
Marchel sering menemui Al, saat pikirannya benar benar buntu, tujuan Marchel hanya Al. Namun sudah setahun ini Marchel melihat Al sering ke luar negeri. Al hanya mengatakan jika ada urusan bisnis, namun Al tak menjelaskan secara detail urusan bisnis apa, sepertinya Al menyembunyikan sesuatu. Tanpa memberitahu, Marchel menuju ke kantor Al, dia ingat jika tanggal pertengahan Al pasti akan keluar negeri, Marchel mendadak sedikit curiga pada Al. Setelah tiba di kantor Al, Marchel langsung menuju ruangannya, sekertaris Al pun sudah hafal dengan Marchel yang memang sering mengunjungi atasannya. Marchel sudah didepan pintu, dia tak sengaja mendengar percakapan Al di telepon
"baiklah, setengah jam lagi daddy akan berangkat, apa Vin ingin sesuatu?"
Vin, Vin siapa? kenapa Al mengebut nama Vin dan menyebut dirinya daddy, Marchel bertanya tanya dalam hati, mungkinkah Vin yang Al maksud adalah putranya, jika benar kenapa Al tak mengatakannya, ah..mungkin bukan, nama Vin kan banyak, ucap Marchel dalam hati
"kenapa kamu rutin ke luar negeri? apa bisnismu mengharuskanmu datang setiap bulan?" Marchel datang mengejutkan Al,
"ka..mu sudah lama?" tanya Al gugup
Apa Marchel mendengar semuanya??
"kenapa kamu gugup? apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku Al?"
"ah, tidak Chel, tadi aku bertelepon dengan keponakanku"
"keponakan yang mana, bukankah mama dan papamu anak tunggal" Marchel semakin curiga kepada Al
"oh..dia anak rekan bisnisku yang di luar negeri"
"sedekat itukah kamu dengan anak rekan bisnismu? sebenarnya bisnis apa yang kamu lakukan di luar negeri?"
__ADS_1
"tentu saja bisnis tentang perusahaan Chel, kamu kan tahu bagaimana jika kita menjalin hubungan bisnis dengan rekan lain, tentu saja membahas bisnis perusahaan"
"tapi tidak ada rekan bisnis yang dekat hingga ke keluarganya Al, kau tidak sedang membohongiku kan Al?"
Maafkan aku Chel, kali ini aku harus berbohong, maafkan aku yang egois, tapi kali ini aku tidak mau mengalah, bathin Al
"maafkan aku Chel, aku harus berangkat sekarang"
"baiklah, aku akan pulang" Marchel segera meninggalkan kantor Al, tapi diam diam dia menunggu Al di dalam taksi agar Al tak curiga, saat mobil Al meninggalkan kantor, Marchel langsung menyuruh supir taksi mengikutinya. Benar, tujuan Al adalah bandara, Marchel terus mengikutinya, dia memakai kacamata dan maskernya dan mengikuti Al dari jarak yang agak jauh,
Amsterdam, apa mungkin ini ada hubungannya dengan Davin, dia dulu juga tinggal disana saat mengandung Marvin, tapi Al tidak mungkin menghianatiku, dia tahu betul jika selama ini aku mencari keberadaan Davin, jika memang Al tahu keberadaan Davin dia pasti memberitahuku, bathin Marchel
"permisi, apa penerbangan ke Amsterdam masih memiliki kursi kosong?" tanya Marchel kepada petugas loket
"sebentar saya cek dulu" petugas mengecek tiket tujuan Amsterdam
"ada pak, sisa 2 kursi, apa bapak mau mengambil penerbangan ke amsterdam?" sambung petugas loket,
"baik...." tiba tiba ponsel Marchel berbunyi, "ah maaf saya angkat telpon sebentar"
Marchel berjalan sedikit menjauh, dia melihat nomor rumahnya
__ADS_1
"hallo"
"tuan, saya bibi, nyo....nyonya jatuh dari kamar mandi"
"apa!!, bagaimana bisa?"
"saya tidak tahu, tadi saya hanya mendengar jeritan nyonya, setelah saya cek ternyata nyonya jatuh di kamar mandi"
"baiklah aku akan segera pulang"
Sial, aku jadi gagal mengikuti Al, bathin Marchel
Marchel berjalan kembali ke loket
"maafkan saya, saya tidak jadi mengambil penerbangan tersebut" ucap Marchel pada petugas loket
"ah, iya tidak apa apa tuan"
Marchel segera pergi meninggalkan bandara, dia tak mungkin mengikuti Al sementara mamanya sedang terkena musibah
Al bernafas lega, saat melihat Marchel keluar dari bandara, dia sudah menduga jika Marchel curiga padanya dan dia pasti mengikutinya, untung saja Marchel tidak jadi mengikutinya sampai Amsterdam, kalau tidak maka rahasianya akan terbongkar.
__ADS_1