Cold Love

Cold Love
Bab 13. "Jangan Terlalu Dekat!"


__ADS_3

Jam istirahat kedua memiliki waktu yang lebih panjang daripada jam istirahat pertama. Hal ini dikarenakan para siswa membutuhkan lebih banyak waktu mengistirahatkan pikiran dan fisik mereka dari lelahnya belajar.


Selain makan siang, mereka juga akan melakukan hal lain. Seperti bermain musik, bermain sepak bola, basket, dan hal lainnya yang bisa membuat pikiran mereka kembali segar.


Lucas membuka atasan seragam sekolahnya. Meninggalkan baju kaos berwarna hitam di tubuhnya. Tadi, Chiko mengajaknya keluar untuk bermain basket setelah makan siang.


Ada sekitar lima orang yang sudah berdiri di lapangan basket. Chiko berteriak saat melihat Lucas berjalan ke arah mereka.


"Lucas! Cepetan! Kita main Three on three!"


Lucas mengangguk, tapi tidak mempercepat langkahnya sehingga Chiko harus mendatangi Lucas dan mendorong punggungnya agar lelaki itu bergerak lebih cepat.


"Lo setim sama gue, oke?" Chiko langsung meminta Lucas untuk berada dalam kelompok yang sama dengannya.


Tidak mendapatkan penolakan atau penerimaan dari Lucas, Chiko bergegas mengambil kesimpulan. "Oke, sip. Gue, Lucas, sama Dani satu tim. Wahyu, Gio, ama Jeremy setim."


Yang lain menurut saja dengan pembagian tim yang dilakukan oleh Chiko. Kemudian, mereka mulai mengambil posisi masing-masing setelah menentukan tempat. Orang yang di tengah saling memantulkan dan mengoper bola sebanyak tiga kali sebelum permainan dimulai. Mereka bermain di area lingkaran setengah. Mengejar dan menahan satu sama lain agar bola tidak berhasil direbut.


Brak!


Satu poin dicetak oleh Gio. Tim Jeremy lebih unggul dibandingkan Tim Lucas.


Permainan dimulai kembali dengan aturan yang sama. Bola dilempar ke sana ke mari. Dipantulkan ke permukaan lantai dan dioper ke orang lain hingga berhasil dilemparkan ke dalam keranjang.


"Hah ... capek gue. Istirahat bentar." Jeremy melambaikan tangannya. Menyerah setelah bermain selama 10 menit tanpa henti.


"Lah? Cepet banget capek? Biasanya juga kita main setengah jam lo masih kuat," sahut Chiko. Bola basket yang dia pantulkan telah direbut oleh Wahyu.


"Woi, anj. Gue lagi ngomong."


Wahyu menjulurkan lidahnya, mengejek. "Siapa suruh ngomong?"


"Si bangs—hah ... sabar." Chiko bersiap melempar tangannya kepada Wahyu, tapi seketika dia teringat jarak mereka yang cukup jauh.


Jeremy tertawa melihat keduanya. Dia berkata, "Gue beli minuman dulu. Haus."


"Nitip!" teriak Wahyu dari bawah ring basket.


Jeremy sudah berjalan dua langkah saat Wahyu berteriak. Jadi, dia membalas teriakannya. "Gak! Lo beli sendiri."


Kemudian dia pergi dari lapangan basket tanpa peduli dengan makian Wahyu.

__ADS_1


Lucas juga merasa sedikit lelah karena bermain tanpa henti, tapi dia masih sanggup untuk melanjutkan. Lelaki itu berjalan mundur beberapa langkah sambil mengelap keringat yang mengalir di dagunya menggunakan bagian bawah baju kaosnya. Menunggu teman-temannya selesai memperebutkan bola di bawah ring.


"Lucas, ini minum buat lo."


Lucas menoleh ke belakang saat seseorang menepuk lengan kanannya. Itu adalah Alana, teman sekelasnya yang akhir-akhir ini sering mengajaknya berbicara.


Gadis itu mendorong sebotol minuman pada Lucas. "Nih."


Lucas melihat botol tersebut, kemudian melihat Alana. Dia ingin menolaknya, tapi Alana menarik tangan Lucas dan menaruh botol air tersebut di telapak tangannya.


"Jangan nolak. Ini sebagai tanda terima kasih karena lo mau nganterin gue pulang habis latihan." Alana tersenyum sambil menjelaskan. Lucas menatap minuman di tangannya, kemudian menjawab, "Em."


Lucas membuka tutup botol tersebut dan meminumnya dengan sekali tegukan. Awalnya, dia tidak merasa haus sama sekali, tetapi saat air itu menyentuh kerongkongannya, Lucas tidak bisa berhenti menelannya. Air di dalam botol tersisa di bawahnya saja.


Alana tertawa kecil. Kedua tangannya dia genggam di balik tubuhnya. "Lo haus banget, ya?" tanyanya.


"Sedikit."


"Pfft! Sedikit, tapi udah habis semua."


Lucas melihat air di dalam botol yang tersisa sedikit. Dia membuang muka seolah-olah tidak ada yang terjadi.


Alana kembali memanggil Lucas. "Lucas, lo bisa bikin lagu gak?"


"Kami rencananya, sih mau bikin lagu sendiri untuk pensi nanti. Yah, lagu bertema cinta remaja atau sesuatu tentang perpisahan. Sekolah gak membatasi temanya, selama gak berlebihan."


Lucas segera menggeleng. "Gue gak pernah bikin lagu. Kenapa gak bawa aja lagu yang sering kita latih?"


"Em, biar beda aja."


"Tanya orang lain aja."


Alana menunduk dan mengangguk kecil, tidak memaksa Lucas lebih banyak. Saat Alana mengangkat kepalanya, dia mendapati Lucas tengah melihat ke samping lapangan basket.


Gadis itu mengikuti arah pandang Lucas. Dia melihat Jeremy tengah berbicara dengan seorang perempuan di sana.


"Jeremy ngapain di sana? Dia kenal cewek itu?" tanya Alana.


Lucas memiringkan kepalanya, melihat Alana. "Cewek itu?"


"Iya, cewek itu. Dia sering nyapu di sana."

__ADS_1


"Freya."


"Ha?" Alana memasangkan telinganya dengan benar. Bertanya kembali.


Lucas menoleh ke arah Alana sepenuhnya. Mengulangi kata yang sama.


"Freya. Namanya Freya Adreena."


Alana termangu seperti orang kebingungan. Dia mengetahui nama perempuan yang sedang berbicara dengan Jeremy karena perempuan itu memiliki citra yang buruk. Alana tidak tahu pasti keburukan apa yang mereka katakan. Dia tidak mencari tahu dan hanya mendengar dari orang lain saja.


Gadis itu tidak menyangka jika Lucas mengetahui nama perempuan itu, bahkan dia menyebutkan nama lengkapnya.


Alana tertawa kaku, berusaha menutupi kecanggungan. "Ah, iya. Freya. Jeremy deket sama Freya?" tanya Alana. Dia mulai sedikit hati-hati ketika bertanya, karena sepertinya Lucas dalam perasaan yang kurang baik.


"Jeremy suka deket sama semua cewek 'kan?" tanya Alana lagi karena Lucas tidak menanggapi pertanyaannya.


"Tanya dia."


Cukup dua kata yang menjadi jawaban. Lelaki itu kembali bergabung dengan teman-temannya. Meninggalkan Alana bersama dengan gurat kesal di wajahnya.


...***...


Freya tiba di rumah sekalian dengan Lucas. Biasanya, Freya sampai lebih cepat 10 atau 5 menit sebelum Lucas. Mungkin karena bus hari ini datang lebih telat.


Gadis itu melirik Lucas yang tengah membuka pintu. Dirinya berdiri dengan patuh di belakang Lucas. Menunggu pintu terbuka.


Lucas masuk terlebih dahulu, kemudian diikuti Freya. Keduanya berjalan sampai di ruang tengah. Tiba-tiba, Lucas berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Freya.


Pergerakan Lucas yang tiba-tiba itu membuat Freya terkejut. Dirinya tersentak dan hampir berteriak kaget.


"Kenapa, Lucas?" tanya Freya hati-hati. Mungkin karena mereka telah kenal sejak lama, Freya mengetahui dari mimik wajah Lucas jika dia sedang tidak merasa baik.


"Jangan terlalu dekat sama Jeremy."


"Kenapa?"


"Jangan dekat."


Freya memiringkan kepalanya. "Iya, kenapa?"


Lucas menghela napasnya. Kemudian pergi menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Freya merasa heran. Lucas tiba-tiba memberi tahunya untuk tidak terlalu dekat dengan Jeremy. Dia tidak tahu mengapa Lucas bisa mengenal Jeremy padahal mereka berada di kelas yang berbeda.


Tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Lucas, Freya memilih untuk masuk ke kamarnya sendiri dan melakukan kegiatan hariannya.


__ADS_2