
Apakah ini benar-benar terjadi?
Mengapa . . . mengapa dia bisa berada di sini?
Setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu . . . apakah mereka berada dalam garis takdir yang sama?
Freya berlari, membelah kota Yogyakarta di sore itu.
Dia sama sekali tidak berani menoleh ke belakang. Jika dia berpaling, dia takut pria itu mengikutinya. Apabila dugaannya benar, Freya tidak bisa berlari lagi.
Kakinya bergetar seolah-olah jantungnya jatuh ke bawah. Debaran kuat ini bukan karena dia jatuh cinta ataupun gugup bertemu dengan masa lalunya. Freya tidak tahu pasti mengapa dia ketakutan. Yang dia tahu adalah dia sama sekali tidak ingin bertemu dengan Lucas.
Langkahnya yang cepat membawa Freya kembali ke rumahnya yang hanya menghabiskan waktu sebanyak 10 menit dengan berjalan kaki dari mal tempat dia bekerja.
Ketika dia tiba, Kakek Pati juga baru saja datang bersamaan dengan dirinya. Pria tua itu tersenyum pada Freya, lalu dia beralih pada Syakia. Tangannya yang telah berkeriput itu menepuk pelan kepala Syakia, lalu memberikan beberapa petuah pada bocah itu.
Bocah itu tidak memakai alat bantu dengar, tetapi Freya melihat Kakek Pati berbicara di dekat telinganya. Tampak seperti berbisik. Freya tidak tahu apakah Syakia memahami apa yang Kakek Pati katakan atau tidak. Bocah itu mengangguk dengan wajah datar. Melihat reaksi hambar yang diberikan oleh Syakia pada Kakek Pati mengingatkannya pada seseorang yang baru dia temui.
Ah, mengapa dia harus mengingat pria itu lagi?
"Freya."
"Ha? Iya, Mbah?"
Tanpa dia sadari, pertemuannya dengan Lucas beberapa waktu lalu membuat dirinya melamun. Jika Syakia tidak menarik bajunya, mungkin Freya tidak akan mendengar panggilan Kakek Pati.
"Mbah balik, yo."
Pria tua itu memutar becaknya. Benda itu terlihat rapuh, tetapi ketika Kakek Pati menaikinya, kendaraan itu seolah menunjukkan pada Freya bahwa dia masih mampu membawa Kakek Pati berkeliling.
"Iya, Mbah. Makasih banyak, ya. Maaf selalu ngerepotin."
Freya berkata dengan tulus. Sejak dia masih sendiri hingga memiliki Syakia, Kakek Pati selalu membantunya, bahkan ketika dia pindah rumah dan tidak punya waktu untuk menjaga Syakia pun pria tua itu menawarkan diri untuk menjaga Syakia. Mengantar dan menjemput bocah itu dari sekolah, kemudian membawanya ke rumah anaknya yang tinggal di kota agar Syakia bisa bermain dengan cucunya sambil menunggu Freya pulang. Ketika sore tiba, Kakek Pati akan mengantar Syakia pulang dan jika Freya belum tiba, Kakek Pati akan menunggu Freya bersama dengan Syakia di depan rumah.
Kakek Pati melemparkan senyuman pada Syakia, melambaikan tangan pada bocah itu sebelum dia mengayuh sepedanya. Pria itu dengan santai membawa becak miliknya keluar dari area rumah Freya.
__ADS_1
Sepeninggal Kakek Pati, Freya meraih tangan kecil Syakia dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Mandi dulu, ya. Buka bajunya."
Syakia memperhatikan gerakan bibir Freya, kemudian dia membuka seragamnya seperti yang disuruh oleh ibunya. Setelah bajunya terlepas, Syakia menunggu ibunya mengambil handuk untuknya. Namun, orang yang dia tunggu bergeming dari posisinya, membuat Syakia harus menggoyangkan lengan Freya.
Freya tersentak dari lamunannya. Dia menunduk ke bawah, melihat Syakia yang menatapnya dengan polos.
"Mana baju kamu?" tanya Freya.
Syakia mengernyitkan dahinya. Dia menunjuk ke arah seragamnya yang dia letakkan di atas karpet lantai.
"Kenapa dilepas?" Freya bertanya lagi, tetapi sedetik kemudian dia baru mengingat perkataannya sendiri. "Oh, ya. Tadi Bunda suruh lepas, ya?" Syakia mengangguk. Mata kecilnya yang tidak memiliki kelopak ganda menatap lurus ke arah Freya.
"Ayo, mandi."
Freya menarik pelan tangan Syakia menuju kamar mandi. Membantu bocah itu membersihkan tubuhnya. Sebenarnya, Syakia tidak ingin dibantu oleh ibunya, tetapi karena tangannya kecil dan pendek, dia tidak bisa menggosok seluruh badannya. Oleh karena itu, Freya selalu berkata bahwa Syakia tidak pernah bersih jika mandi sendiri.
"Pedih!"
Freya hendak mencuci rambut Syakia karena bocah itu belum mencuci rambutnya selama dua hari. Tanpa sengaja dia salah mengambil botol. Karena pikirannya kacau, Freya menuangkan sabun cair ke rambut Syakia. Menyebabkan tetesan cairannya jatuh ke mata anak itu.
Syakia berteriak kencang karena matanya terasa perih. Freya buru-buru mengguyur Syakia dengan air. Menggosok kuat muka anak itu agar cairan tersebut pudar dalam air.
Setelah selesai memandikan Syakia dan membantunya berpakaian, Freya menjatuhkan dirinya di atas lantai beralaskan karpet. Tenaganya habis terkuras hari ini. Untuk mandi pun dia tidak punya energi lagi.
Syakia melihat ibunya dari pintu kamar. Dia tahu ibunya lelah karena bekerja, tapi dia belum pernah melihat ibunya melamun seperti itu. Sejak pulang tadi, ibunya melakukan beberapa kesalahan. Syakia tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya, tapi dia merasa sangat khawatir.
Bocah itu berjalan menuju Freya. Orang yang lebih dewasa darinya itu tidak menyadari kedatangannya. Entah karena dia berjalan tanpa suara atau karena pikiran Freya lebih ribut dibandingkan dengan suara langkah kakinya.
Dengan perlahan, Syakia duduk di samping Freya. Iris beningnya memandangi wajah ibunya yang terlihat memiliki banyak hal di kepalanya.
Syakia melirik paha Freya yang masih dibaluti celana jeans. Ibunya, bahkan tidak berniat untuk mengganti baju. Syakia mengangkat jari kecilnya. Menepuk pelan paha Freya untuk menarik perhatiannya.
Beberapa kali Syakia menepuk, Freya baru tersadar dari lamunannya. Dia melihat Syakia, kemudian tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kenapa?"
Syakia menatapnya sebentar. Lalu, dia menarik tangan Freya yang paling dekat dengannya. Freya tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh bocah itu. Dia menatap anak itu sambil mengikuti gerak-geriknya.
Syakia membalikkan telapak tangan Freya. Membuka jari-jarinya sehingga menunjukkan garis-garis tangan milik Freya.
Syakia meletakkan ujung jari telunjuknya di atas telapak tangan Freya. Dengan halus dan lembut, dia menuliskan beberapa kata di atasnya.
Freya mengernyit, dia merasa geli di telapak tangannya. Syakia menulis kata-kata dan itu menggelitik dirinya. Namun, karena melihat wajah Syakia begitu serius, Freya tidak berani tertawa.
Karena rasa geli itu, Freya tidak tahu apa yang Syakia tulis di tangannya. Jadi, dia menatap anak itu tanpa mengatakan apa pun.
Sadar jika ibunya tidak mengerti dengan apa yang dia tulis, Syakia mengulanginya lagi. Kali ini, dia menulis tiap huruf tersebut dengan perlahan agar Freya merasakannya.
Freya memperhatikannya dengan serius. Sebelumnya, dia tidak fokus sama sekali. Karena Syakia mengulanginya lagi, Freya tidak ingin menyia-nyiakan usaha putrinya. Dia dengan serius merasakan dan melihat jari-jari itu bergerak. Di dalam hati, dia menyebut huruf-huruf yang ditulis oleh Syakia di atas telapak tangannya.
J. A. N. G. A. N. S. E. D. I. H.
"Jangan sedih?" Freya bertanya, kedua alisnya terangkat sambil menatap Syakia.
Bocah itu tersenyum. Kemudian, dia menulis lagi. Freya memperhatikannya lagi dengan serius.
A. D. A. S. Y. A. K. I. A. D. I. S. I. N. I.
Syakia selesai dengan kalimatnya. Dia menarik tangan kecilnya dan menunggu reaksi Freya.
Wanita di depannya terlihat diam menatap tangannya sendiri. Kemudian, dia tertawa kencang. Syakia terkejut dengan respons Freya yang di luar dugaannya. Dia mengira ibunya akan menangis terharu karena kata-kata yang dia berikan.
"Syakia. Kenapa gak bicara aja? Eum?" Freya mengacak rambut anaknya dengan gemas.
Syakia mengerutkan bibirnya. Terlalu memalukan untuk mengatakannya secara langsung. Ibunya tidak bisa memahami dirinya sama sekali.
Freya tidak bisa berhenti tertawa. "Jangan cemberut. Pengen Bunda cubit pipinya. Sini, sini. Peluk."
Meskipun dia kesal, Syakia tetap mendekat dan memeluk ibunya dengan erat. Menyembunyikan wajahnya yang memerah di perut ibunya.
__ADS_1
Freya tersenyum. Memiliki anak seperti Syakia bisa mengisi kembali tenaganya yang hilang.