan ini adalah prinsip Freya. Tidak akan membiarkan orang lain menyentuh dirinya, bahkan jika itu hanyalah sebuah kecupan biasa.


"Freya. Kamu mau jadi pacar aku?"


Tanpa meminta maaf atas tindakannya, Jeremy malah mengajak Freya untuk berkencan dengannya.


Apa-apaan itu?


Freya marah. Sangat marah pada Jeremy. Dia ingin menampar lelaki itu, tapi Freya sadar jika mereka berdiri di tengah-tengah keramaian.


"Freya!"


Jeremy berteriak memanggil Freya saat gadis itu membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan aula.


Freya tidak tahu apa yang terjadi dengan penampilan kelas Lucas karena tindakan sembrono Jeremy membuat pikirannya kacau.


Freya berlari keluar dari aula. Dia asal mengambil jalan, tidak tahu ke mana dia pergi. Freya benar-benar marah. Dia tidak ingin menangis untuk hal kecil ini, tapi hatinya sangat panas.


Hanya sebuah kecupan di pipi, tapi mampu membuat amarah Freya mencapai batasnya.


Sebelum air matanya datang, Freya harus pergi ke toilet. Dia ingin menghapus jejak bibir Jeremy dari pipinya.

__ADS_1


Akan tetapi, saat dia akan pergi ke toilet, tangannya ditarik oleh seseorang.


Freya mengira itu adalah Jeremy yang datang mengejarnya. Dia hendak meneriaki Jeremy, tapi begitu dia berbalik ... Freya mendapati Lucas berdiri di belakangnya dengan wajah mengerikan.


__ADS_2