Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Sakit Yang Tak Berdarah


__ADS_3

Di belahan dunia lain, tepatnya di Amsterdam duduklah seorang perempuan cantik, dia memandangi pemandangan dari balkon apartemennya. Tidak pernah terbayangkan jika hidupnya akan rumit dan semenyakitkan ini.


9 tahun lalu dia kembali bertemu pria yang mengisi hatinya sejak kecil, mereka memutuskan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Empat kemudian mereka bertunangan, kala itu Marchel baru lulus kuliah sementara Davin masih kuliah di semester 5.


Lima tahun mereka bertunangan, bukan tanpa sebab mereka tak kunjung menuju pelaminan, baik Marchel maupun Davin masih sangat muda, mereka sama sama mengejar mimpi. Usaha yang mereka bangun sama sama berkembang pesat. Ketika sudah sama sama sukses Marchel mengajaknya menikah tepatnya dua bulan yang lalu. Tentu sebagai wanita, Davin sangat bahagia. Sembilan tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan, Marchel bak menjanjikan singgasana sebagai satu satunya ratu di istananya, nyatanya dia dihempaskan begitu saja bagai sampah yang tak berharga seminggu menjelang hari pernikahan.


Tak ada pukulan, tak ada sayatan pisau, tapi sakit dihati Davin jauh beribu ribu kali lipat. Inilah yang di namakan luka tak berdarah. Tanpa alasan yang jelas Marchel membatalkan pernikahan mereka, ah....tidak...lebih tepatnya Marchel mengganti mempelai wanitanya. Awalnya Davin mengira jika dia salah dengar, nyatanya semua itu nyata. Niat akan membawa kabar bahagia tentang kehamilannya, justru dia yang mendapat kabar mengejutkan.

__ADS_1


Kenapa kamu hadir jika pada akhirnya pergi, kenapa kamu menjanjikan surga jika akhirnya kamu berikan neraka, kenapa kamu membawaku terbang jika akhirnya di hempaskan, kenapa membawa bahagia jika akhirnya kau berikan luka, kenapa? kenapa Chel......


Davin bersimpuh, dia menangis tersedu sedu, dibalik angkuh dan tegar yang selalu dia tunjukkan, Davin tetaplah wanita biasa, wanita yang juga memiliki kerapuhan, dan saat ini adalah dimana dia berapa di titik paling rendah dalam hidupnya.


****


Marchel memandang foto dirinya dengan Davin, gadis itu tersenyum, senyum yang Marchel rindukan saat ini, senyum yang selalu menghiasi hari harinya selama ini, senyum yang menjadi penyemangatnya. Kini senyum itu tidak ada lagi, entah bagaimana dia harus melanjutkan hidup setelah kehilangan separuh jiwanya.

__ADS_1


Marchel terlelap sambil memeluk foto Davin, air mata masih terlihat di pipi pria itu, di malam pertamanya, dia meninggalkan Syeila, dia meratapi kepergian Davin yang ia yakini tengah membawa serta anak dalam kandungannya. Syeila membuka pintu kamar Marchel pelan, dia masuk, dan...apa yang dia lihat sungguh mengakitkan, banyak foto Davin bersama Marchel, mereka tersenyum, mereka tertawa, Marchel tidak membuang kenangannya bersama Davin, inilah alasannya Marchel tak mengijinkan Syeila berada dikamarnya. Syeila melihat Marchel tidur memeluk foto Davin, hatinya sungguh sakit


Chel, maafkan keegoisanku, aku mencintaimu, aku menyayangimu sejak 13 tahun lalu, aku hanya wanita biasa yang juga ingin dicintai, semoga suatu saat kamu bisa membuka hati untukku.


Syeila terus berjalan dikamar Marchel, hatinya menjerit hebat saat dilemari Marchel masih tersimpan pakaian wanita itu, bukan hanya satu tapi banyak dan hampir setengah dari lemari suaminya. Suami? Marchel memang suaminya, tapi nyatanya hati Marchel bukan untuknya, semangat hidup Marchel bukan dirinya. Syeila tertawa miris, inilah hidup yang harus ia jalani, inilah resiko yang harus dia tanggung,


Aku akan membuatmu melupakan wanita itu dan hanya mencintai aku, sekarang akulah pemilik dirimu, akulah yang berhak atas dirimu, aku istrimu....

__ADS_1


__ADS_2