
Mega membuka ruangan Alfian dengan keras,
Plak....
"kenapa kamu menamparku?" Alfian terkejut karena ditampar oleh Mega
"kau masih bertanya, heh, kalian memang pasangan tidak tahu diri, aku baru saja menemui jalangmu itu, kau bisa menyangkal tidak tidur dengannya tapi jalangmu itu mengakuinya, laki laki tidak tahu diri, aku kurang apa? aku cantik, aku kaya, aku punya segalanya, tapi kenapa kamu masih mencari kepuasan dengan perempuan lain!!!"
"Mega cukup!!!! aku sudah muak dengan semua tuduhanmu, berapa kali harus aku jelaskan, kami tidak memiliki hubungan apapun, aku sudah lelah, aku akan segera mengurus perceraian kita"
"aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kamu harus ingat hutang budi keluargamu, kamu tidak bisa berbuat seenaknya padaku, aku tidak mau bercerai!!!"
"buat apa kita masih bersama, kamu tidak pernah menghargai dan menganggapku sebagai suami, kamu seenaknya sendiri, kamu egois, pernahkah kamu melakukan tugasmu sebagai seorang istri? tidak!!! dan masalah hutang budi, aku rasa kerja kerasku selama tiga tahun sudah impas untuk mengganti semua hutang budi keluargaku"
"aku melaksanakan kewajibanku, aku selalu melayanimu, apa itu belum cukup! dan hutang budi keluargamu tidak akan pernah aku anggap lunas jika kau menceraikan aku" bentak Mega tak mau kalah
"sudahlah, orang sepertimu tidak akan tahu apa saja kewajiban seorang istri, tugas istri bukan hanya melayani suami, aku sudah menyerah menghadapi sikapmu, mungkin perceraian adalah jalan terbaik untuk kita" Alfian pergi meninggalkan Mega
"Al, jangan pergi, kamu mau menemui jalangmu itu, Al...Al,,," Mega terus berteriak namun Al sama sekali tidak menghiraukannya.
"bre...sek!!!!" Mega membanting semua yang ada di meja Al.
********
Semilir angin bertiup mengapu dedaunan kering yang berterbangan, rumput hijau yang terbentang luas, pohon pohon rindang seolah melukiskan betapa indah ciptaan-Nya.
Al melamun, dia duduk seorang diri di sebuah danau yang jauh dari keramaian kota, pikirannya berkelana, banyak sekali kejadian yang dia alami dalam hidup ini, pahit dan manis sudah ia rasakan, entah kenapa hidupnya terasa hampa, sejak persahabatannya hancur, sedikit demi sedikit kepahitan hidup menghampirinya, seakan kesialan yang tiada habisnya hidup Al begitu memprihatinkan.
Aku percaya suati hari kebahagiaan akan menghampiriku, saat ini kekuatanku sedang di uji, Tuhan sedang ingin melihat sampai mana aku bisa berjuang.
"Al" panggil Panji sahabatnya
"kamu tahu aku disini?"
"aku tidak sengaja melihat mobilmu saat di lampu merah, aku yakin kau akan kesini dan benar kau ada disini"
"aku hanya menenangkan diri"
"ada masalah apa lagi? istrimu?" tebak Panji, Al hanya mengangguk
Panji adalah sahabat Al, dia juga bersahabat dengan Marchel, namun karena suatu kesalahpahaman persahabatan mereka hancur
__ADS_1
"ada apa lagi dengan istrimu?"
"dia selalu menuduhku selingkuh, aku sudah menjelaskan berkali kali jika aku tak melakukannya, tapi dia masih kekeh dengan pemikirannya, aku lelah Ji, aku lelah, tidak ada bedanya hidup sendiri ataupun berumah tangga"
"kamu pasti bisa melewati semuanya, sejak awal kamu sudah tahu jika istrimu orang yang tempramen, kamu hanya perlu meningkatkan kesabaran"
"tapi kali ini sudah keterlaluan, selingkuh? bahkan dalam bayangan saja tidak pernah terlintas di otakku"
"kuncimu hanya sabar Al"
"ya kau selalu mengatakan hal itu bahkan sudah ribuan kali" Panji terbahak, Al adalah sahabatnya yang paling sabar, dia hangat dan pengayom, siapapun yang dekat dengannya pasti akan nyaman.
"siapa wanita yang dituduh sebagai selingkuhanmu?"
"ini" Al memberikan ponselnya dan menunjukkan video dimana Mega melabrak Davin. Mata Panji membulat
"bukankah ini tunangannya Marchel?" tanya Panji
"kau tahu dia tunangan Marchel?"
"tentu saja, jangan lupakan jika aku masih bersahabat dengan Marchel"
"ah ya aku lupa"
"maksudmu?"
"Davin bukan gadis sembarangan, dia memiliki sabuk hitam bela diri, sebenarnya dia wanita yang baik, sayangnya dia akan menjadi monster saat ada yang mengusik hidupnya, apalagi ada Marchel di balik punggungnya"
"apa dia selalu mengandalkan Marchel?"
"tidak, Davin gadis mandiri, dia pemberani dan suka dengan tantangan, tapi apa benar Davin selingkuhanmu?"
"kau ini, aku bahkan baru bertemu dengannya sekali, itupun Marchel langsung menyusul kami, dia terlihat sangat over protictive"
"tentu saja, kau tidak lihat betapa sempurnanya seorang Davina Brigita, tentu saja Marchel akan menjaganya seperti berlian, sebaiknya kau peringatkan istrimu untuk tidak berurusan dengan Davin"
"memangnya kenapa? kau belum tahu sifat Mega, dia seperti harimau kelaparan jika sedang marah"
"kau juga belum tahu sifat Davin, seperti yang aku katakan dia suka tantangan, apa istrimu pernah menemui Davin?"
"tentu saja, bahkan tadi pagi dia menemui Davin, dan aku di hadiahi tamparan oleh Mega, dia bilang Davin mengaku tidur denganku"
__ADS_1
"benar kan, Davin memang suka tantangan, musuhmu bukan hanya Marchel tapi Mega"
"lalu apa yang harus aku lakukan?"
"buat Mega berhenti mengganggu Davin"
"itu akan sulit, Mega sudah membenci Davin hingga mendarah daging"
"maka bersiaplah kembali berperang dengan Marchel"
Al menghela nafas, apalagi kejutan yang akan terjadi dalam hidupnya.
"lalu apa rencanamu kedepan?" tanya Panji
"mungkin bercerai adalah jalan terbaik"
"pikirkan baik baik Al, Tuhan membenci perceraian"
"lalu jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?"
"hum, apa ya?"
"ck, kau saja tidak tahu akan melakukan apa"
"hehhehe"
"dulu aku menganggap Mega adalah takdir dari Tuhan, aku tidak mencintainya, aku dipaksa keadaan, namun lambat laun aku mulai membuka hati, sayangnya Mega semakin menjadi jadi, aku suaminya tapi semua keputusan ada ditangannya, dia bertindak sesuka hati, bahkan orang tuanya hanya memikirkan Mega dibanding kedudukanku sebagai kepala rumah tangga"
"Al, hidupmu sungguh sulit, sejak kejadian 9 tahun lalu, kesialan selalu menimpamu, hingga saat ini pun begitu, tapi aku yakin kau akan mendapat kebahagiaan suatu saat nanti"
"semoga saja, aku hanya berharap Marchel bisa mendengar penjelasanku atas kejadian itu"
"aku yakin ada saatnya Marchel akan mendengarkan penjelasanmu"
"terima kasih sudah mau berteman denganku"
"hei, kau ini bicara apa sih, kita berteman sejak SMA, jadi jangan bicara seperti itu, sudah sore sebaiknya kita pulang"
"kau pulanglah dulu, aku masih mau disini"
"baiklah, jangan pulang terlalu malam atau istrimu akan kembali salah paham"
__ADS_1
"iya, terima kasih atas waktumu"
"baiklah aku pulang"