
Davin melirik spion mobil, ia tersenyum karena mobil Syeila mengikuti mereka. Jalanan yang tidak begitu ramai membuat mereka cepat sampai. Marchel membukakan pintu mobil, lagi lagi Davin tersenyum ke arah pria ini. Dia sengaja memanas manasi Syeila.
Mereka masuk dan segera memasuki lift, Syeila juga buru buru masuk ke dalam lift sebelah, karena memang dia tahu apartemen Marchel terletak dilantai berapa.
Davin dan Marchel sampai didepan sebuah pintu, Marchel memencet beberapa angka dan bip...pintu terbuka
Oh tanggal jadian kami, bathin Davin
Mereka masuk kedalam, Davin takjub, semua dinding berisi foto mereka, suasana didalam pun persis seperti rumah yang Davin hancurkan, semuanya selera Davin.
"kau suka?"
"hm"
__ADS_1
"semua ini persis dengan seleramu"
"aku tahu"
Davin berjalan ke arah dinding dimana ada foto prewed mereka dulu.
"maafkan aku" ucap Marchel dia memeluk Davin dari belakang. Mungkin karena memang rasa cinta masih ada dihatinya, Davin merasakan kehangatan dan degub jantung yang berdebar debar. Dia berbalik dan menatap wajah Marchel dari dekat, wajah pria yang mengisi hatinya selama bertahun tahun, wajah pria yang menyakitinya dengan begitu kejam dan wajah pria yang menjadi ayah dari putranya. Tanpa sadar air mata mengalir dari pipi cantiknya.
"jangan menangis" ucap Marchel sambil menghapus air mata Davin, "aku tahu aku sudah menyakitimu sangat dalam, aku bahkan tanpa penjelasan mengakhiri semuanya, tapi percayalah jika aku masih sangat mencintaimu, dulu hingga kini" tatapan mata mereka bertemu, sesungguhnya keduanya sama sama merindukan.
"sebentar" Davin mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang, dia sadar dan kembali melanjutkan rencananya.
"siapa?" tanya Marchel yang kembali memeluk Davin
__ADS_1
"bukan siapa siapa" kedua kembali berpelukan, dan berciuman,
Kau akan shock therapy sebentar lagi Syeila, Davin menyeringai
Syeila mondar mandir didepan apartemen Marchel, dia ingin masuk sayangnya dia tak tahu sandi pintu apartemen suaminya. Hingga beberapa saat ponselnya berbunyi, ternyata nomor tak dikenal mengiriminya kode pintu aparteman Marchel, dengan segera dia menekan nomor tersebut dan bip...terbuka.
Syeila melangkah masuk, ia tercengang karena langsung disuguhi foto foto Marchel dan Davin, bahkan mereka terlihat sangat bahagia. Syeila terus melangkah, di ruang tamu terdapat foto preweeding suaminya dan Davin, sebagai seorang istri tentu ia sedih melihatnya, foto ini terlihat memancarkan kebahagian dua insan didalamnya, sedangkan foto pernikahannya dengan Marchel, hanya wajah datar yang pria itu tampilkan bahkan mereka tak melakukan sesi foto preweed.
Samar samar Syeila mendengar suara dari salah satu kamar yang ia yakini adalah kamar Marchel, jantungnya berdegub kencang, Syeila takut melihat sesuatu yang ia takutkan. Memberanikan langkahnya, Syeila terus berjalan hingga sampai didepan pintu kamar tersebut, dia mengintip dari celah pintu yang memang tak tertutup sempurna.
Duarrr.........Syeila mematung, hatinya hancur, apa yang ia takutkan benar benar terjadi. Marchel dan Davin bercumbu didepan matanya. Davin melirik ke arah pintu, ia tersenyum mendapati Syeila berdiri mematung, tangannya melepas kancing kemeja Marchel, Davin ingin menguji sampai mana Syeila mampu melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain.
Sial, kenapa dia belum pergi, kalau begini aku yang kalah, ah...senjata makan tuan ini namanya, bathin Davin
__ADS_1
Marchel yang seakan mendapat lampu hijau membalas perlakuan Davin, ia juga melakukan hal yang sama. Marchel menuntun Davin ke ranjang dan akhirnya mereka kembali bercinta seperti beberapa tahun yang lalu. Syeila langsung keluar ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita lain, ia melihat dengan jelas semuanya dari awal, bagaimana perlakuan Marchel pada Davin yang tak pernah ia rasakan. Suaminya itu begitu lembut memperlakukan Davin, sambil berlinang air mata Syeila memasuki mobilnya, ia kalah....meskipun berhasil menjadi istri Marchel nyatanya dia kalah akan kekuatan cinta Davin dan Marchel.