
Pada jam makan siang, kantin akan selalu penuh. Belajar dari pengalaman, Aya telah menarik Freya menuju kantin. Dia mendengar jika ada menu baru di sana. Sebelum dihabisi oleh orang lain, Aya langsung berlari keluar kelas begitu Bu Ondang menutup kelas.
"Kamu ganti gaya lagi?" tanya Freya saat Aya membawa makanan yang merupakan menu baru di kantin. Es krim lembut dengan tiga rasa dalam satu mangkuk. Coklat, stroberi, dan vanila. Ditambah dengan roti dan taburan lainnya. Menambah kelezatan hanya dengan sekali pandang.
Aya menjawab sambil menyendok es krimnya. "Nyoba semua gaya itu bagus, tau?"
Freya menggeleng melihat tingkah temannya. Kemarin dia masih bergaya seperti perempuan tomboy dan hari ini dia mengganti penampilannya menjadi wanita anggun dan modis.
"Eum, es nya lembut banget. Mau coba?" Aya mengangguk-anggukkan kepalanya. Awalnya, dia mengira menu baru yang dimaksud adalah sejenis makanan berat untuk makan siang. Namun, begitu dia melihat es krim yang menjadi menu baru, Aya tidak bisa menghentikan dirinya sendiri. Es krim dengan tiga rasa dalam satu wadah adalah hal yang sangat dia sukai.
Freya menolak tawaran Aya. Mengembalikan mangkuk tersebut. "Makan aja. Aku pesan yang lain dulu. Kamu mau nitip?"
Aya menggeleng sambil memakan es krimnya. Sementara itu, dia pergi untuk memesan makanan lain.
Selagi dia menunggu di dalam antrian, samar-samar Freya mendengar pembicaraan dua orang di sampingnya. Dia tidak bermaksud menguping, tetapi karena mereka menyebut nama Lucas, mau tak mau Freya merasa harus mendengarkan percakapan mereka.
"Lagi heboh, lo. Masa gak ada hubungan apa-apa, tapi makan siang bareng."
"Pasti mau ke kampus, nih. Soalnya, gue belum liat mereka dateng tadi."
"Bisa jadi. Menurut lo cocok gak, sih?"
"Eum, kalo dari segi penampilan, sih . . . cocok. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Eh, Lucas anak orang kaya bukan?"
"Mungkin? Gue juga kurang tahu. Kalo Aurora udah jelas banget siapa bokapnya."
Pembahasan mereka tentang Aurora dan Lucas semakin panjang. Freya tidak ingin mendengarnya lagi. Dia keluar dari barisan tanpa peduli dengan keinginannya untuk memesan makanan.
Muncul banyak pertanyaan di kepala Freya dan juga jawaban-jawaban yang meyakinkan dirinya bahwa semua tidak seperti yang orang-orang bicarakan.
Mereka cuma rekan bisnis. Cuma temen. Gak lebih.
Freya memperkuat dirinya dengan kalimat-kalimat itu. Dia harus percaya pada Lucas dan apa yang mereka katakan bukanlah sebuah kebenaran.
"Kamu gak jadi beli makanan?"
Pertanyaan Aya mengejutkan Freya dari lamunannya. Dia tidak sadar jika sudah kembali ke mejanya.
Freya tersenyum tipis sambil duduk di kursinya. "Antriannya panjang. Lapar aku udah hilang."
__ADS_1
"Masa?" Aya ragu-ragu, lalu dia menoleh ke belakang dan mendapati antrian yang panjang di sana.
"Iya juga, sih. Abis ini kamu ada kelas?" Freya menggeleng sebagai jawaban.
Mendadak dia tidak fokus lagi, bahkan setelah Aya menyelesaikan makannya, dia tidak sadar. Ketika Aya mengajaknya berbicara, Freya hanya akan menjawab dengan anggukan atau gelengan. Untuk bersuara saja dia sudah enggan. Suasana hatinya menjadi buruk setelah mendengar pembicaraan dua orang tadi.
...***...
Freya termenung lagi di sofa yang ada dalam kamarnya. Percakapan dua orang sebelumnya di kantin tadi masih terngiang. Ditambah dia melihat sendiri kedatangan mereka berdua.
Freya tidak yakin dan juga dia tidak ingin menyimpan kesalahpahaman ini sendiri. Meskipun Lucas mengatakan untuk percaya padanya, dia harus bertanya lagi. Memastikan semuanya benar-benar tidak ada apa pun di antara mereka.
Pintu kamar mandi terbuka. Freya mengira dia baru selesai mandi, tapi melihat pakaiannya utuh dan tidak ada handuk yang membalut tubuhnya, Freya berasumsi jika Lucas melakukan hal lain di dalam sana.
Lucas mengambil ponselnya di atas kasur dan memainkannya sambil bersandar di kepala ranjang. Dia sama sekali tidak melihat Freya, seolah dia memang tidak peduli apakah wanita itu ada di kamar atau tidak.
"Lucas." Freya memanggilnya pelan.
"Hm." Dia, bahkan tidak menjawab panggilan dengan benar.
Freya bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Lucas. Dengan keberanian yang telah terkumpul, Freya mengatakan apa yang membuat hatinya gelisah.
Lucas meletakkan ponselnya dan melihat Freya dengan kerutan di keningnya.
"Kenapa?"
"Orang-orang terus bicarain kalian. Maksud aku, ya, aku tau kalian gak ada hubungan apa-apa. Cuma . . . aku gak suka."
Lucas menarik matanya dari Freya. Dia mengira wanita itu akan berbicara masalah penting. Ternyata itu adalah masalah yang sama, tentang dia dan Aurora.
Lucas menjawab acuh tak acuh sambil bermain dengan ponselnya. Melihat pesan-pesan penting di sana.
"Aku males ketemu senior itu. Yang ada makin panjang. Kamu abaikan aja bisa 'kan?"
"Aku udah coba gak peduli, tapi makin lama orang-orang ngomongin kalian terus. Kalian berdua cocok lah, serasi lah . . . mereka buat aku mikir kalo aku gak pantes buat kamu."
Freya lagi-lagi merendahkan dirinya sendiri. Mendengar itu, Lucas kehilangan minat untuk melihat ponselnya. Dia meletakkan kembali benda itu dan berdiri di depan Freya.
Sorot matanya menjadi dingin saat dia menatap Freya. "Asal kamu tahu. Tiap kali kamu bahas ini, aku ngerasa kamu nuduh aku selingkuh."
__ADS_1
Freya tergagap. Dia buru-buru membantah. "Gak. Aku gak bermaksud nuduh kamu. Aku cuma—"
"Enggak? Terus kenapa kamu mikir lagi? Freya, kamu rendahin diri kamu sendiri sama aja kamu ngedorong aku ke orang lain. Kamu juga ngerasa aku cocok sama dia?"
"Gak, Lucas. Kamu paham gak aku bilang apa ke kamu? Aku cuma gak suka orang lain bicarain kalian."
"Tutup aja kuping kamu. Jangan dengerin mereka. Di sini kamu lebih percaya omongan mereka atau aku?"
Keduanya sama-sama terdiam. Lucas menunggu jawaban Freya, sementara Freya mulai merasa takut dengan amarah yang ditunjukkan Lucas.
Lucas terengah-engah. Berbicara panjang lebar ditambah dengan emosi yang meluap membuat dia kesulitan mengontrol napasnya sendiri. Tenaganya habis untuk melakukan banyak aktivitas. Bukan hanya fisik, otaknya pun juga merasakan hal yang sama.
Lucas lelah dan dia berharap satu-satunya tempat yang membuat dirinya nyaman dan tenang adalah Freya.
Namun, harapannya sirna karena Freya mulai mencari masalah dengannya akhir-akhir ini.
"Aku capek, Frey." Nada bicara Lucas sedikit menurun, tapi air mukanya tidak berubah. Masih datar dan tak ada gelombang apa pun.
Freya meneguk liurnya susah payah. Dia lupa dengan situasi Lucas. Lelaki itu tentu merasa lelah dengan semua kesibukan yang dia jalani sejak lulus SMA. Dengan seenaknya dia membahas kembali masalah yang sudah pernah mereka bicarakan sebelumnya.
"Ini yang terakhir, Frey. Dengar aku baik-baik. Aku bukan cowok yang semudah itu suka sama cewek. Sekali liat langsung deketin. Kalo kamu liat aku sama cewek, itu berarti dia rekan aku. Kalo aku tukang selingkuh, dari awal aku gak akan nikahin kamu. Mending aku mainin cewek aja daripada repot-repot urus ini itu cuma untuk terikat sama satu orang."
Freya menunduk mendengar perkataan Lucas. Terjadi kesalahpahaman di sini. Dia bukan tidak percaya pada Lucas, tapi dia merasa dirinya tidak cocok dengan lelaki itu. Orang-orang berbicara tentang mereka seakan-akan takdir harus mempersatukan mereka. Dua orang yang memiliki penampilan menarik dan kepribadian yang bisa mengisi satu sama lain.
Tidak seperti dirinya. Tidak cantik, cacat, dan sama sekali tidak ada dari sifatnya yang menarik.
"Aku percaya kamu," Freya melihat ke bawah sehingga Lucas tidak dapat melihat air mata yang mulai turun ke pipinya, "tapi aku—"
"Udah cukup." Lucas langsung memotong kalimat Freya karena dia tahu apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.
"Aku gak suka kamu rendahin diri kamu. Yang ngerasain aku, bukan mereka. Yang tau kamu cocok untuk aku itu bukan mereka, tapi aku sendiri. Dengan kamu percaya sama aku, itu udah cukup. Capek aku ulang lagi."
Lucas sudah pernah mengatakan hal yang sama pada Mia dan dia harus mengulanginya lagi pada Freya.
Mengapa semua orang bertingkah seakan-akan mereka tahu yang terbaik untuknya? Lucas ingin mengusir mereka satu per satu dari lingkungannya jika dia bisa.
"Kamu renungin semua yang aku bilang."
Setelah berkata seperti itu, Lucas pergi meninggalkan Freya sendirian dengan rasa bersalahnya.
__ADS_1