
Membosankan.
Jalan ke depan, lalu putar balik masuk ke dalam. Berkeliling rumah dengan segudang kenangan indah dan pahit yang tercetak jelas di ingatan.
Freya secara terus-menerus melakukan hal yang sama selama satu minggu. Dia ingin kembali ke Yogyakarta, tapi dua pria di rumah itu melarang keras dirinya.
Dua hari lalu dia telah menghubungi Viola. Setelah berpikir matang, dia memutuskan untuk menetap di Jakarta dan berhenti dari pekerjaannya. Bagaimanapun, dia kesulitan melepaskan diri dari Lucas.
Pria itu tidak melepaskan pengawasannya sama sekali. Jika Freya mulai berjalan menuju pintu, dia akan langsung mengikutinya dari belakang.
Syakia juga sudah Lucas pindahkan ke sekolah umum milik Daniel. Itu adalah sekolah swasta yang dibangun oleh yayasan keluarga Daniel.
Freya baru mengetahui dari Lucas saat berbincang mengenai pendidikan Syakia bahwa Daniel membangun beberapa sekolah swasta. Salah satunya adalah Sekolah Luar Biasa dan terkadang dia mengajar di sana. Pantas saja pria itu bisa menggunakan bahasa isyarat.
Namun, Syakia belum terbiasa berada di Jakarta. Dia sama sekali tidak mau menjauh dari Freya sehingga anak itu belum mulai bersekolah. Freya khawatir jika pendidikan Syakia tertinggal. Oleh karena itu, Lucas meminta salah satu guru di sekolah itu untuk datang ke rumah dan mengajari Syakia sesuai dengan apa yang diajarkan di kelas.
Matahari sudah naik ke tengah bumi dan tak lama lagi akan bergerak tenggelam. Seperti sebuah rutinitas, Freya duduk di depan rumah sambil memandang tanaman. Pikirannya sekarang dipenuhi dengan rencana untuk kabur dari Lucas dan pergi sejauh-jauhnya sampai pria itu tidak bisa menemukannya lagi.
"Hah. Gimana caranya pergi kalo diawasi terus?" gumam Freya. Dia melirik ke arah pintu di mana Lucas baru saja berdiri di sana.
"Mana Syakia?" tanya Lucas. Dia mengenakan celana pendek selutut dengan baju kaos polos. Tidak terlihat seperti orang sibuk sama sekali.
"Tidur."
Lucas bergumam sebagai jawaban. Kemudian, mereka sama-sama diam kembali.
Di dalam keheningan itu, Freya baru teringat dengan permintaan Syakia sebelum mereka berangkat ke Jakarta.
Anak perempuannya itu pernah bercerita tentang temannya yang berjalan-jalan bersama dengan keluarganya di Jakarta. Hal yang paling dibanggakan adalah ketika mereka pergi ke taman bunga yang katanya sangat luas dan indah. Saat mengetahui bahwa dirinya akan pergi ke Jakarta, Syakia meminta pada ibunya untuk menyempatkan diri pergi ke taman itu sebelum pulang.
Apa anak itu sudah lupa? Dia tidak membahasnya lagi setelah tiba. Syakia jauh lebih pendiam, tapi ketika berhadapan dengan Lucas, wajahnya cemberut. Merengut kesal dan berusaha menjauhkan Freya dari Lucas.
"Kamu tau taman bunga yang luas itu? Katanya baru di Jakarta." Freya tiba-tiba membuka obrolan. Lucas sedikit terkejut sekaligus senang, tapi dia berusaha mengontrol dirinya agar terlihat tenang.
Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana. Lengan kanannya dia sandarkan di sisi pintu. "Kenapa? Mau pergi?"
__ADS_1
Freya menjawab tanpa melihat Lucas. "Syakia yang mau pergi. Temennya pernah ke sana. Dia juga mau liat."
Mendengar itu, Lucas teringat dengan teman sekelas Syakia yang suka memamerkan pengalaman kecil mereka. Tiba-tiba rasa bersalah menyelimuti hatinya. Lucas tahu jika ini adalah salahnya yang membiarkan Freya pergi malam itu.
Namun, karena semua sudah terjadi. Lucas tidak bisa mengembalikan waktu. Oleh sebab itu, dia akan berusaha memperbaiki semuanya.
"Nanti sore kita pergi," kata Lucas. Spontan Freya memutar kepalanya, melihat Lucas. "Ha? Bentar lagi?"
Lucas mengangguk. "Iya. Siap-siap sana."
...****************...
Di sinilah mereka sekarang. Tiba di taman bunga yang banyak orang bilang indah dan memesona.
Tepat seperti yang mereka katakan, bahkan gerbang masuknya saja sudah sangat memanjakan mata.
Freya bertanya-tanya, bagaimana bisa bunga-bunga ini tumbuh dengan baik di Jakarta? Bagaimana cara mereka merawatnya?
Di tengah pemikirannya, seorang pria muda berseragam hitam dengan warna kuning di tepiannya, datang menghampiri mereka. Pria itu terlihat mengangguk sedikit, lalu berbicara pada Lucas.
"Permisi, Pak. Apa hari ini ada jadwal pemeriksaan karyawan? Seingat saya sudah diwakili oleh anak buah Bapak."
Pria muda itu tampak kebingungan. "Maksudnya, Pak? Kan Bapak atasan kami?"
"Di atas saya, ada lagi."
Kerutan di dahi pria itu belum menghilang. Dia ingin bertanya lagi, tapi Lucas sudah menyuruhnya untuk pergi dahulu.
"Ayo, masuk," kata Lucas pada Freya yang sibuk melihat antrian panjang bersama dengan Syakia.
"Gak antri?" tanya Freya.
"Gak perlu."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Udah. Masuk aja."
Lucas menarik pelan tangan Freya yang kosong, sementara Freya menggenggam tangan Syakia.
Mereka masuk begitu saja melewati antrian, membuat orang-orang bingung dan ingin mengeluh. Akan tetapi, ketika petugas mengatakan bahwa yang baru saja lewat adalah pemilik tempat itu, mereka pun terdiam. Hanya bisa iri dan cemburu di dalam hatinya.
"Kita mau ke mana?" tanya Freya saat mereka tiba di sebuah gedung yang bertuliskan "Hanya boleh dimasuki yang berkepentingan saja".
Lucas tidak merespon pertanyaan Freya. Pria itu dengan santai membuka pintu tersebut seolah dia sudah terbiasa.
Begitu mereka masuk, Freya dapat melihat beberapa karyawan yang sibuk dengan pekerjaannya itu langsung berhenti dan terkejut melihat kedatangan mereka.
"Eh? Pak Lucas. Kenapa—"
"Saya mau kasih tahu hal penting."
Seorang pria berseragam yang lain datang menghampiri Lucas. Pakaiannya terlihat sedikit berbeda dengan yang lain. Freya berpikir mungkin dia yang membantu Lucas mengawasi tempat ini. Mengingat tadi dia sekilas mendengar bahwa Lucas adalah pemiliknya.
"Kumpulkan semua pekerja, kecuali yang jaga di depan."
"Baik, Pak."
Setelah menerima perintah, tak lama para pekerja mulai berkumpul dengan cepat seolah mereka diburu waktu.
"Udah semua?" tanya Lucas.
"Sudah, Pak."
"Baik. Saya ingin memberitahu kalian semua bahwa di samping saya ini adalah atasan kalian yang merupakan istri saya. Ingat baik-baik wajahnya. Layani dengan benar."
Pernyataan Lucas yang mendadak tersebut membuat semua pekerja semakin terkejut. Mereka saling berbisik-bisik. Menanyakan hal yang sama. Sejak kapan bos besar mereka menikah? Bukankah dia dikabarkan akan bertunangan?
"Dan anak kecil ini adalah anak saya yang merupakan penerus saya. Jadi, kalian harus bersikap baik."
Meski berita itu mengejutkan mereka, semua pegawai serempak menjawab, "Baik, Pak!"
__ADS_1
Sementara itu, Freya tidak jauh beda dengan para pekerja. Dia, bahkan lebih kaget daripada mereka semua.
Setelah gedung mal di Yogyakarta disebut atas nama dirinya, sekarang taman bunga ini juga miliknya? Ada apa dengan semua ini?