Cold Love

Cold Love
Bab 37. Melakukan Apa Yang Seharusnya Dilakukan


__ADS_3

Lucas mengira satu gangguan telah menghilang. Namun, kenyataannya tak ada satu pun gangguan itu pergi dari hidupnya. Yang ada malah memperparah semuanya.


Siang itu, Daniel sudah bertanya untuk kesekian kalinya tentang hubungan antara dia dan Aurora. Lucas terlalu malas menjelaskan sehingga lelaki itu terus bertanya setiap kali mereka bertemu.


Di saat dosen di depan kelas sedang mengajar pun, Daniel tidak ragu untuk memainkan ponselnya. Lalu mengajak Lucas dalam keributan yang dia buat.


"Liat foto ini. Lo udah dua kali ketauan datang ke kampus bareng Aurora. Kalian, bahkan udah punya pendukung, loh!"


Daniel menyodorkan ponselnya ke depan muka Lucas, menutupi pandangan Lucas yang tengah fokus melihat materi di depannya.


"Awas."


Daniel berdecak kesal. Akhir-akhir ini, Lucas mulai merespon setiap perkataannya dan tidak mengabaikannya lagi. Daniel, bahkan tidak perlu repot-repot memaksa Lucas untuk duduk di sampingnya. Karena lelaki itu akan menarik kursi yang ada di dekatnya, lalu duduk bersamanya.


Meskipun terdapat perubahan, tapi sikap dingin Lucas masih belum menghilang. Dia masih sering mengusir Daniel jika dirinya mengganggu Lucas. Seperti saat ini.


Lucas kembali mencatat beberapa hal penting yang dijelaskan oleh Pak Gunawan. Pria itu masih terlihat muda. Gaya mengajarnya pun enak dilihat. Oleh sebab itu, Lucas tidak ingin Daniel mengganggunya sama sekali.


Tentang foto yang dikatakan oleh Daniel, sebenarnya itu adalah hari di mana Lucas datang bersama Aurora setelah mereka membahas proyek bersama. Juga, itu bukanlah yang kedua kalinya. Melainkan yang keempat.


Lucas menghembuskan napasnya. Mengabaikan semua gangguan yang berada di dekatnya. Memedulikan hal itu hanya akan membuat hidupnya semakin kacau. Dia merasa menyesal telah menyetujui ide Aurora saat itu. Lebih baik dia melarikan diri dari kejaran kakak senior.


Namun, dia juga tidak berniat untuk menemui Popi. Jika dia datang dan memintanya untuk menghapus foto itu, dia akan ditahan di sana dalam waktu yang lama sebelum akhirnya dilepaskan.


Memikirkannya saja sudah membuat Lucas jengkel.


Kelas siang itu berakhir sepuluh menit lebih cepat. Lucas tidak memiliki kelas sore hari ini karena dosennya telah membatalkan pertemuan, sedangkan Daniel harus pergi ke kelasnya setelah ini. Mereka berdua berpisah di depan pintu lift.


Lucas berjalan dengan ringan menuju parkiran mobil. Tidak ada mahasiswa yang terlihat di sana. Kemungkinan mereka pergi ke kantin atau memiliki kelas sore.


Lucas hendak membuka pintu mobilnya, tapi suara seseorang memanggilnya membuat dia berbalik.


"Lucas."


Panggilan itu terdengar menyedihkan. Di depannya, Lucas mendapati Aurora menutup pintu mobilnya yang berselang dengan dua mobil lainnya. Wajah wanita itu dipenuhi lebam. Sudut bibirnya sobek dan terdapat jejak darah yang telah mengering.


"Lucas."


Aurora berjalan menghampirinya dan kemudian dia berlari kecil. Wanita itu langsung memeluk erat Lucas sambil menangis.


Lucas terlambat memberikan reaksi. Tangannya perlahan terangkat untuk mengelus punggungnya. Dari sudut pandang yang berbeda, orang-orang yang tidak sengaja melihat akan mengira jika mereka sedang berpelukan mesra.


Aurora mendatanginya dengan penampilan yang babak belur. Bagaimana dia bisa meninggalkannya begitu saja? Jika ini sampai ke telinga Pak Oga, otomatis dia akan terkena dampaknya.


Lucas melepaskan pelukan Aurora pelan. Dia bertanya pada wanita itu untuk memastikan apakah dia harus memberitahu Pak Oga tentang kondisinya atau tidak.


"Lo kenapa?"


Pipi Aurora basah karena air mata. Dia masih belum berhenti menangis. Lucas menghela napas, keinginannya untuk beristirahat di rumah hari ini telah gagal. Dia harus mengurus orang ini terlebih dahulu.


"Masuk dulu."


Lucas membuka pintu mobilnya, menyuruh Aurora untuk masuk dan mengatakan apa yang telah terjadi padanya.


Setelah pintu ditutup pun, Aurora masih belum menghentikan tangisannya. Lucas meliriknya sekilas, dia juga tidak ingin memaksa Aurora untuk menceritakan semuanya. Akan tetapi, kalimat Pak Oga yang memercayakan Aurora padanya itu memaksa Lucas untuk mendesak Aurora lagi.


"Berhenti nangis. Gue buru-buru. Lo cerita sekarang kenapa muka lo bisa ancur gini."

__ADS_1


Aurora segera menghentikan tangisannya. Kalimat Lucas dingin dan kejam. Tidak ada perasaan ramah sama sekali dalam perkataannya.


Aurora mengusap air matanya dan mulai menjelaskan. "Gue dipukul sama cowok gue."


Lucas tidak terlalu terkejut dengan itu. Alasannya pasti karena foto mereka berdua yang diunggah di sosial media komunitas aneh itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah kejadian ini tidak akan pernah dia beritahu pada Pak Oga. Pria tua itu pasti akan menyuruhnya untuk menjaga Aurora dari kekasihnya itu.


Terima kasih, tapi Lucas tidak ingin perintah itu datang padanya.


"Dia liat foto kita. Bukan cuma yang biasa, tapi juga pas kita datang bareng. Awalnya, kami cuma debat biasa, tapi waktu foto yang lain diupload orang yang aku gak kenal, dia makin marah. Aku gak nyangka dia bisa sampe mukul aku kayak gini."


Aurora menyentuh lebam di pipinya, setetes air mata jatuh kembali dari sudut matanya.


Lucas sudah menduganya. Dia bertanya dengan datar. "Kenapa lari ke kampus?"


"Gue gak mau pulang atau ke perusahaan. Papa bakal khawatir dan suruh orang untuk mukulin balik cowok gue. Jadi, gue milih datang ke kampus untuk sembunyi sebentar."


Di saat dirinya sudah dihajar begini pun, dia masih bisa melindungi pria itu. Lucas tertawa dalam hatinya. Orang ini bodoh atau bagaimana? Sudah tahu brengsek, masih dipertahankan.


"Setelah semua ini, lo masih sayang sama dia?" tanya Lucas. Dia telah terbawa suasana dengan pemikiran bodoh Aurora.


Aurora menggeleng. "Gak. Gue cuma gak suka aja."


Lucas membuang napasnya, menatap lurus ke depan. "Terus, lo masih mau bertahan?"


Aurora menunduk. Dia terdiam sejenak sebelum berujar. "Jujur aja, gue udah gak ada rasa sama sekali. Kami pacaran sejak kelas dua SMA. Dia datang di saat gue butuh perhatian dari seseorang. Orangtua gue sibuk dan gak punya waktu buat gue. Cuma dia yang bisa buat gue senang, tapi entah kenapa sejak akhir kelas tiga dia mulai aneh. Perhatiannya terkesan berlebihan, selalu curiga, dan bikin gue risih. Gue mau berakhir, tapi di saat yang bersamaan gue butuh dia. Tiap kali gue jatuh sakit, dia yang selalu ada nemenin gue. Dia emang aslinya kasar, tapi dia gak pernah sampe mukulin gue kayak gini."


Ya, Lucas memahaminya sekarang. Seseorang yang kekurangan perhatian seperti Aurora memang membutuhkan orang yang bisa menemani kesendiriannya. Sama seperti dirinya yang membutuhkan Freya.


Aurora mengusap wajahnya. Kemudian dia menghembuskan napasnya dengan kuat. Dia menoleh ke arah Lucas dan tersenyum.


Lucas tidak tahu apakah itu termasuk mendengarkan curhat. Dia yang memaksa Aurora untuk bercerita, tapi jika wanita itu menganggapnya seperti itu tidak masalah juga.


"Lo mau gue temenin ke apotek?" tanya Lucas. Dia menanyakan ini dari hatinya yang kasihan melihat kondisi Aurora.


Namun, wanita itu tersenyum sambil menolak. "Gak papa. Gue balik dulu."


Aurora membuka pintu mobil. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Setelah mendapati situasi aman, Aurora keluar dari mobil Lucas dan kembali ke mobilnya sendiri.


...***...


Hari sudah malam dan Freya masih duduk termenung di ruang tengah.


Dia masih memikirkan kejadian tadi sore di mana Aya menunjukkan foto Lucas yang berpelukan dengan Aurora. Postingan itu baru saja diunggah dan masih hangat diperbincangkan, bahkan banyak yang berkomentar di foto tersebut. Mengatakan jika keduanya terlihat cocok satu sama lain.


Freya tidak mengerti mengapa Lucas melakukan itu. Apakah mereka benar-benar memiliki hubungan di belakangnya? Tapi Lucas bukan tipe orang yang suka berselingkuh.


Mungkin.


Freya merasa hatinya sedang menangis di dalam. Sikap Lucas padanya acuh tak acuh. Dia bingung dengan perasaan Lucas untuknya. Mendapati pikirannya semakin kacau, Freya memilih untuk naik ke atas dan masuk ke kamarnya.


Di dalam kamar, Freya melihat Lucas tengah duduk di sofa sambil mengetik di laptopnya. Freya menatapnya sendu sebelum duduk di sampingnya.


Lucas tidak merasa terganggu. Dia membiarkan Freya duduk di sebelahnya.


Freya menatapnya dari samping. Lalu, sekelebat adegan melewati pikirannya. Foto Lucas dan Aurora yang saling berpelukan membuat Freya ingin membuktikannya. Jika dia yang memeluk Lucas, apakah Lucas akan membalas pelukannya?


Dengan pertanyaan itu, Freya langsung memeluk Lucas dari samping membuat Lucas tersentak. Dia berhenti mengetik dan menatap kesal pada Freya.

__ADS_1


"Kamu ngapain?"


Freya mengangkat kepalanya, menjawab Lucas dengan suara kecil.


"Aku mau peluk kamu."


"Kenapa tiba-tiba?"


"Gak tiba-tiba. Kita jarang pelukan. Aku juga mau meluk suami aku."


"Aku lagi kerja."


Lucas menghela napasnya dan mendorong Freya. Dia menutup laptop tanpa mematikannya dan beranjak dari sofa.


Freya yang mendapat penolakan dari Lucas pun berdiri dengan marah. "Kamu selalu nolak aku. Kita udah nikah! Tapi kita, bahkan belum pernah melakukan apa yang biasanya suami istri lakukan. Aku minta kamu untuk foto bareng aku, tapi kamu gak mau. Aku minta peluk, tapi kamu juga gak mau. Lucas, apa karena aku punya banyak kekurangan? Aku tahu Aurora lebih dari aku. Apa kamu diam-diam punya hubungan dengan dia?"


Lucas menghentikan langkahnya. Dia memutarkan tubuhnya dan mencengkeram kuat bahu Freya. Matanya memicing saat bertanya pada Freya.


"Maksud kamu apa? Nuduh aku selingkuh?"


Freya meringis karena tangan Lucas mencengkeram bahunya. Dia menatap Lucas tajam.


"Semua foto kamu sama Aurora udah aku lihat. Orang-orang bilang kalian cocok, bahkan kamu meluk dia hari ini. Lucas, aku yang istri kamu aja jarang kamu sentuh!"


Lucas menggeram. Tatapannya perlahan berubah menjadi datar. "Bukannya kamu gak suka disentuh?"


Freya mengernyit mendengar pertanyaan Lucas. "Selama ini kamu gak sentuh aku karena mikir aku gak suka disentuh?"


Lucas mengangguk. Ekspresi wajahnya masih belum berubah.


"Kamu suami aku. Kenapa aku gak mau kamu sentuh?"


Secara perlahan, Lucas menarik tangannya dari bahu Freya. Air mukanya yang datar, ikut mengendur seiring dengan suaranya yang melembut.


"Kamu baik-baik aja kalo aku sentuh sekarang?"


Freya menjawab dengan kebingungan. "Ya. Kamu kan suami aku."


Mendengar itu, Lucas menundukkan kepalanya. Tangan kirinya memegang dagu Freya, dia berbisik tepat di depan bibir Freya. Tatapannya bertukar dari bibir Freya menjadi mata istrinya.


"Kamu yakin?"


Freya mengangguk mantap. Dia sudah menunggu hal itu, tapi sebelum Lucas berhasil merasakan bibir Freya, wanita itu memundurkan wajahnya.


"Jawab dulu. Kamu ada hubungan apa dengan Aurora?"


Lucas mendengus acuh tak acuh. Tangan kanannya menarik pinggang Freya agar lebih dekat dengan dirinya. Dia berbisik, "Aku bukan Mama yang suka selingkuh. Kami sekarang satu tim. Ayahnya adalah klien aku. Makanya beberapa kali kami pergi ke kampus bareng abis selesai rapat."


Freya menundukkan kepalanya. Malu memandang Lucas karena dia telah salah paham.


Lucas tersenyum tipis melihat istrinya yang merasa bersalah. Dia menarik dagu Freya, mengangkat wajahnya untuk menatap dirinya.


"Lain kali, jangan percaya orang lain."


Freya mengangguk kecil. Lalu, perlahan dia memejamkan matanya. Lucas menjatuhkan bibirnya pada bibir Freya. Mengecup pelan bibir kecil nan penuh tersebut. Kemudian, tanpa melepaskan ciuman lembut itu, Lucas membawa Freya menuju tempat di mana biasanya mereka tertidur.


Malam itu, mereka melakukan apa yang seharusnya telah mereka laksanakan sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2