
Kurang lebih dalam waktu enam bulan, swalayan terbesar yang ada di kota pun telah berubah menjadi sebuah mal.
Meskipun lantai tiga dan empat belum selesai sepenuhnya, mal tersebut diresmikan dengan terburu-buru. Rumor yang beredar mengatakan bahwa pekerja yang ditugaskan untuk merenovasi gedung tersebut berada dalam jumlah yang banyak dan ditargetkan selesai dalam waktu beberapa bulan.
Walaupun terkesan buru-buru dan dipaksakan, bahan-bahan yang digunakan tidak sembarangan. Para pekerja juga tidak asal-asalan dalam merenovasi gedung tersebut sehingga keamanannya terjamin.
Kafe milik Viola juga telah dipindahkan beberapa hari yang lalu setelah mal buka secara resmi.
Ketika Freya berpamitan pada semua orang di toko, Leli yang paling banyak menangis padahal sebelumnya dia terlihat santai.
"Kowe jangan lupa sama aku." Begitulah yang dia katakan pada Freya. Air mata memenuhi wajahnya, bahkan hidungnya pun melakukan hal yang sama.
Saat itu, Freya hanya menenangkan Leli dengan berkata bahwa dia akan sering mengunjungi toko dan berharap jika semua orang baik-baik saja. Meskipun tidak terlalu berpengaruh, tapi setidaknya Leli berhenti menangis.
Selain membuka kafe di mal, Viola juga telah membuka cabang lain di kota yang berbeda. Oleh sebab itu, Viola menunjuk Freya yang telah lama bekerja dengannya sebagai manajer di kafe tersebut. Sementara itu, dirinya pergi mengurus kafe yang lain. Sesekali dia akan datang untuk memeriksa kinerja karyawannya.
"Terima kasih, silakan mampir lagi."
Freya menundukkan sedikit kepalanya setelah melayani para pelanggan. Sejak kafe pindah ke mal dan posisinya yang berubah menjadi manajer, Freya ditempatkan di meja kasir menggantikan Viola.
Hari ini pelanggan cukup ramai, bahkan meja selalu terisi oleh pelanggan yang datang silih berganti. Kafe milik Viola tidak terlalu terang dan juga tidak gelap. Membuat orang-orang nyaman untuk duduk di dalamnya.
"Eh, Freya?"
Mendengar suara seseorang memanggilnya, Freya yang tengah mencatat bahan makanan yang perlu dibeli pun mengangkat kepalanya.
"Aya?" tanya Freya memastikan. Wanita di depannya ini memiliki wajah yang tidak asing bagi Freya. Akan tetapi, tampilannya sungguh berbeda dengan Aya yang dia kenal. Jika teman lamanya itu selalu berpenampilan aneh, orang di depannya ini terlihat jauh berbeda. Dia tampak seperti wanita kantoran dengan jas hitam serta rok selutut. Rambutnya pun digerai, bergelombang melewati pundaknya.
"Kamu ke mana aja! Mentang-mentang udah enam tahun, kamu lupa dengan muka aku?
Wanita itu mendatangi Freya dengan raut wajah marah. Karena mereka sedang berada di dalam kafe dan juga suasana ramai dengan pelanggan, Freya pun memberikan alasan dengan cepat.
"Gak, gak. Bukan lupa. Kamu makin cantik. Jadi, aku mastiin ini beneran Aya atau bukan."
Mendapatkan kalimat pujian di dalam alasannya, raut kesal di wajahnya secara perlahan mengendur. Dia dengan santai meletakkan lengannya di atas meja kasir. Meskipun penampilannya jauh lebih baik dari sebelumnya, tetapi tingkah lakunya tidak berbeda sama sekali.
"Kamu ke mana aja selama ini? Tiba-tiba gak masuk kuliah. Nomor juga gak aktif. Aku nyari tau!"
Aya bertanya dengan kesal. Freya pun menjadi merasa bersalah karena menghilang begitu saja tanpa memberitahu siapa pun tentang keberadaannya.
"Bentar lagi aku jelasin, ya. Kamu tunggu aku di sana. Gak lama lagi aku selesai."
__ADS_1
Aya melihat jam tangannya, setelah mengingat bahwa dia tidak memiliki kegiatan apa pun sore nanti, dia pun mengiyakan permintaan Freya dan duduk di meja yang kosong.
Freya menghela napasnya. Kedatangan Aya membuat dirinya terkejut sekaligus gugup. Saat pergi dulu, dia sama sekali tidak ingat untuk mengabari Aya. Yang dia lakukan segera setelah keluar dari rumah Lucas ialah mencabut kartu SIM-nya, kemudian mematahkan benda itu sampai hancur. Lalu membuangnya sembarangan. Sehabis itu, dia pergi untuk membeli kartu yang lain.
Semua kontak lama tidak ada lagi karena Freya benar-benar ingin memulai hidup baru. Akan tetapi, dia tidak menyangka jika di sini dia bertemu dengan teman lamanya.
Waktu kerja Freya pun usai. Orang yang menggantikannya juga telah tiba. Selesai berbenah, Freya segera menghampiri Aya yang telah menunggunya cukup lama.
"Maaf, aku lama." Freya berkata dengan rasa bersalah begitu dia duduk di depan Aya.
Wanita itu melipat kedua tangannya, lalu membuang muka ke samping. Freya semakin tidak enak dengan situasi ini. Lama tidak bertemu membuat Freya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Aya. Kalo kamu marah, gimana aku jelasinnya?"
"Iya juga, ya." Tanpa sadar, Aya menyeletuk tanpa mengingat bahwa dia sedang merajuk pada Freya.
Mendengar itu, Freya tersedak dengan tawanya sendiri. Aya menggeser matanya ke arah Freya, menatapnya tajam. "Ketawa lagi."
"Ya, kamu gak berubah. Masih aneh kayak dulu."
Lelah terus berpura-pura merajuk, Aya pun melemaskan ekspresi wajahnya. Dia memutar kepalanya ke arah Freya dan menjatuhkan tangannya ke lengan Freya. Dia berkata dengan manja. "Kamu ke mana aja? Udah tau aku gak punya temen, malah main pergi gitu aja."
"Masalah apa?"
"Ada masalah pokoknya." Freya segera mengalihkan topik pembicaraan sebelum Aya bertanya lagi, "kamu kenapa bisa di sini?"
"Oh, ada kerjaan."
Aya melepaskan tangannya dari lengan Freya. Dia membenarkan posisi duduknya. "Mal ini aku yang desain. Karena ini direnovasi dan harus selesai dengan cepat, aku mesti datang ke sini buat meriksa apa ada yang salah atau gak."
"Ha? Kamu yang desain? Kok bisa?"
"Bisalah. Aku pindah jurusan ke arsitek."
"Loh? Kenapa?"
"Gak ada temen. Aku juga kurang suka."
"Kenapa masuk kalo gak suka."
"Gak ada pilihan lain. Orangtua aku maunya aku di bisnis biar bisa buka usaha. Malas banget. Aku lebih suka bikin desain bangunan kayak gini. Jadi, pas kamu ilang, aku langsung pindah. Lagian kenapa kamu per—" Sebelum Aya berhasil mengembalikan topik mengenai kepergiannya, Freya langsung memotong kalimatnya.
__ADS_1
"Bangunannya bagus. Padahal sebelumnya swalayan ini biasa aja. Kamu punya bakat di sini ternyata."
Dipuji sekali lagi membuat Aya lupa akan pertanyaannya. Dia mengangkat dagunya dengan bangga.
"Iya, dong. Orangtua aku aja yang gak percaya."
Mereka melanjutkan pembicaraan dengan Freya yang terus mengalihkan pembicaraan agar Aya tidak bertanya lagi tentang alasannya pergi begitu saja.
Untuk saat ini, Freya belum siap mengatakan yang sebenarnya pada Aya.
Selesai berbincang mengenai hal-hal di masa lalu, Freya dan Aya pun memutuskan untuk pulang.
"Aku ke arah sana. Kamu ke mana?"
"Oh, aku nyebrang ke situ." Freya menunjuk jalan yang berbeda dari Aya.
"Eum. Freya, bukannya aku gak sadar kamu ngalihin pembicaraan dari tadi." Aya berkata setelah diam beberapa saat. Freya tersentak, dia mengira Aya tidak peduli lagi tentang itu.
Dia melanjutkan, "Tapi aku menghargai kamu. Kalo udah siap, jangan lupa cerita."
Freya tersenyum tipis. Beberapa tahun terlewati, tetapi Aya tetap sama. Dia selalu menghargai Freya meskipun tingkahnya terkadang menyebalkan.
Dia mengangguk. "Iya. Mampir lagi, ya."
"Kalo gak sibuk. Haha."
Aya melambaikan tangannya sambil tertawa. Kemudian dia berjalan lurus ke arah yang dia tunjuk tadi.
Ketika Aya sudah berjalan jauh, Freya berniat untuk menyebrang jalan. Akan tetapi, suara panggilan seseorang membuatnya menoleh.
"Freya?"
Tubuh Freya tiba-tiba membeku.
Wajah yang sudah lama tidak dia lihat.
Suara yang tidak pernah lagi dia dengar.
Seseorang yang menjadi alasannya pergi sejauh ini.
Dia . . . yang tidak ingin Freya temui lagi. Kini, berada di dekatnya.
__ADS_1