Cold Love

Cold Love
Bab 51. Melihatnya Bersama Dengan Orang Lain


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak Freya bertemu dengan Mia. Selama itu juga dia memikirkan sekaligus memperhatikan perilaku Lucas terhadapnya. Di ruang tengah yang sepi tanpa ada siapa pun di sana, Freya duduk termenung seorang diri.


Freya tidak tahu apakah ini hanya perasaannya yang goyah karena omongan Mia atau memang benar kenyataannya seperti itu. Sejak dia menandatangani surat yang tidak dia ketahui itu, Lucas menjadi lebih dingin.


Dia, bahkan tidak memiliki waktu sama sekali untuk Freya. Namun, jika dipikirkan lagi . . . sepertinya mereka tidak pernah menghabiskan waktu hanya berdua.


Mereka berada di rumah yang sama. Kamar yang sama dan juga satu jurusan. Akan tetapi, mereka jarang bersama.


Perkataan Mia yang paling membuat Freya tertekan ialah pertanyaan yang diajukan untuknya.


"Freya, apa Lucas pernah bilang cinta sama kamu?"


Pernahkah?


Sejauh apa pun Freya mencari di dalam ingatannya, dia tidak menemukan kalimat cinta dari Lucas. Tidak sama sekali.


"Freya. Siap-siap cepat. Satu jam lagi kita pergi ke acara Pak Oga."


Lamunan Freya buyar begitu saja ketika Lucas datang dari kamar untuk memanggilnya.


Freya mengangguk sambil tersenyum tipis. Kemudian dia berdiri dari duduknya dan pergi ke kamar untuk bersiap.


...***...


Pesta perayaan atas keberhasilan proyek yang dipegang oleh Lucas diadakan di gedung mewah milik Pak Oga.


Pria tua itu sangat bahagia dengan keuntungan yang dia dapatkan dari proyek tersebut sehingga dia ingin merayakannya bersama dengan orang-orang yang terlibat. Selain mereka, Pak Oga juga mengundang banyak koleganya. Ruangan tersebut kini dipenuhi oleh banyak orang penting.


Lucas dan Freya baru saja sampai. Bryan sudah tiba terlebih dahulu, tetapi pria itu tidak bisa berlama-lama karena kebetulan dia harus segera kembali ke perusahaan untuk bertemu dengan klien dari luar negeri.


Bryan berpapasan dengan Lucas dan Freya saat keluar dari pintu masuk. Mereka bertukar kata sebentar, lalu Bryan menyuruh keduanya untuk segera masuk sementara dirinya kembali ke kantor.


Di pintu masuk, terlihat Pak Oga bersama dengan istrinya berdiri berdampingan. Bersalaman dan menempelkan pipi satu sama lain saat menyambut kedatangan tamu. Pria paruh baya itu tersenyum lebar disertai tawa khas pria tua.


"Oh? Lucas? Cepat ke sini."


Pak Oga memanggil Lucas begitu dia melihat sosoknya. Lucas berjalan santai menghampiri Pak Oga sementara di belakangnya Freya mengikuti langkahnya.


"Ini dia bintang kita hari ini."


Lucas disambut dengan baik oleh Pak Oga, bahkan dia sampai dipuji secara berlebihan seperti itu. Senyuman kecil dia lontarkan pada Pak Oga dan juga istrinya yang berdiri di sebelah pria itu.


"Saya suka kinerja kamu. Kalo bukan anak Bryan, udah lama saya tarik kamu ke perusahaan saya. Hahaha."

__ADS_1


Pria itu tertawa, berkata seolah itu adalah sebuah candaan. Padahal sebenarnya Lucas tahu jika Pak Oga bisa saja melakukannya, bahkan ketika dia mengetahui bahwa Lucas adalah anak dari Bryan.


Lucas tertawa kecil, tidak membalas apa pun yang dikatakan oleh Pak Oga. Kemudian, dia melihat pria tua itu tiba-tiba berhenti tertawa. Seperti tengah berada dalam kebingungan, dia melihat ke belakang Lucas.


Mengikuti arah pandang Pak Oga, Lucas memutar kepalanya dan mendapati jika Pak Oga tengah melihat Freya.


"Kalian masih berdua?" tanyanya.


Lucas menaruh pandangannya pada Pak Oga. Dia balik bertanya dengan kerutan di wajahnya. "Maksudnya, Pak?"


"Oh? Gak ada apa-apa. Ayo, silakan. Masuk dulu. Banyak orang yang udah nunggu kamu, loh."


Pak Oga langsung mengalihkan pembicaraan saat mendapati ekspresi bingung di wajah Lucas. Lelaki itu pun juga tidak ingin bertanya lebih lanjut. Dia berjalan ke depan dengan Freya yang masih setia mengikuti di belakangnya.


Namun, seperti deja vu. Lucas bertemu dengan Mia begitu dia melewati pintu masuk. Bedanya ialah, Mia tengah bersama Aurora. Wanita itu terlihat awet muda dengan gaun hitamnya yang berkilau.


"Lucas, selamat atas keberhasilan proyek kamu. Mama udah yakin banget kalo kamu bisa."


Mia datang menyapa dan berbicara pada Lucas seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada hubungan mereka. Mia tampak tutup mata dan telinga atas semua penolakan Lucas. Bertingkah seperti hal itu tidak pernah dia dapatkan.


Lucas membuang pandangannya. Dia hendak pergi, tetapi Mia menghalanginya. "Kamu sapa klien sana. Sebelum pergi, Bryan nitip sama Mama untuk bilang ke kamu. Ada Aurora juga, cepat pergi sama dia. Orang-orang udah nunggu kamu."


Lucas melirik ke arah Aurora. Wanita itu mengenakan gaun berwarna biru dongker. Rambutnya yang diikat ke atas menambah kesan elegan pada dirinya.


"Nah. Cepat pergi sana. Aurora, Mama minta tolong buat perhatiin Lucas, ya? Jangan sampai dia malah gak sapa mereka."


Aurora melirik Freya perlahan. Dia merasa tidak enak memanggil Mia dengan sebutan mama di depan wanita itu yang notabene adalah menantu Mia.


"Iya, Tante," jawabnya sambil melihat Mia.


Muka Mia berkerut. Dia membalas, "Mama kan udah bilang. Jangan panggil Tante. Panggil Mama aja, oke?"


Aurora melihat Lucas dan Freya secara bergantian sebelum dia mengangguk. "Iya, Ma."


Lucas mengernyitkan dahinya, begitu juga dengan Freya. Mereka tidak ada hubungan apa-apa, tetapi mengapa Mia memaksa Aurora memanggil dirinya Mama?


Lucas tidak ingin ambil pusing karena hal yang menurutnya tidak penting itu. Dia melihat Freya, lalu menyuruhnya untuk mencari meja kosong dan menunggu dirinya di sana.


Freya mengangguk. Setelah Lucas pergi bersama Aurora, Freya ingin segera mencari meja agar tidak tinggal berdua dengan Mia.


Akan tetapi, pergerakan wanita itu lebih cepat. Dia menahan Freya dengan pertanyaannya. "Kamu udah liat dokumennya?"


Freya kembali berdiri tegak. Jari-jarinya saling terpaut di depan perutnya. Matanya bergerak-gerak gelisah. Lalu, dia menjawab, "Belum, Tante."

__ADS_1


"Kenapa belum? Oh, ya. Tante liat dokumen itu di kantor Bryan, sih. Mungkin dia gak bawa pulang dokumen itu. Yah, tapi gak masalah. Lama-lama juga bakal ketahuan."


Mia berkata dengan santai seolah itu bukanlah hal yang besar. Pada kenyataannya, itu memberi keuntungan untuk Mia.


Bagi Freya, hal yang lebih membuat hatinya terluka ialah Lucas yang tidak mencintainya. Dia ingin bertanya, tetapi belum menemukan waktu yang tepat.


Di saat dia sedang gelisah, Mia semakin mengomporinya. "Lucas bakal ceraikan kamu kalo dia udah sah jadi pemegang seluruh aset Zehan. Terus dia bakal nikah sama Aurora yang levelnya itu jauh kalo dibandingin sama kamu. Liat aja dari pakaian malam ini. Kenapa kamu gak pakai gaun, sih? Setidaknya pas sama Lucas."


Freya melihat bajunya sendiri. Dia tidak memakai gaun karena Lucas tidak memberinya izin. Jadi, dia hanya mengenakan baju blouse abu-abu dengan celana panjang berwarna hitam.


"Lucas gak bolehin Freya pakai gaun, Tante. Makanya Freya pakai baju seadanya."


Mia tersedak oleh tawanya. "Huh! Itu berarti dia gak mau kamu datang, tapi daripada kamu ditinggal sendirian, ya . . . dia ajak kamu."


Freya mulai merasa semua omongan Mia mulai terdengar seperti bualan. Dia tidak melihat kehidupan mereka secara langsung, tapi dengan sesuka hati menebak-nebak pemikiran mereka.


"Freya. Sebenarnya, Tante gak mau bilang semua itu ke kamu, tapi karena Tante peduli makanya Tante harus bilang itu ke kamu. Seenggaknya kamu bisa sadar lah. Kamu yang sekarang itu gak ada apa-apanya. Gak sebanding dengan Lucas yang sebentar lagi bakal jadi pria yang sukses dan terpandang."


Semakin banyak Freya mendengar ocehan Mia, hatinya semakin tergores. Dia tidak tahu kapan wanita di depannya ini akan berhenti merendahkannya.


"Tante mau pergi dulu. Kamu harus cerna baik-baik apa yang Tante bilang tadi, oke?"


Entah berapa lama Mia menahan Freya, akhirnya wanita itu pergi meninggalkannya sendiri.


Freya meraup oksigen sebanyak yang dia bisa. Keberadaan Mia membuat dadanya sulit menarik napas. Freya tidak tahu mengapa sifat Mia semakin parah. Apakah mungkin itu adalah sifat aslinya yang tidak pernah dia lihat di masa lalu?


Pusing memikirkan omongan Mia, Freya bergegas mencari Lucas. Dia tidak ingin berada di pesta ini terlalu lama. Freya baru sadar saat Mia mengomentari pakaiannya.


Semua orang yang ada di sini memakai gaun dan jas, sementara dirinya hanya mengenakan pakaian biasa. Freya ingin segera pulang. Jika Lucas masih harus berada di sini maka dia akan pamit untuk pulang lebih awal.


Freya mencari ke segala arah, tetapi tidak menemukan keberadaan Lucas. Dia juga tidak melihat sosok Aurora.


Ke mana mereka?


Freya terus berjalan hingga dia tiba di pintu menuju kolam renang yang berada di dalam gedung tersebut, tetapi atasnya beratapkan langit sehingga cahaya bulan memantul di atas permukaan air.


Freya hendak membuka pintu tersebut untuk mencari Lucas. Namun, dia tidak sengaja melihat sosok Lucas dan juga Aurora yang berdiri saling berhadapan. Dari sudut pandang Freya, wajah Lucas tampak serius.


Lalu, tiba-tiba . . . Aurora melangkah dengan cepat dan memeluk erat Lucas. Kemudian, seperti tanpa jeda . . . Freya melihat Aurora berjinjit untuk mencium Lucas.


 


Cover baru ^^

__ADS_1



__ADS_2