
Lucas perlahan membuka matanya. Cahaya mentari yang menembus gorden menyakiti penglihatannya. Dia menyentak wajahnya ke samping, menghindari sinar yang mengganggu tidurnya. Akan tetapi, tindakan itu malah membuat otaknya seolah bergeser. Pusing kembali melanda, kepalanya dalam sekejap berdengung.
Lucas mencoba untuk membangunkan dirinya sendiri. Memegang kepalanya agar tidak terlalu sakit. Setelah berhasil, dia duduk bersandar di kepala ranjang. Pusing yang dirasakannya membuat Lucas belum bisa membuka mata sepenuhnya. Namun, dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Kulitnya terasa dingin seperti terkena udara AC secara langsung.
Lucas menarik pelupuk matanya ke atas. Dia mengintip ke bawah untuk melihat tubuhnya. Lalu . . . garis halus pun muncul di dahinya. Hal yang dia dapati begitu membuka mata adalah dia tidak memakai apa pun di tubuhnya.
"Kenapa gue ... ."
Pertanyaan itu tergantung begitu saja di mulutnya. Wajahnya berkerut saat kepalanya berdenging. Samar-samar beberapa potong ingatan yang dia lupakan mulai bermunculan. Memori memalukan pun terlihat jelas.
Daniel ... .
Lucas belum mengingat semuanya. Yang dia ingat adalah dia berlari ke pelanggan lain untuk mencuri minuman mereka karena Daniel menghalanginya untuk minum lagi.
Sial! Dia benar-benar malu. Terlebih, Lucas tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Bagaimana dia bisa pulang ke rumah dan tidak memakai baju sama sekali. Pertanyaan bodoh pun muncul di benaknya. Apa dia tanpa sadar membuka bajunya di bar, lalu berlari ke rumah tanpa pakaian?
Ah, tapi untuk yang satu itu sepertinya mustahil. Jarak rumahnya dan bar yang dia datangi semalam cukup jauh. Jadi, sudah pasti ada seseorang yang membawanya pulang.
Dalam kebingungannya, pintu kamar dibuka oleh seseorang. Tanpa perlu melihat ke arah pintu, Lucas sudah tahu jika itu Freya. Karena Bryan maupun Bi Surni tidak pernah langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Lucas?" Dari arah pintu, setengah badan Freya mengintip ke dalam kamar sambil memanggil Lucas.
Lucas melihat Freya sebagai bentuk jawaban dari panggilan istrinya.
Freya masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk sup hangat beserta satu gelas air putih. Kemudian, dia meletakkan nampan tersebut di atas nakas.
"Masih pusing?" Freya bertanya sambil duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya terangkat untuk menyentuh dahi Lucas. Memastikan jika lelaki itu tidak mengalami demam.
Lucas mengangguk sekali. Kepalanya masih pusing dan dia ingin kembali tidur. Namun, matanya yang menunduk tanpa sengaja melihat pergelangan tangan Freya. Wanita itu memakai baju lengan pendek sehingga dia bisa melihat dengan jelas kulit tangannya yang merah, ditambah bentuknya seperti bekas cengkeraman tangan seseorang.
Dia spontan bertanya, "Tangan kamu kenapa?"
Ditanya secara tiba-tiba seperti itu membuat Freya tersentak. Dia melihat ke arah tangannya sendiri dan baru menyadari jika pergelangan tangannya memerah.
Freya buru-buru menutupnya dengan tangan yang lain. Akan tetapi, itu tidak berguna sama sekali karena kedua tangannya dalam keadaan yang sama.
Lucas masih menunggu jawaban Freya, tetapi istrinya itu tidak berniat menjawab apa yang dia tanyakan.
"Siapa yang— akh!"
Saat dia ingin bertanya lagi, kepalanya mendadak sakit kembali dan sekilas bayangan muncul di dalam matanya yang terpejam. Seketika dia ingin memukul wajahnya sendiri dengan kuat saat mengingat potongan ingatan tersebut.
Bodoh! Pelakunya gue sendiri.
"Lucas!" Freya menyentuh punggung Lucas. Air mukanya kuyu dan khawatir. Dia mengelus lembut pundak lelaki itu berharap dapat membantu mengurangi rasa sakitnya.
Lucas melihat Freya sejenak sebelum kembali berbaring. Kepalanya pusing hari ini dan untung saja mereka sudah memasuki minggu libur sehingga Lucas bisa beristirahat.
"Lucas, jangan tidur dulu. Minum air sama makan dulu, ya? Biar gak pusing lagi."
"Nanti."
"Lucas, supnya ntar gak hangat lagi."
"Nanti."
Freya menghela napas lelah karena mendapat penolakan Lucas. Dia mencoba memaksa Lucas sekali lagi. Jika dia tetap ditolak maka Freya akan keluar dari kamar dan membiarkan Lucas sendirian.
__ADS_1
"Lucas. Kalo supnya dingin udah gak enak lagi."
"Aku suka dingin."
Mendapatkan penolakan lagi, akhirnya Freya pasrah dan tidak memaksa Lucas kembali. Dia keluar dari kamar dan memberikan ruang untuk Lucas beristirahat.
...***...
Dua hari telah berlalu dan Lucas sudah dalam kondisi yang baik.
Meski sedang dalam masa libur kuliah, bukan berarti perusahaan pun ikut libur. Banyak tugas yang harus Lucas selesaikan di meja kerjanya. Dua hari izin tidak masuk sudah cukup bagi kertas-kertas itu bertumpuk di sana.
"Yo! Lucas. Gimana kepala lo? Masih pusing?"
Daniel datang ke ruangannya dengan membuka pintu sesuka hati. Tidak mengetuk atau memberikan kabar terlebih dahulu. Orang ini sudah menganggap perusahaan ayah Lucas seperti perusahaannya ayahnya sendiri. Datang kapan pun dia mau dan pergi kapan dia ingin.
Lucas mengalihkan perhatiannya dari dokumen ke muka Daniel. Pria itu tampak bahagia hari ini. Pakaiannya, bahkan lebih rapi dari biasanya. Di kampus dia selalu memakai celana jeans dan kemeja. Namun, sekarang dia menggunakan setelan jas lengkap seolah-olah ada yang menikah hari ini.
"Ngapain lo ke sini?"
"Abis rapat sama bokap lo. Eh, jawab dulu yang gue tanya."
"Apa?"
Daniel berjalan menuju kursi sofa yang ada di tengah ruangan Lucas. Dia duduk bersandar dan merentangkan kedua tangannya di atas sofa.
Daniel menoleh ke samping untuk melihat Lucas. "Masih pusing gak? Gila lo malam itu. Lo belom pernah minum sama sekali apa?"
"Belom."
"Serius?"
"Eum."
Lucas sudah menduganya. Dia pasti melakukan hal memalukan lainnya. Pria itu tidak ingin mengingat atau bertanya tentang apa yang terjadi di malam itu. Lebih baik Daniel menutup mulutnya dan dia tidak perlu merasakan sakit kepala lagi.
Lucas berkata dengan datar. "Jangan pernah ajak gue ke sana lagi."
"Gue juga gak mau bawa lo lagi. Capek banget urus bocah gede kayak lo."
Lucas menatap tajam Daniel, lalu memutar bola matanya kembali pada kertas di bawah tangannya.
Tak lama sejak kedatangan Daniel, pintu ruangan diketuk oleh seseorang. Itu adalah sekretaris Lucas. Setelah mendapatkan jawaban dari Lucas, wanita itu pun masuk ke dalam dan mengatakan jika ada yang ingin bertemu dengannya.
"Eh? Aurora? Ngapain ke sini?"
Daniel tersenyum cerah ketika melihat Aurora adalah orang yang dikatakan oleh sekretaris Lucas.
Aurora melemparkan senyum tipis pada Daniel. Wanita itu memakai jas panjang berwarna coklat susu dengan dalaman putih, kontras dengan warna kulitnya serta rok span berwarna hitam selutut. Rambutnya yang bergelombang tergerai melewati pundaknya. Di tangannya yang dia genggam di depan terdapat tas berwarna senada dengan jasnya.
"Ada yang mau gue bicarain sama Lucas. Eum . . . kalian lagi bahas sesuatu? Atau gue keluar dulu?"
Daniel buru-buru melambaikan tangannya. "Gak usah. Gue cuma gangguin dia aja. Gak ada yang penting."
Aurora mengangguk kecil, sedangkan Lucas diam-diam membenarkan perkataan Daniel. Dia datang ke sini hanya untuk mengganggu dirinya. Mungkin efek dari libur kuliah, Daniel tidak bisa merusak hari-harinya yang damai. Jadi, dia datang sendiri ke ruangannya untuk membual.
"Keluar sana," usir Lucas.
__ADS_1
Daniel hanya mencibir. Dia memang berniat untuk pergi karena ayahnya sudah mengirimkan pesan. Menyuruhnya untuk segera turun agar mereka bisa secepatnya kembali ke perusahaan.
Aurora tersenyum kecil pada Daniel saat lelaki itu melewatinya. Kemudian, dia duduk di tempat yang sama dengan Daniel.
"Lo masih lama?" tanya Aurora melihat Lucas yang sibuk mencoret-coret isi dokumen.
"Lumayan. Lo bicara aja."
Aurora mencari posisi duduk yang nyaman sebelum dia mulai berbicara. Setengah tubuhnya sedikit miring ke arah Lucas.
"Proyek kita udah selesai dan juga sukses. Jadi, Papa mau bikin acara untuk ngerayain itu."
"Eum. Gue ikut aja."
"Terus, mulai besok kita ada proyek baru."
"Ha?"
Fokus Lucas hilang begitu saja saat dia mendengar hal itu dari Aurora.
"Proyek apa?"
"Belum tahu. Besok Papa kasih tahu pas rapat."
Lucas menghela napas pelan. Baru saja dia lepas dari satu proyek dan sekarang dia harus melakukannya lagi. Terlebih dia harus satu tim lagi dengan Aurora.
Keduanya sama-sama terdiam.
Lucas sibuk dengan tugasnya, sementara Aurora memperhatikan gerak-gerik Lucas.
"Oh, ya. Kemarin nyokap lo datang ke perusahaan gue. Ketemu sama Papa, tapi gue gak tau mereka bicarain apa."
"Eum."
Aurora menarik napasnya. Lucas terlihat tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Agar bisa mengobrol lebih banyak dengan Lucas, Aurora bertanya secara acak.
"Kapan lo nikah?"
Pulpen di tangan Lucas berhenti sejenak. Namun, tak lama karena dia langsung menjawab. "Lulus SMA."
Aurora mengangguk. "Oh, baru beberapa bulan."
"Eum."
"Gue gak tau kalo lo udah nikah karena mama lo bilangnya . . . lo masih sendiri. Jadi, gue pikir lo—"
"Waktu itu Mama belum tau. Gue gak undang soalnya."
Kedua alis Aurora terangkat. "Eh? Kenapa?"
Lucas membuang napasnya. Dia melihat Aurora dengan datar. "Lo cukup tau sampai di situ. Selagi gue masih menghargai lo, tolong jangan bahas nyokap gue."
Aurora terdiam kaku. Dia memang sering ditolak dan terkesan didorong pergi oleh Lucas. Namun, baru kali ini dia mendapatkan tatapan tajam serta nada dingin dari lelaki itu.
Ah, sepertinya dia menyentuh hal yang sangat sensitif bagi Lucas.
"Maaf, Lucas."
__ADS_1
Lucas melihatnya sebentar, kemudian mengangguk. Melupakan apa yang baru saja terjadi dan kembali fokus pada dokumen di tangannya.