Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Meminta Restu - Doubel Restu


__ADS_3

Davin dan Marchel telah menghabiskan makan malam romantis mereka tentunya dengan Vin. Setelah makan malam selesai, mereka memutuskan pulang. Kali ini Marchel akan mengantarkan Davin dan Vin pulang, sekaligus meminta restu kepada Evan dan Citra. Marchel tak mau menyianyiakan kesempatan dan dia juga tak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, Marchel, Davin dan Vin sampai dirumah Evan.


"kau yakin akan menemui papa sekarang?" tanya Davin


"tentu saja, aku tak mau menundanya lagi, lebih cepat lebih baik"


"heh, semoga saja kau tak mengulangi kesalahan masa lalu"


"jadi kau belum mempercayaiku?"


"haha, aku percaya, tapi akan lebih percaya dengan adanya bukti"


"baiklah, setelah aku mengantongi restu kedua orang tuamu, aku akan langsung menikahimu esok harinya" Davin tahu jika ucapan Marchel tak pernah main main.


"baiklah, ayo turun" Davin akan menggendong Vin yang terlelap


"aku saja yang menggendong Vin" pinta Marchel, akhirnya mereka masuk ke dalam rumah, dan kebetulan Evan dan Citra memang ada diruang tamu


"Vin" panggil Citra, dia melihat Marchel menggendong cucunya


"bawa dulu Vin ke kamar" ucap Evan. Marchel dan Davin membawa Vin dan menidurkannya ke kamar, setelah itu mereka kembali ke ruang tamu


Marchel bisa merasakan hawa tidak enak, tatapan Evan dan Citra begitu tajam padanya.


"duduk" pinta Evan, Marchel duduk di hadapan calon mertuanya sementara Davin duduk di samping mamanya


"kalian dari mana saja?" tanya Evan


"dari pantai, aku baru saja melamar Davin" jawaban Marchel membuat Citra terkejut tapi tidak dengan Evan, Evan tahu jika Davin tadi memenui Marchel, putrinya mengatakan hal itu setelah mereka keluar dari kantor polisi.


"Vin, kamu menerimanya?" tanya Citra


"iya ma"


"kamu itu bagaimana sih, kenapa kamu kembali padanya, dia sudah membuat hidupmu menderita"


"Marchel sudah menyesali semuanya ma"


"mama tidak percaya!!" ketus Citra, Marchel hanya bisa menghela nafas,


"kamu serius dengan Davin kali ini?" tanya Evan


"tentu pa" jawab Marchel mantap


"pa, pa, pa, pa, suamiku bukan papamu"

__ADS_1


"maaf" ucap Marchel


"apa yang boleh aku lakukan padamu jika kau mengulangi kesalahanmu seperti dulu?"


"om boleh mengambil nyawa saya" jawab Marchel mantap


Ok, Evan percaya, dia sudah mengenal Marchel sangat lama, hanya saja dulu Marchel pernah melakukan kesalahan. Tapi Marchel sudah berubah dan Evan bisa merasakan itu, bukankah setiap orang pernah melakukan kesalahan? dan setiap orang juga berhak mendapatkan maaf.


"baiklah, aku merestui kalian. Kapan kau akan menikahi putriku?"


"papa gimana sih, kok main terima saja, mama ga setuju!!"


"ma, Marchel sudah berubah, bahkan dia rela kehilangan nyawanya jika dia kembali menyakitiku, lagipula aku masih mencintainya" bela Davin


"cinta memang membutakan semuanya"


"ma, kali ini biarkan Davin bahagia" kata Evan, Citra terdiam, sebenarnya dia dan Evan pernah membahas hal ini, bukan Citra tak setuju, ia hanya takut Davin terluka lagi


"aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama tante, aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi untuk kedua kalinya" Citra terdiam dan memandang Marchel, lalu menghela nafas


"baiklah, aku juga merestui kalian tapi jika kau menyakiti Davin lagi maka aku akan mencincangmu dan menjadikanmu sub kaldu Marchel" Marchel meringis mendengar ancaman calon mertuanya


"jadi kapan kau akan menikahi Davin"


"besok" jawab Marchel mantap


"tentu, hari ini juga aku akan mendaftarkan pernikahan kami ke KUA"


"jika pernikahan di adakan besok, kau yakin bisa mengadakan pesta mewah, aku tidak setuju, aku mau minggu depan, kita perlu mempersiapkan semuanya" ucap Citra


"aku juga setuju, minggu depan saja lagipula kita juga perlu persiapan" sambung Evan, akhirnya Marchel mengalah dan setuju pernikahan mereka akan di adakan minggu depan


*******


Al menatap rumah didepannya, bangunan besar berlantai tiga yang terlihat sangat mewah, hari ini seperti saran Evan, dia akan meminta restu kepada orang tua Sekar. Dia dan Sekar serta orang tuanya berangkat ke kota K untuk menemui orang tua Sekar. Walau belum mencintai Sekar, Al tak pernah menganggap pernikahan sebuah permainan, sama seperti dengan Mega dulu, Al akan menjalani semuanya sebagaimana mestinya.


"kau yakin ini rumahmu?" tanya Al tak percaya, pasalnya selama tiga hari tinggal dengannya, Sekar sama sekali tak menunjukkan sikap seperti wanita kaya pada umumnya. Dia bar bar, sedikit jorok dan slengek'an. Bukan seperti Mega dulu yang selalu jaga image


"kau tidak percaya, baiklah" Sekar menurunkan kaca mobil Al dan, "pak Muji buka pintunya, princess pulang!!!" teriak Sekar dan dengan segera penjaga gerbang membukakan pintu


"astaga, kau bar bar sekali. Kenapa harus teriak segala?" ucap Al jengkel


"pak Muji sedikit budeg" jawab Sekar enteng membuat Rudi dan Silvia geleng geleng kepala, Sekar memang tidak pernah jaga image, dia apa adanya dan itulah yang Silvia sukai dari menantunya.


Al melajukan mobilnya ke dalam halaman rumah, setelah mobil berhenti, Sekar segera turun


"ayo ma, pa kita masuk" ajak Sekar

__ADS_1


"kau tidak mengajakku masuk?" tanya Al


"ah, ku kira kau tidak mau masuk" cengir Sekar


"aku bukan supirmu" ketus Al, lalu mereka semua masuk


Wardhana dan Imel sedang duduk di ruang tamu, mereka kaget dengan kedatangan Sekar yang tidak sendiri


"kau pulang anak nakal?" tanya Dhana


"jumpa lagi pa, ma" Al melongo, sapaan macam apa itu, benar benar tidak sopan, bathin Al


"silahkan duduk" ucap Imel, Al dan orang tuanya duduk


"sebenarnya apa yang terjadi, apa anak nakal ini membuat masalah dengan kalian?" tanya Dhana, karena setiap kali ada tamu pasti berkaitan dengan putri nakalnya


"em, kami sebenarnya kesini ingin memberitahukan suatu hal" ucap Rudi


"ada apa?" tanya Imel cemas


"sebenarnya aku dan putri anda telah menikah" ucap Al membuat Dhana dan Imel terkejut, Al kemudian menceritakan semua kejadian bagaimana dirinya dan Sekar bisa menikah.


"jadi kalian menikah karena tertangkap warga sedang berbuat mesum?" tanya Dhana tak percaya


"ck, tuan Wardhana yang sudah tua, aku dan dia tidak berbuat mesum, seperti ceritanya tadi, dia mabuk dan tak sengaja jatuh menimpaku, saat hendak bangun keburu kelihatan warga dan kami digiring ke kantor polisi" lagi lagi Al melongo, Sekar benar benar tidak sopan


"em, maaf tuan, semua terjadi karena salahku, saat itu aku dalam kondisi tidak sadar...."


"dia patah hati saat itu pak tua" sela Sekar


Dhana menghembuskan nafas lelah, putri tunggalnya menikah karena tertangkap warga dan lebih parahnya lagi mereka menikah di kantor polisi, astaga, ingin rasanya Dhana mengumpat, jelas hal ini sangat memalukan. Tapi dia sudah lelah,


"aku sudah menyerah kepada anak nakal ini, bisakah kau menjaganya?" pinta Dhana pada Al, Al sedikit terkejut, senakal apa istrinya hingga orang tuanya menyerah


"kedatangan kami kemari untuk meminta restu kepada kalian, terlepas dari bagaimana cara kami menikah, tapi aku tak pernah menganggap pernikahan itu sebuah permainan, aku akan menjalankan peranku sebagai suami selama kami masih bersama" jelas Al


Ucapan Al membuat Dhana lega, selama ini dia selalu pusing menghadapi tingkah Sekar. Mungkin Tuhan telah mengirimkan jodoh untuk Sekar yang bisa mendampingi dan menjaga putri nakalnya dengan baik.


"lalu bagaimana dengan statusku yang masih istri Samuel?" pernyataan Sekar membuat Al dan orang tuanya kaget, jadi Sekar masih berstatus istri orang, ya Tuhan, ingin sekali Al mengumpat saat itu juga, namun ia tahan.


"papa sudah menceraikanmu, kekasih Samuel ternyata sedang hamil, kau benar ternyata dia bukan pria setia" sesal Imel


"sudahlah ma, sekarang aku sudah menikah jadi aku harap kalian tidak mencemaskan aku lagi"


"kali ini kami harap kau tidak main main lagi"


"aku usahakan" jawaban Sekar membuat Al sedikit kecewa, entah kenapa dia tidak suka mendengar jawaban istrinya itu

__ADS_1


Mereka kemudian berbincang bincang, mereka sepakat akan mengadakan resepsi pernikahan putra putrinya bulan depan, sedangkan Sekar memilih ke luar rumah dan berjalan ke samping rumah, disana ada kolam ikan, tempat favoritnya. Tanpa Sekar sadari Al mengikutinya


__ADS_2