
Kampus sibuk seperti biasa.
Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang baru saja datang dan ada juga yang akan pergi. Semuanya berpapasan, tapi tidak saling menyapa.
Di pinggiran koridor gedung fakultas yang luas, beberapa unit kegiatan mahasiswa mendirikan stan penerimaan anggota baru. Dua orang dari setiap stan bertugas menyebarkan brosur. Para mahasiswa baru yang melewati stan mereka akan mendapatkan satu brosur untuk dilihat.
"Ayo, gabung di kegiatan kami!"
"Ini, Dek. Liat dulu brosurnya. Siapa tau tertarik."
"Silakan."
"Ayo! Gabung sama kami! Kakak seniornya ganteng-ganteng dan cantik-cantik, loh! Lumayan bisa cuci mata."
Salah satu mahasiswa berdiri di depan stan UKM Teater dengan satu pengeras suara di tangan kanannya yang dia letakkan di depan mulut.
Orang-orang yang mendirikan stan di dekat mereka pun merasa terganggu, tapi tidak bisa melakukan apapun karena fakultas tidak melarang penggunaan pengeras suara untuk mempromosikan unit kegiatan mereka.
"Eh, Dek. Ayo, gabung di olahraga basket. Badan kamu tinggi, loh. Cocok di basket. Kampus juga wajibkan semua mahasiswa untuk ambil satu UKM olahraga, loh. Tertarik?"
Lucas baru saja tiba di fakultasnya pada jam setengah dua. Kelasnya berada di lantai tiga, gedung fakultas ekonomi dan bisnis tidaklah kecil. Setidaknya untuk berjalan ke kelasnya menghabiskan waktu lima menit dan itu sudah termasuk menaiki lift.
"Ayo, Dek. Dilihat dulu brosurnya."
Seorang kakak senior laki-laki menahan jalan Lucas. Demi sopan santun yang ayahnya ajarkan pada Lucas, lelaki itu mengambil brosur tersebut dan membacanya sebentar.
"Kegiatan, olahraga ... basket. Mau ikut?"
Lucas menoleh ke bahunya dan mendapati wajah seorang laki-laki yang tidak dia kenal ikut membaca brosur bersamanya.
Lelaki itu tidak menjauhkan kepalanya. Selesai membaca kalimat di brosur, dia melontarkan pandangannya pada Lucas.
Dia tertawa kecil. "Lo mau ikut?" Lelaki itu menarik dirinya dari Lucas, "badan lo bagus. Mantan atlet?"
Lucas menarik matanya dari lelaki itu dan melihat brosur sekali lagi. Dia menjawab pertanyaan lelaki itu dengan datar.
"Bukan. Cuma pernah main basket "
Mendengar itu, kakak senior tadi cepat-cepat bergabung dalam percakapan mereka.
"Kalo gitu bagus, dong! Ayo, ikut lagi! Udah ada pengalaman sebelumnya bakal lebih mudah. Kamu bisa langsung jadi anggota inti tanpa perlu belajar dasar."
Lucas tidak menjawab, melainkan lelaki di belakangnya yang menimpali. Seolah sudah berteman lama, lelaki itu meletakkan lengannya di atas bahu kanan Lucas.
"Kak, kami berdua mau gabung."
__ADS_1
Mata kakak senior itu bersinar. "Oke! Daftar langsung di sini! Tenang aja. Pendaftaran gratis gak dipungut biaya."
Lucas melirik lelaki itu dengan datar dan sedikit kerutan muncul di keningnya.
Tidak kenal, tapi tingkahnya sudah seperti sahabat lama.
"Eh, nama lo siapa? Biar gue tulis." Lelaki itu membungkuk, kemudian baru ingat jika dia tidak tahu nama Lucas.
Kakak senior tadi masih tersenyum lebar, tapi langsung kebingungan ketika mengetahui keduanya tidak saling kenal.
"Lucas Vermilion."
"Oke."
Lelaki itu menulis nama Lucas dan membantunya mengisi biodata yang dibutuhkan.
"Terima kasih. Nanti akan dihubungi untuk info lebih lanjut."
"Iya, Kak. Makasih kembali." Lelaki itu berbalik pada Lucas. Merangkul bahunya. "Ayo!"
Baru dua langkah dia diseret lelaki asing itu, Lucas melepaskan rangkulannya. Dia menatap datar lelaki itu.
"Hehe. Jangan marah. Gue Daniel Crimson. Kita sekelas kemarin. Lo gak liat muka gue?"
Lucas melirik lelaki itu dengan ujung matanya. Kemudian dia membuang muka, lanjut berjalan.
Lucas tidak terlalu memedulikan lelaki aneh di belakangnya. Sampai di depan lift pun, Daniel masih mengejarnya.
"Lo sekarang masuk kelas Pak Santo 'kan? Kita sekelas lagi."
Lucas menekan tombol lift dan menunggunya terbuka. Sementara itu, di sampingnya, Daniel sudah berdiri tegak sehabis membenarkan letak tasnya di bahu.
Lelaki itu melirik Lucas. "Kenapa lo mau daftar tadi? Gue kira lo bakal nolak dan langsung pergi."
Lucas diam sejenak sebelum menjawab, "Gue pergi, lo bakal tarik lagi."
Daniel tertawa kencang. Lucas melihat ke sekitar dan untungnya daerah tempat mereka berdiri tidak terlalu banyak orang. Namun, tetap saja suara tawa Daniel mengejutkan orang-orang di dekat mereka.
Lucas menghela napas tepat saat pintu lift terbuka. Dia langsung masuk dan diikuti oleh Daniel.
"Belum beberapa menit lo ketemu gue. Udah tau aja sifat gue gimana. Hahaha!"
Daniel masih belum menghentikan tawanya. Pintu lift tertutup dan menyisakan mereka berdua di dalam.
"Selain di kelas, gue juga liat lo pertama kali pas orientasi. Senior nyuruh kita untuk kenalan satu sama lain, tapi cuma lo doang yang gak bergerak. Awalnya, gue kira lo anti sosial, tapi setelah gue terawang lagi kayaknya enggak."
__ADS_1
Lucas masih diam dan membiarkan Daniel mengoceh sesuka hatinya.
Didiami seperti itu, Daniel mendekatkan wajahnya ke telinga Lucas. Dia berbisik, "Lo gak percaya sama orang lain 'kan?"
Lucas memukul dada Daniel sedikit kuat membuat orang yang terkena siku Lucas terdorong selangkah ke belakang.
"Kalo lo tau itu ... menjauh dari gue," kata Lucas tanpa berbalik ke belakang.
Daniel tertawa lagi. "Kita sama. Jadi, cocok untuk jadi temen 'kan?"
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Sudah ada sekitar tiga orang yang menunggu. Lucas segera keluar mengabaikan Daniel yang masih mengikutinya di belakang.
...***...
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Banyak hal yang dilalui oleh Lucas hari ini. Bertemu dengan Daniel adalah salah satu alasan kepalanya sakit. Dua mata kuliah hari ini dia terus bersama dengan lelaki itu.
Bukan masalah besar sebenarnya, tapi lelaki itu tidak bisa menutup mulutnya sama sekali. Dari tampangnya saja Lucas tidak bisa memercayainya. Menjaga jarak pun tidak berguna karena ke mana pun dia melangkah, Daniel akan menginjak di tempat yang sama.
Orang itu aneh dan licik. Tidak tahu apa yang dia inginkan dengan meminta Lucas menjadi temannya.
Pulang dari kampus, Lucas diminta oleh Bryan untuk segera ke perusahaan. Ada rapat mendadak dengan klien luar negeri dan dia harus hadir untuk mempresentasikan proyek mereka.
Sesampainya di rumah, dia melihat Freya sudah tertidur di sofa ruang tengah. Televisi masih menyala dengan volume yang kecil. Lucas melihat Freya sebentar, kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air.
Di meja makan, terdapat beberapa makanan yang telah ditutup menggunakan plastik. Itu semua adalah makanan kesukaan Lucas. Dia menduga jika Freya yang menyiapkan semua ini. Setiap kali dia pulang larut, Freya akan menunggunya di sofa tidak peduli jam berapa pun itu.
Biasanya wanita itu masih terjaga ketika dia pulang larut. Lucas mendekati Freya setelah meletakkan tas nya di meja makan.
Lelaki itu memperhatikan wajah istrinya. Freya tampak lelah dalam tidurnya. Mungkin hari ini dia punya banyak kegiatan. Terutama mereka bukan lagi siswa, melainkan mahasiswa yang aktivitasnya lebih banyak dibandingkan ketika mereka masih sekolah.
Lucas bergerak lebih dekat. Menyusupkan kedua lengannya di belakang punggung Freya dan juga lipatan kakinya. Mengangkat tubuh Freya pelan-pelan agar wanita itu tidak terbangun. Lalu, membawanya menuju kamar.
Lucas memiringkan sedikit tubuhnya, berusaha meraih gagang pintu dengan tangan yang berada di punggung Freya. Wanita itu sedikit menggeliat di atas lengannya, tapi tidak membuka mata sama sekali.
Lucas berhasil membuka pintu. Dia membawa Freya ke kamar tanpa menutup pintu. Kemudian, dia membaringkan Freya secara perlahan. Membenarkan posisi tidurnya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Freya.
Lucas melihat ke atas dan menarik tali lampu untuk menghidupkan cahaya lampu tidur. Kemudian dia mematikan lampu utama. Membiarkan kamar mereka disinari cahaya remang-remang lampu tidur.
Freya bergerak sedikit, mencari posisi nyaman. Dia menarik selimut lebih dekat ke wajahnya. Memiringkan tubuhnya tanpa sadar ke arah Lucas.
Lelaki itu menatap istrinya yang tertidur. Dia menekuk lututnya, membungkuk sampai wajahnya sejajar dengan wajah Freya.
"Selamat malam."
__ADS_1
Lucas mencium pipi Freya sebelum kembali ke dapur untuk makan malam.