
Satu tahun berlalu, hidup Syeila benar benar tak tenang, dia selalu mendapat teror setiap hari. Hubungannya dengan Marchel pun tidak mengalami kemajuan, Syeila bahkan melakukan berbagai cara agar Marchel membuka hatinya, sayangnya hati pria itu tertutup rapat. Dua kali mereka menghabiskan malam bersama, itupun Syeila menjebak suaminya. Sejak saat itu Marchel semakin membatasi dirinya dengan Syeila, tak jarang pria itu bermalam di kantor. Namun Syeila masih berkeras hati, dia terus melakukan banyak cara untuk lebih dekat dengan Marchel.
Hari ini, ada arisan dirumah Ria, sebagai menantu Syeila membantu Ria menyiapkan hidangan untuk teman teman arisannya.
Tak lama, ibu ibu sosialita itu datang, mereka bergaya glamour, terlihat sekali jika mereka orang orang kaya. Syeila membawakan kue untuk mereka ke ruang tamu.
"silahkan tante"
"ah, terima kasih, kamu pasti Syeila istrinya Marchel ya?"
"iya tante" Syeila tersenyum
"sudah berapa lama menikah dengan Marchel?" tanya ibu ibu satunya
"sudah satu tahun" jawab Ria
"wah sudah lama ya, tapi kok belum isi jeng, anak saya saja yang baru dua bulan menikah sudah isi loh"
Ria menatap Syeila, mata wanita paruh baya itu terlihat sedih, Syeila sadar jika Ria pasti menginginkan cucu. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak mungkin mengabulkan keinginan mertuanya, karena jika semua itu terjadi, dia pasti akan berpisah dengan Marchel.
"saya permisi dulu tante, silahkan dinikmati" Syeila berjalan menuju ke kamarnya.
"maaf ya jeng, sepertinya saya menyinggung perasaan mantumu"
"tidak jeng, mungkin belum di kasih saja sama Tuhan" kilah Ria
__ADS_1
"yang sabar ya, mungkin mereka harus lebih ekstra bikinnya"
"mungkin saja" sahut Ria tersenyum kecut
"padahal aku lebih suka sama anaknya jeng Citra loh, tapi mau gimana lagi kalau memang ga jodoh"
"iya ya aku juga, anaknya jeng Citra selain cantik juga baik, tapi dimana dia sekarang ya?"
"eh, iya ya jeng, dia menghilang gitu aja, mungkin frustasi karena gagal menikah, dan gimana kabar jeng Citra ya, udah lama ga denger kabarnya, dia keluar arisan sejak masalah itu, kasihan ya dia pasti malu banget"
Begitulah obrolan ibu ibu sosialita itu, Ria merasa tersindir, tapi mau bagaimana lagi, dia juga merasa bersalah pada Davin dan keluarganya, selain menyakiti hati mereka, dia dan Marchel juga membuat keluarga itu malu.
Kamu dimana sayang, mama kangen kamu, semoga kamu baik baik saja
*******
"kamu sudah lama Ji?" sapa Syeila, Panji tak menjawab, dia menatap tajam dua orang ini.
"Ji, kenapa mengajak kami bertemu?" tanya Marchel
"tidak ada, hanya ingin berbicara dengan sahabat lama saja" Syeila menangkap hal janggal dari Panji, Panji pria yang tegas dan tatapan matanya saat ini menandakan ada sesuatu yang serius, dia mulai khawatir
"Ji, sebenarnya ada apa?" tanya Syeila, perasaannya sudah tidak enak
"apa kamu bahagia menikah dengan Marchel?" Deg...Syeila mendadak gugup
__ADS_1
"ke...kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Syeila sementara Marchel hanya diam, dia tahu pasti ada sesuatu
"aku hanya bertanya, apa kamu bahagia menikah dengan Marchel? ah tentu saja kamu bahagia karena kamu sudah menyukai Marchel sejak SMP, memiliki Marchel adalah cita citamu sejak dulu," Syeila sudah pucat, ia takut Panji tahu rahasianya
"Ji, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" tanya Marchel
"kalian berdua bahagia di atas penderitaan Davin!!!" bentak Panji, Marchel dan Syeila tercengang saat Panji membentak mereka, "kau, wanita paling egois yang mementingkan kebahagianmu sendiri, kau bahagia dia atas penderitaan wanita lain, masih bisakah kau disebut seorang wanita?" tunjuk Panji pada Syeila, wanita itu sudah menangis, "dan kau, kau adalah pria pecundang dan paling bre...sek yang pernah aku kenal, kau mencampakkan Davin bagai sampah, kau bahkan lebih memilih wanita seperti dia!!" saat ini mereka sudah menjadi bahan tontonan pengunjung lainnya.
"Ji, kenapa kamu berbicara seperti itu dan apa maksudmu?"
Panji geram dia memukul Marchel dan membuat Syeila semakin menangis
"jangan pura pura bodoh, bre...sek, tanyakan dirimu sendiri kekejaman apa yang sudah kau lakukan pada Davin!!!!"
"Ji, sudah aku mohon hentikan" pinta Syeila
"aku tidak menyangka kau akan berubah menjadi wanita ambisius yang tidak berperasaan, kau begitu egois, bukan hanya kau yang ingin bahagia, Davin pun sama"
"Ji, kenapa kau terus memojokkanku dan berbicara tentang Davin, aju bahkan tidak mengenalnya!!!" Syeila juga membentak
"oh, jadi karena kau tak mengenalnya dengan seenaknya kau menghancurkan hidupnya begitu?"
"Ji, apa yang kau bicarakan aku tidak mengerti?" tanya Marchel
"tentu kau tidak akan mengerti, pria bre...sek sepertimu tidak akan pernah mengerti"
__ADS_1
"Panji, kita bisa bicara baik baik, sebenarnya ada apa" pinta Syeila
"aku sudah tak punya urusan dengan manusia pecundang seperti kalian, mulai saat ini kita bukan sahabat lagi" Panji berlalu meninggalkan keduanya yang masih bertanya tanya ada apa sebenarnya.