
Waktu berlalu begitu cepat. Banyak hal di dunia ini yang berubah. Usia, kesehatan, tingkah laku, semua hal akan berubah pada waktunya.
Dulu, mungkin dua sejoli bisa saling mencintai dan menjalani hubungan romantis. Namun, seiring berjalannya waktu, cinta dan kasih sayang yang hanya ditujukan untuk satu orang perlahan memudar.
Entah karena bosan, tidak memiliki rasa lagi, atau karena terlalu mencintai. Semua itu akan berbeda di setiap detiknya.
Dulu, keluarga Lucas sering mengalami naik turun. Terkadang mereka di atas dan terkadang mereka bisa berada di titik paling bawah. Namun, karena kekuatan dan kemampuan Bryan, keluarga mereka bisa bertahan.
Bryan mencintai Mia dan Lucas. Dua sosok itu yang menjadi penyemangatnya selama ini. Ditambah dengan Freya yang mulai tinggal bersama mereka, kini alasan Bryan untuk bekerja keras semakin menguat.
Lucas dan Freya menginjak usia 15 tahun. Mereka bersekolah di tempat yang sama. Ketika ditanya oleh Bryan ke mana dia ingin melanjutkan sekolah, Lucas akan pergi bertanya pada Freya terlebih dahulu. Karena ke mana pun Freya pergi, Lucas akan selalu menemaninya.
Lucas masih ceria di umurnya saat ini. Bersama dengan Freya, mereka akan pergi ke taman di sore hari untuk bermain sambil menunggu kedua orangtuanya selesai bekerja.
Semua baik-baik saja saat itu hingga suatu hari, Bryan dan Mia mulai bertengkar hebat. Awalnya, Lucas mengira itu hanyalah pertengkaran biasa karena ibu dan ayahnya sering bertengkar dulu ketika ekonomi mereka sedang di bawah standar.
Akan tetapi, pertengkaran kali ini disebabkan oleh hal lain.
Mia selingkuh dan Lucas melihatnya secara langsung.
Sore itu, seperti biasa. Lucas dan Freya bermain di taman, tapi mereka tidak menunggu sampai orangtuanya datang menjemput mereka. Lucas mengajak Freya untuk pulang dengan berjalan kaki karena ingin merasakan angin yang bertiup.
Freya mengiyakan dan mereka berjalan dengan pelan. Menikmati hembusan angin menerpa wajah mereka.
Saat keduanya hampir tiba di rumah, Lucas melihat ibunya keluar dari mobil bersama dengan pria asing yang tidak pernah dilihat oleh Lucas.
Mata kedua bocah itu melebar ketika melihat pipi Mia dicium oleh lelaki itu. Ibunya terlihat bahagia ketika pipinya dicium.
Dalam pandangan Lucas, mereka terlihat mesra. Setelah pria itu pergi, Lucas langsung berlari menghampiri ibunya dan bertanya siapa lelaki itu.
Tanpa rasa bersalah, ibunya menjawab, "Dia calon ayah tirimu."
Seperti didorong ke dalam lautan, napas Lucas menjadi sesak. Dia kesulitan bernapas.
Apa yang ibunya maksud dengan ayah tiri? Sejak kapan dia akan memiliki ayah tiri? Dia masih punya ayah kandung. Bryan adalah ayahnya. Jadi, untuk apa dia memiliki ayah tiri?
Di sampingnya, Freya yang sudah lebih pendek dari Lucas pun menyentuh bahu Lucas. Mengembalikan kesadaran anak itu ke dunia nyata.
"Lucas. Mungkin Tante Mia cuma bercanda. Itu temennya kali."
Lucas masih terngiang dengan ucapan ibunya, tapi mendengar Freya mencoba menghiburnya dia pun tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Frey. Mungkin Mama bercanda."
Kedua anak itu pun memasuki rumah, menyusul Mia yang sudah masuk terlebih dahulu.
Namun, tidak seperti apa yang dikatakan oleh Freya ... ibunya memang berselingkuh. Lelaki yang mereka lihat adalah selingkuhan ibunya.
Bryan dan Mia kembali bertengkar dan tidak lagi menahan diri, bahkan di depan anak mereka.
Lucas melihat pertengkaran orangtuanya di meja makan. Freya mengelus lembut tangan Lucas dan mengajaknya untuk pergi.
Lucas mengangguk dan bersiap untuk pergi, tapi kalimat ibunya membuat tubuhnya membeku.
"Aku mau cerai! Aku muak sama kamu. Benar-benar bosan! Udah cukup. Aku gak mau lihat muka kamu lagi!"
Setelah berteriak meminta perceraian, Mia pergi menuju kamarnya dan membereskan semua pakaian. Dia tidak malu lagi untuk meminta kekasih barunya menjemput dia. Membawa dirinya pergi dari rumah. Tidak peduli dengan ekspresi terluka yang dikeluarkan oleh Lucas.
Lucas tidak mengerti. Mengapa ibunya meninggalkan ayahnya yang sudah berusaha keras menjaga mereka. Mengapa ibunya pergi, bahkan di saat ayahnya menunjukkan kasih sayang dan cintanya pada ibunya. Mengapa ibunya tidak tahu berterima kasih?
"Lucas," panggil Freya. Lucas bergeming. Pikirannya sibuk mencerna semua yang terjadi. Dia tidak sempat menoleh untuk melihat Freya yang menatapnya sendu.
Bryan menggosok kuat wajahnya. Napas berat keluar dari mulutnya. Kantung mata yang terlihat jelas di wajahnya menunjukkan jika dia lelah. Pikiran dan fisiknya letih. Salah satu penyemangatnya telah pergi dan di sini, Bryan hanya menatap Lucas dan Freya. Memaksakan senyuman pahit yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Lucas. Maaf, Papa gak bisa nahan mamamu."
"Gak papa. Mama juga gak pantas untuk Papa."
Di malam itu, Lucas yang ceria berubah menjadi pribadi yang dingin.
...***...
Sidang perceraian pun dilaksanakan. Dua minggu setelah Mia meminta cerai, akhirnya mereka berdua telah resmi berpisah.
Mengenai hak asuh anak, Mia ingin Lucas tinggal bersamanya, sedangkan Freya tetap bersama Bryan. Namun, Lucas menolak permintaan ibunya.
Dia berkata tanpa senyuman di wajahnya. Menatap ibu dan lelaki yang merupakan selingkuhan ibunya dengan datar.
"Gak. Aku bakal tinggal bareng Papa. Aku gak sudi tinggal dengan orang yang gak tau terima kasih. Apalagi ada benalu di sana."
Kata-kata Lucas cukup tajam dan menyayat hati untuk anak seumurannya. Mereka berbicara setelah selesai persidangan, masih berharap Lucas mau tinggal bersama dengan Mia.
Akan tetapi, Mia malah mendapatkan jawaban kasar dari anaknya. Dia membentak Lucas. "Sejak kapan mulut kamu jadi kurang ajar begini? Baru dua minggu Mama tinggalin, tingkah kamu udah busuk kayak gini. Bryan! Kamu ajarin apa anak ini, ha?"
__ADS_1
Bryan membuang napasnya lagi. Dia mengikuti apapun kemauan Mia selama mereka tidak perlu berdebat, tapi tetap saja. Mantan istrinya ini selalu menemukan sesuatu untuk berdebat dengannya.
"Jangan salahin Papa. Masih bagus aku mau manggil Anda dengan sebutan Mama. Jangan berharap aku tinggal bareng Mama. Sampai kapan pun aku gak akan mau."
"LUCAS!"
Seakan rambutnya terbakar oleh pengering rambut yang rusak, dia berteriak memanggil Lucas. Suaranya memenuhi koridor lantai tersebut.
Lucas berlari menuruni tangga. Dia ingin menangis, tapi dia tidak ingin membuang air mata untuk ibunya yang telah mengkhianati keluarganya. Dia berlari sampai tiba di halaman belakang kantor hukum tersebut.
Lucas merasa sangat kesal.
Di depannya terdapat kursi panjang yang kosong. Dia berjalan ke sana dan duduk merenung.
Ibunya bodoh karena meninggalkan ayahnya hanya karena lelaki berwajah jelek itu.
Bagi Lucas, semua pria jelek. Hanya dia dan ayahnya yang tampan.
Ayahnya yang malang. Memberikan dedikasi tinggi untuk keluarga, tetapi dengan gampangnya dia disakiti.
Lucas tidak tahu harus berbuat apa jika dia berada di posisi ayahnya.
Pasti rasanya lebih menyakitkan daripada yang dia rasakan.
"Lucas? Kamu baik-baik aja?"
Lucas menoleh ke samping dan mendapati Freya duduk di sebelahnya.
Ah, dia masih memiliki Freya. Ayahnya masih punya satu penyemangat lagi.
Lucas tidak merespon dan kembali melihat ke depan.
Anak perempuan itu memerhatikan wajah Lucas. Dia paham dengan apa yang dirasakan oleh Lucas. Ditinggalkan oleh orangtua kita memang sangat menyakitkan.
Freya juga tidak tahu harus berkata apa selain menepuk pelan punggung Lucas. Berharap bisa memberikannya kekuatan.
"Sabar, ya, Lucas. Masih ada aku dan Papa kamu di sini."
Lucas melihat teman masa kecilnya ini. Setiap kali dia merasa pundung, Freya akan datang dan menepuk bahu atau punggungnya. Berusaha keras memberikan kenyamanan dan semangat pada diri Lucas.
Anak itu terus melihat temannya. Sebuah jawaban dari pertanyaannya pun akhirnya dia temukan.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun pada Freya, Lucas beranjak pergi dari tempat itu.