Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Sudah Waktunya Kembali


__ADS_3

"boy, don't run!!!"


Pria kecil itu terdiam seketika mendengar suara mommynya, sementara aunty dan unclenya hanya tersenyum.


"mom, iam hungry" ya begitulah alasan si pria kecil agar mommynya tidak jadi marah


"oke, come here" little man itu berjalan menghampiri sang mommy, "are you hungry?"


"yes" dia menunjukkan wajahnya yang menggemaskan dengan pipi chubynya


"oke, lets eat"


Pria kecil jelmaan Marchel itu sudah berumur 3 tahun 4 bulan. Dia begitu tampan, lincah dan menggemaskan, Marvin tumbuh menjadi anak yang cerdas, dia lebih pintar dari anak seusianya, kadang Davin begitu kewalahan menjawab segala pertanyaan yang terlontar dari mulut mungilnya itu.


Selama ini Davin dibantu Cris dan Panji untuk merawat Marvin, Panji segera pindah ke Amsterdam setelah memutuskan persahabatannya dengan Marchel dan Syeila. Dia juga sudah menikah dengan Cris 2 tahun lalu, dan saat ini Cris sedang mengandung 5 bulan.


"aunty Cris, uncle Ji lets eat together" pinta Marvin, anak itu memang lebih sering berbahasa Inggris, tapi dia juga bisa berbahasa Indonesia.


Setelah makan Marvin bermain di ruang tamu ditemani Davin, Cris dan Panji.


"Vin, semua rencana sudah siap, sudah saatnya kamu kembali" ucap Panji, Panji sudah menceritakan semuanya, termasuk bagaimana Marchel lebih memilih menikahi Syeila dan mencampakkanya bak sampah tak berharga. Yang dia sayangkan kenapa Marchel begitu percaya ucapan ayah Syeila hingga berakhir menyakiti dirinya.

__ADS_1


"tentu Ji, terimakasih selama ini kamu dan Cris sudah membantuku, aku tidak tahu harus bagaimana mengucapkan rasa terima kasihku"


"sudahlah, kita kan keluarga, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, kami justru senang bisa membantumu, jangan lupakan kau juga membantu istriku"


"benar Vin, kalau waktu itu kamu tidak membantuku, aku tentu tidak akan bertemu kak Panji lagi, inilah yang dinamakan takdir" sahut Cris


"uh, aunty Cris co swet..." ledek Davin


"astaga orang ini, giliran serius dia bercanda, untung mood ku lagi baik" Panji hanya tertawa, dia begitu bahagia karena memiliki istri seperti Cris


"kapan kamu akan pulang?"


"maafkan kami, tapi kami betah berada disini, lagipula jika kami ikut pulang siapa yang akan mengurus butikmu disini, kamu tahu kan banyak sekali pesanan, jangan khawatir aku akan menyuruh orang orangku tetap mengawasimu"


"sekali lagi terima kasih banyak"


"sudah sudah, nanti dapat hadiah selusin piring cantik kalau bilang terima kasih terus" canda Cris


"aku titip butik Cris, butik itu adalah bukti perjuangan kita"


"jangan khawatir, aku tahu jatuh bangunnya membuat butik itu semaju saat ini, tentu saja aku akan menjaganya dengan sangat baik"

__ADS_1


"kau memang yang terbaik Cris"


"aku tidak terbaik?" tanya Panji sok merajuk


"wah wah baru kali ini suami cemburu pada istri karena sebuah pujian, baiklah Panji Ibrahim yang terbaik" Davin terkekeh


"thank you baby Davin" Panji dan Cris tersenyum


"aku doakan kalian selalu bahagia sampai maut memisahkan"


"terima kasih doanya baby Davin" Cris bangun dan memeluk Davin, ia sedikit sedih karena harus berpisah dengan Davin


"jangan kencang kencang Vin, kau menjepit anakku" ucap Panji, Davin langsung melepas pelukannya pada Cris


"astaga Cris, suamimu over protective sekali, padahal jelas jelas kau yang memelukku"


"sudahlah jangan hiraukan dia" ucap Cris sedangkan Panji cemberut


"Cris, kami pasti akan merindukanmu dan Marvin" Cris kembali berucap dengan mata sudah sedikit basah


"hei, aku tidak pergi selamanya Cris, kita pasti bertemu lagi, aku akan datang jika anak kalian lahir" Davin memeluk Cris kembali, dia juga berat berpisah dengan Cris dan Panji, tapi ini sudah waktunya dia kembali

__ADS_1


__ADS_2