Cold Love

Cold Love
Bab 55. Kecurigaan Pada Kesehatan Diri


__ADS_3

Freya pergi dari rumah dua jam setelah Lucas keluar dari kamar.


Dalam waktu itu, Freya masih menunggu dan berharap Lucas kembali. Membicarakan tentang masalah mereka dengan kepala dingin. Namun, malam semakin larut pun dia tidak kembali.


Freya menyerah.


Dia sudah bertahan selama bertahun-tahun. Dengan keinginan dan pemikiran bahwa Lucas akan balik ke dirinya yang dulu menjadi alasan Freya mau menunggu.


Akan tetapi, apa yang dia lihat malam itu menghancurkan harapannya. Seolah dia didorong oleh keinginannya sendiri ke dasar jurang. Seakan-akan menyadarkannya dari khayalan. Memukul kepalanya dengan kuat layaknya harapan itu memiliki tangan.


Freya selalu percaya pada Lucas, tapi kenyataannya dia tidak bisa dipercaya. Entah karena memang dia berbohong atau dia malas menjelaskan.


Freya tidak tahu. Yang dia pahami adalah selama ini Lucas tidak peduli padanya. Ada dia atau tidak dalam hidup pria itu sepertinya tidak berpengaruh banyak. Lucas mengejar karir dan Freya tidak cocok berada di dekatnya.


Lucas memiliki dunianya sendiri. Lelaki itu hanya sial saja terlibat dengan perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtua mereka. Jika perjanjian itu tidak ada, Lucas dan Freya sudah lama menjalani kehidupan masing-masing. Tidak perlu membuang waktu dan masa depan untuk menepati janji itu.


Apalagi perkataan Mia padanya tepat sasaran. Aurora lebih pantas dan sebanding dengan Lucas yang pekerja keras. Mereka juga sama-sama pintar dalam berbisnis. Berbeda dengan dirinya yang tidak memiliki keahlian apa pun.


Dengan banyaknya pikiran buruk di dalam kepalanya, Freya pun memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan pada siapa pun. Karena dia tahu, orang-orang di sekitarnya tidak akan membiarkan dia pergi.


Itu memang keputusan yang nekat, tapi Freya harus melakukannya. Jika Lucas tidak membutuhkannya . . . untuk apa dia menetap?


Freya membereskan barang-barangnya. Tidak terlalu banyak karena Freya jarang membeli sesuatu. Satu koper berukuran besar ditambah satu tas ransel cukup untuk membawa semua barangnya.


Di rumah sedang tidak ada Bryan. Oleh karena itu, Freya bisa pergi secara diam-diam. Hari sudah hampir menduduki tengah malam, Freya pasrah jika tidak ada tempat yang buka untuknya menginap.


Lama dia berjalan di jalanan kota Jakarta, akhirnya Freya menemukan sebuah rumah penginapan yang harganya murah. Bisa dia sewa untuk satu hari.


Di keesokan harinya, Freya langsung pergi ke halte bus yang bisa membawanya ke kota Yogyakarta. Semalam, dia mencari tahu kos murah yang letaknya jauh dari kota Jakarta melalui mesin pencari. Lalu, dia menemukan bahwa kota Yogyakarta banyak yang menyewa kos dengan harga murah, ditambah tarif hidup di sana juga tidak terlalu mahal.


Freya pun pergi menggunakan bus. Setelah beberapa jam, dia pun tiba di kota tujuannya. Suasana di sana begitu asing bagi Freya, tapi dia akan berusaha untuk menyesuaikan diri.


Dalam perjalanan, Freya bertemu dengan seorang kakek tua yang tengah menarik becak. Orang itu bertanya tujuannya agar dia bisa mengantar Freya.

__ADS_1


"Saya lagi nyari kos yang murah, Pak."


"Oh, banyak di sini. Kalo mau yang lebih murah agak lebih ke dalam dan jauh dari kota. Kamu mau?"


"Boleh, Pak. Gak masalah."


"Saya bawa kamu ke sana. Liat-liat dulu. Jangan karena murah langsung kamu ambil." Pria tua itu terkekeh sambil mendayung sepedanya.


Freya ikut tertawa kecil. "Iya, Pak. Makasih banyak."


"Iya, sama-sama."


Setibanya di sana, keadaan kos dalam kondisi yang baik. Meskipun ukurannya kecil, tapi setidaknya bisa untuk dia tinggali. Setelah bertemu dengan pemilik kos dan membayar uang sewa di bulan pertama, Freya langsung membereskan semua barang-barangnya.


...****************...


Seminggu berlalu sejak Freya meninggalkan rumah. Dia harus bekerja keras karena tabungannya tidak akan cukup membiayai hidupnya di masa depan. Sebelum pergi, Freya menarik semua uang dari rekening bank miliknya, kemudian menutup buku tersebut dan membuat buku baru di Yogyakarta.


Uang yang Bryan ataupun Lucas beri padanya semua dia jadikan tabungan. Sekarang, dia butuh uang tersebut dan tidak ingin menggunakan buku yang sama lagi. Freya benar-benar ingin menghilangkan segala hal dari masa lalunya.


Ternyata kakek tersebut tinggal di daerah sekitar kosnya. Hanya berselang dua lorong. Selain menarik becak, kakek itu juga memiliki toko yang menjual sembako. Ketika mereka tidak sengaja bertemu di tempat yang sama, kakek tersebut menawarkan pekerjaan. Dia butuh tenaga baru karena tokonya sedang kekurangan orang.


Mendapatkan tawaran seperti itu, tentu saja Freya tidak menolaknya. Di saat itu juga dia langsung bekerja. Gaji bulanannya pun cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari.


Pekerjaan di toko terkadang berat. Freya sering merasa pusing dan mual setelah tiba di rumah.


Awalnya, Freya mengira itu efek dari pekerjaan berat yang dia lakukan, seperti mengangkat kardus berisi minuman atau karung beras berukuran sedang.


Namun, setelah seminggu penuh dia terus merasa mual dan muntah air . . . Freya pun mulai curiga.


Dia baru menyadari jika bulan sebelumnya dia tidak datang bulan. Ini baru masuk bulan baru, seharusnya sudah tiba masanya.


Jantung Freya mendadak berdebar kencang. Antara takut dan senang dia rasakan di saat yang bersamaan.

__ADS_1


Freya buru-buru pergi ke apotek setelah mencari becak yang bisa membawanya ke kota. Di dekat kosnya tidak ada apotek sama sekali.


"Cari obat apa?" tanya seorang wanita paruh baya yang berjaga di depan.


"Saya mau beli test pack, Bu," bisik Freya. Takut didengar oleh orang lain padahal dia sendirian di sana. Kecuali wanita tua tersebut.


"Sebentar, ya."


Wanita itu terlihat biasa saja. Hal itu membuat Freya bernapas lega. Tak lama pesanannya tiba. Setelah membayar, dia pun kembali dan hendak mencari kendaraan.


Dalam ketidaksengajaan yang kesekian kalinya, Freya bertemu dengan Kakek Pati. Orang tua yang telah membantunya dari pertama kali dia tiba di Yogyakarta.


"Nduk, mau pulang? Ayo, naik."


"Iya, Kek. Maaf ngerepotin."


"Yo, ndak papa. Cepat-cepat."


Freya langsung duduk di kursi penumpang. Menikmati angin sore yang sebenarnya membuat dia mual.


"Makasih, Kek. Ini uangnya."


Freya menyodorkan beberapa lembar uang, tetapi Kakek Pati menolaknya. "Gak usah. Saya mau bantu kamu, aja. Udah simpan balik. Ditabung aja sekalian."


Freya menarik kembali uangnya. Merasa tidak enak karena selalu merepotkan Kakek Pati, tapi dia juga tidak ingin memaksa orang tua itu. Pernah dia memaksa Kakek Pati untuk menerima uangnya, tetapi di keesokan harinya Kakek Pati membelanjakan uang tersebut yang kemudian diberikan pada Freya.


"Kamu buat saya teringat dengan anak perempuan saya yang sudah meninggal lama."


Begitulah alasan ketika Freya bertanya mengapa Kakek Pati begitu baik terhadapnya.


Sesampainya di rumah, Freya langsung menggunakan benda tersebut. Setelah memahami cara penggunaannya, dia pun memakainya. Selesai menunggu, Freya mengambil test pack tersebut.


Matanya terpejam, tidak berani melihat.

__ADS_1


Namun, dia harus memastikan kebenarannya. Freya membuka matanya perlahan, kemudian dia mendapati bahwa dirinya benar-benar sedang dalam kondisi hamil.


__ADS_2