
Hari yang ditunggu tunggu telah tiba, hari ini Marchel dan Davin akan melakukan pernikahan yang seharusnya mereka lakukan 6 tahun lalu. Meskipun takdir membuat mereka berpisah, membuat dua hati tersakiti, menimbulkan dendam dan berujung saling menghancurkan. Namun hari ini takdir juga membuktikan bahwa manusia hanya bisa menjalani garis hidup yang sudah tertulis untuk-Nya.
Davin telah siap dengan gaun putih nan cantik, ia baru selesai dirias oleh penata rias terkenal ibukota. Tak tanggung tanggung, Marchel menyiapkan semuanya dengan sangat mewah, mulai dari WO kelas atas, gaun pengantin, dekorasi, catering, musik, undangan semua menggunakan orang orang terbaik.
Suasana gedung tampak sangat cantik dan menawan, satu persatu tamu mulai berdatangan.
Marchel tak kalah tampan, dia terlihat begitu gagah. Selalu terselip senyum di wajahnya tampannya. Begitupula dengan Ria sang mama, dia menatap putranya dengan bahagia dan haru.
Citra dan Evan serta Vin juga tak ketinggalan, mereka memakai seragam yang memang di desain khusus untuk orang tua mempelai dan keluarga.
Marchel telah siap, dia duduk dihadapan penghulu dan juga Evan, calon mertuanya. Marchel begitu gugup menunggu kedatangan Davin. Meski bukan pertama kalinya ia menikah, tapi ini adalah moment yang dia tunggu tunggu bahkan sejak dulu, apalagi hari ini dia menikah dengan wanita yang sangat dia cintai, tentu rasanya deg degan dan gugup.
Tamu undangan sudah berjejer menduduki kursi yang telah disiapkan. Panji dan Al duduk di samping kiri Marchel sedangkan para istri mereka duduk di samping kanan. Jika bertanya bagaimana hubungan mereka bertiga, maka jawabannya, mereka telah kembali menjadi sahabat. Beberapa hari yang lalu mereka sengaja bertemu untuk saling meminta maaf dan memulai persahabatan mereka dari awal lagi.
Tak lama Davin datang dengan digandeng Citra dan Ria. Marchel tak berkedip menatap calon istrinya. Davin terlihat sangat cantik, desain gaun sederhana dengan taburan permata membuatnya semakin terlihat mempesona.
Davin sudah duduk di samping Marchel, dia juga tak kalah gugup. Acarapun dimulai, Evan berjabat tangan dengan Marchel untuk melakukan akad nikah. Marchel mengucapkan akad dengan satu tarikan nafas, suaranya begitu lantang dan jelas. Semua orang tampak lega, akhirnya kedua insan yang saling mencintai itu telah resmi menjadi sepasang suami istri. Orang tua dan kerabat memberikan selamat dan beberapa wejangan untuk rumah tangga mereka kedepan.
Vin terus tersenyum ke arah orang tuanya. Dia begitu bahagia melihat kedua orang tuanya telah bersatu kembali.
Davin dan Marchel melakukan sesi pemotretan di luar gedung yang memang dihias khusus untuk berfoto,
__ADS_1
Keduanya tampak sangat bahagia, senyum selalu menghiasi wajah keduanya.
"kalian berdua bahagia?" tanya seorang perempuan yang membuat Marchel dan Davin terkejut
"Syeila" ucap Marchel dan Davin bersamaan
Para keluarga berlarian keluar saat mendengar kabar jika ada mantan istri Marchel berada disini, mereka takut Syeila akan melakukan suatu hal buruk. Apalagi seharusnya Syeila dipenjara, bagaimana bisa dia datang kemari.
Kemarin Syeila akan dipindahkan ke lapas, sayangnya dia berhasil mengelabuhi penjaga dan berhasil kabur dengan membawa serta pistol milik salah satu polisi yang mengawalnya.
"hahaha, kalian terkejut melihatku?" tanyanya tersenyum sinis, "kalian mau berbahagia di atas penderitaanku begitu? oh tentu saja aku tak akan membiarkan hal itu terjadi"
"sebenarnya apa maumu? kenapa bisa kau keluar dari penjara?" tanya Marchel
"haahah, itu tidak penting bagaimana caraku keluar dari penjara, dan kau ingin tahu apa mauku? aku mau nyawa pelakor sialan itu dan kau, honey..., mari kita rujuk"
"hahahah, kau mau merebut suamiku? dasar tidak tahu diri, sampai matipun kau tak akan bisa membuat Marchel mencintaimu, sekalipun kau telanjang didepannya, cinta Marchel hanya untukku" Syeila geram, kupingnya panas mendengar ucapan Davin. Dia segera meraih benda yang terselip di punggungnya lalu mengarahkan benda tersebut ke arah Davin, sontak hal itu membuat suasana menjadi riuh. Dan terdengar beberapa jeritan dari keluarga.
Beberapa penjaga berusaha mendekat, namun mereka tak bisa gegabah mengingat Syeila memiliki pistol yang bisa saja dia gunakan untuk melawan mereka.
"Syei, darimana kau mendapatkan senjata itu, buang itu Syei!!" teriak Marchel
"tidak penting aku memperolehnya darimana, yang penting pelakor itu harus mati!!" teriak Syeila
DOR..........
Semua orang terdiam, mereka memandang ke arah Davin yang memang menjadi target Syeila, tapi sayangnya yang tertembak bukan Davin, tapi Pras, ayah Syeila
"a...ayah" ucap Syeila terkejut, dia segera berlari ke arah ayahnya yang terkena tembak oleh dirinya sendiri. "ayah...bangun, kenapa ayah melakukan hal ini, kenapa ayah melindungi pelakor sialan itu?" Syeila menangis memegangi tubuh Pras yang ambruk karena tembakan darinya
__ADS_1
Semua orang memandangi mereka, banyak tamu undangan yang menyaksikan kejadian ini. Evan segera meminta para penjaga untuk membubarkan tamu undangan, dengan terpaksa tamu undangan harus pulang karena kejadian ini. Hal ini lebih baik daripada mereka akan bergunjing tentang tragedi yang terjadi di pernikahan Marchel dan Davin.
Pras terlihat menahan sakit, tembakan tersebut tepat mengenai dadanya, nafasnya terengah engah.
"Syei, a...ayah minta setelah ini jadi..lah wanita yang baik, lupakan semua den..dammu...kamu bukan wanita jahat,..ikhlaskan se..mua..nya, hiduplah tanpa rasa dendam dihatimu, carilah pendamping hidup yang mau menyayangi dan menerimamu apa adanya..uhuk...uhuk..."
"yah, jangan berbicara seperti itu, a..aku minta maaf tapi jangan tinggalkan aku, aku mohon, hanya ayah yang aku miliki di dunia ini"
"ayah...me..nya...ya..ngimu" Pras menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Syeila, Syeila menangis histeris, ayahnya, satu satunya orang yang dia miliki didunia ini telah pergi selama lamanya karena dirinya. Menyesal, tentu..secara tidak langsung Syeila telah membunuh ayahnya sendiri
"Syei.." panggil Panji
"pergi...pergi...jangan mendekat, aku benci kalian semua, karena kalian hidupku menderita, karena kalian ayahku tiada, pergi." teriak Syeila
Polisi segera datang, lalu membawa Syeila.
"saya mohon, ijinkan saya melihat ayah saya untuk yang terakhir kalinya, ijinkan saya membawa ayah saya di tempat peristirahatannya yang terakhir" mohon Syeila, akhirnya polisi mengiyakan permintaan Syeila, mereka membantu Syeila mengurus jenazah Pras. Mereka pergi meninggalkan gedung pernikahan Davin dan Marchel dan membawa jenazah Pras ke rumah duka. Al dan Panji mengikuti polisi untuk membantu mengurus Pras, walau bagaimanapun dulu mereka adalah sahabat dan Pras adalah sosok yang baik.
Davin begitu shock, dia gemetar. Ketika Syeila mengarahkan tembak itu padanya, Marchel berusaha melindunginya namun tiba tiba Pras mendorong mereka berdua hingga dirinya yang terkena tembakan. Davin melihat Pras yang tersenyum padanya sesaat sebelum ambruk setelah tertembak. Marchel yang melihat Davin gemetar segera membawanya masuk, begitu juga dengan Ria, Citra dan Evan yang mengikuti mereka.
"sayang minumlah dulu" Marchel memberikan air minum kepada Davin, dia menerima lalu meminumnya
"a..aku membuat om Pras mati" ucap Davin
"hei, bukan salahmu, semua ini adalah takdir, bukan kamu penyebab om Pras meninggal" Marchel berusaha menenangkan Davin
"tapi dia tertembak karena melindungiku"
"sstt, dengar, om Pras adalah orang yang baik, dia melakukan semua itu untuk menyadarkan Syeila, sebelumnya dia telah meminta maaf padaku atas semua yang Syeila lakukan, dia menyesal telah membantu Syeila melakukan hal jahat itu pada kita, dia hanya berusaha menebus kesalahannya, jangan menyalahkan dirimu sendiri atas semua yang terjadi, aku yakin Tuhan telah menyiapkan hikmah dari semua kejadian ini"
__ADS_1
"Marchel benar Vin, semua bukan salahmu, dan semua sudah berakhir, papa harap setelah ini kalian akan bahagia" sambung Evan
Davin terdiam, ya..mungkin Tuhan telah mengatur skenario hidupnya demikian. Semoga setelah ini semua akan baik baik saja dan bahagia.