
Davin dan Marvin sudah berada di depan rumah orang tuanya.
ting tong
ting tong
"ish siapa sih ga sabaran banget pencet bel" omel Citra yang masih memakai masker, wajar saja hari ini adalah hari minggu
ceklek
"mommy iam scared" teriak Marvin yang melihat wajah Citra seperti monster, pria kecil itu bersembunyi di balik punggung mommynya
"ma kau menakuti anakku"
Bukan seperti orang tua yang rindu karena bertahun tahun tak bertemu anaknya, Citra justru mematung seperti patung monas. Dia masih mengumpulkan kesadarannya
"ma, kau tidak mau memelukku?"
"ahhhhhhh, Davin!!!!!" teriak Citra, ia segera memeluk putrinya yang baru pulang setelah bertahun tahun lamanya.
"ma, aku sesak" ucap Davin
"ah maaf maaf, mama terlalu bahagia dengan kedatanganmu" Citra menoleh pada pria kecil yang di bawa Davin, sekilas dia teringat wajah pria pecundang yang menyakiti putrinya, wajah anak kecil ini 100% mirip pecundang itu
"Vin,...anak ini...?"
"he's my son"
"what!!!!!!?" lagi lagi Citra berteriak membuat Marvin lagi lagi bersembunyi dibalik punggung Davin karena takut
__ADS_1
"ma, bisa tidak jangan berteriak, mama menakuti Marvin"
"Marvin????"
"huh, sudahlah, come on son kita masuk" Davin berjalan memasuki rumah sambil menuntun Marvin meninggalkan Citra yang mematung di depan pintu.
"how are you pa" sapa Davin pada Evan yang baru menuruni tangga
"Davin, kau pulang nak?" Evan memeluk putrinya, dia begitu merindukan Davin, bukan tanpa sebab, karena Davin melarang orang tuanya mengunjungi dia di Amsterdam
"ini siapa?" sambung Evan
"he's my son pa"
"ayo duduk" Evan menyuruh Davin dan putranya duduk, tak lama Citra menyusul tapi dengan masker yang sudah hilang.
"Vin, kenapa kamu tidak pernah bercerita jika kamu hamil?" tanya Evan, dia memang lebih logis daripada Citra
"berapa umurnya?"
"3 tahun 4 bulan"
"jadi dia anak pecundang itu?"
"pa jaga bicara papa, Marvin masih dalam masa pertumbuhan"
"ah, maaf papa hanya kesal saja, hai boy siapa namamu?"
"Maivin" jawabnya tegas
__ADS_1
"wah, dia sepertimu ya Vin, mama kira dia penakut"
"dia bukan anak penakut ma, dia hanya terkejut melihat mama yang seperti orang orangan sawah"
"ah, kamu ini mama ini cantik luar dalam, enak saja kayak orang orangan sawah"
"sayang sini sama opa" Marvin berjalan mendekati opanya, Evan langsung memeluk Marvin erat, hatinya kembali hancur melihat cucunya sudah begitu besar, sebagai orang tua Evan merasa tidak berguna karena tidak tahu apa yang di alami putrinya. Evan menangis dalam pelukan Marvin, pria kecil malang yang dibuang oleh ayahnya. Citra juga ikut menangis.
"mom, grandpa menangis?"
"grandpa bahagia karena bertemu Marvin"
"benaikah?"
"tentu nak, opa bahagia bertemu Marvin, opa menyayangimu" Evan kembali memeluk Marvin
"giliran oma yang peluk" Citra langsung memeluk cucunya dengan sayang.
Davin bahagia akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan orang tuanya, apalagi sekarang bersama Marvin. Mereka mengobrol banyak tentang kehidupan Davin dan Marvin di luar negeri. Davin juga bercerita dimana dia dan putranya sekarang tinggal. Sebenarnya Evan meminta Davin tinggal dirumahnya namun Davin menolak
"apa rencanamu kedepan?" tanya Citra, Marvin sudah tidur dikamar Davin
"memberikan kejutan awal kepada mereka ma"
"bagus, kami akan mendukungmu"
"terimakasih ma"
"Vin, papa tahu dendam hanya akan melukai dirimu sendiri, tapi jika mengingat mereka, papa masih sakit hati , papa akan mendukung semua yang kamu lakukan, mintalah bantuan kami kapan saja, jangan menutupi apapun lagi pada kami, kami orang tuamu, kami merasa bukan orang tua yang baik jika tidak tahu apa apa tentang dirimu"
__ADS_1
"maafkan aku pa, aku janji tidak akan menutupi apapun lagi pada kalian.