
Ketika kamu mencintai seseorang, kamu harus membuatnya bahagia. Jika kebahagiannya bukan denganmu, relakan dia menjemput kebahagiaanya bersama orang lain karena kebahagiaan dan cinta sejati tak harus memiliki
Marchelian Pratama
*******************************
Davin segera pulang saat menerima telepon dari Cris jika Marchel dan mamanya datang. Dia begitu khawatir jika Marchel membawa pergi Vin, pikirannya kemana mana, cemas, khawatir dan gelisah. Yang menjadi pertanyaannya darimana Marchel mengetahui alamatnya, bahkan Al tak mengatakan apa apa tentang kedatangan Marchel, pasti tunangannya itu tidak tahu akan hal ini.
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Davin sampai dirumah hanya dengan menempuh 15 menit perjalanan. Dia sedikit berlari memasuki rumah
"mau apa kalian datang kemari?" tanya Davin to the point, Marchel dan Ria terdiam sejenak
"Vin" lirih Ria, wanita ini begitu merindukan Davin, dulu mereka begitu akrab dan saling menyayangi tapi sejak kejadian lalu, hubungan mereka menjadi buruk bahkan Davin tak mengijinkan Ria menemui cucunya.
"kami datang untuk meminta maaf" lirih Marchel
"minta maaf untuk apa?"
"untuk masa lalu yang terjadi di antara kita" Marchel menunduk, dia tak mampu melihat wajah wanita yang dia cintai, apalagi sebentar lagi dia akan menikah dengan pria lain, pria yang merupakan sahabatnya sendiri.
"kalian jauh jauh kemari hanya untuk meminta maaf atas kejadian masa lalu? wah..kalian luar biasa" sindir Davin, Cris yang melihat kedatangan Davin tak mau ikut campur, dia memilih menemani Marvin dan Mikha di kamar.
"maafkan kami nak, kami tahu kami bersalah. selama ini hidup kami tidak tenang, kami selalu dihantui rasa bersalah kepadamu, ijinkan kami meminta maaf"
"aku sudah memaafkan kalian, jadi urusan kita sudah selesai"
Marchel menatap Davin, wanita didepannya begitu tegas, bukan seperti Davin yang dia kenal dulu.
"Vin, bisakah kita bicara berdua?" pinta Marchel
"aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan"
"tentu ada, bukankah kau akan segera menikah dengan Al?" Deg....Davin langsung menatap Marchel, apa yang sebenarnya terjadi, pertama tiba tiba Marchel datang dan mengetahui alamatnya, kedua Marchel mengetahui tentang rencana pernikahannya dengan Al, apa Marchel berniat menggagalkan pernikahannya, seru Davin dalam hati
"aku mohon, ini pertemuan terakhir dan pembicaraan terakhir kita pula"
Davin berfikir sejenak, dia melihat sorot mata Marchel, dan memang tidak ada kebohongan disana
"baiklah" Davin mengajak Marchel duduk ditaman samping rumahnya
"sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Davin saat mereka sudah duduk ditaman
"pertama aku ingin meminta maaf atas kejadian masa lalu"
"terlambat"
"aku tahu, tapi setidaknya setelah ini hidupku tidak akan terbebani lagi"
__ADS_1
"jadi selama ini hidupmu terbebani?"
"aku selalu merasa bersalah padamu, kau tak tahu kan jika hidupku hancur, aku bahkan tak pernah menganggap keberadaan Syeila sebagai istriku, hanya kamu yang mengisi pikiranku"
"sudahlah lupakan masa lalu, jangan mengingatkanku lagi tentang kepahitan yang dulu aku alami"
"Vin, maafkan aku" Marchel menatap wanita yang dia cintai, ingin sekali Marchel memeluknya, tapi apalah daya sekarang dia bukan miliknya lagi
"aku sudah memaafkanmu"
"selamat atas pertunanganmu dengan Al, semoga kalian bahagia" lirih Marchel
"kau tidak sedang merencanakan hal licik kan?" selidik Davin
"tentu saja tidak, bukankah kau dan Al yang licik dengan memasukkan surat cerai kita di antara berkas berkas kerja samaku dengan perusahaan Al"
"kau benar, aku yang menyuruh Al melakukan hal itu, bukankah kau juga melakukan hal yang sama hingga aku menandatangani buku nikah itu? sekarang apa kau berniat membalas perbuatan kami?"
"sebenarnya aku ingin melakukannya, tapi aku sadar akulah yang menyakitimu, akulah yang mencampakkanmu, awalnya aku marah saat tahu kau dan Al diam diam berhubungan di belakangku, aku kecewa dan merasa dikhianati, tapi aku bisa apa? aku yang bersalah dalam hal ini, kau berhak bahagia dengan pria lain, pria yang mencintaimu dengan tulus" ada rasa ganjal dihati Davin mendengar penuturan Marchel, sudut hatinya nyeri, apa mungkin Davin masih mencintai Marchel, tidak, Davin tidak mencintai Marchel lagi, dia sudah mencintai Al.
"kau tidak bicara omong kosong kan Chel?"
"Vin, tatap mataku" pinta Marchel, entah kenapa Davin menjadi gugup. Dia masih berpaling,
" aku tahu sudah ada Al yang menggantikan posisiku di hatimu, kau tentu tak akan mau menatapku lagi" sambung Marchel
Marchel tersenyum kecut, apakah selama ini Marchel terlalu mengusik kehidupan Davin.
"Vin, bolehkan aku bertanya kepadamu?"
"bukankah kau sudah bertanya sejak tadi?" jawab Davin
"kau benar, kalau begitu aku tak akan bertanya lagi" Davin menghela nafas
"bertanyalah yang ingin kau tanyakan, setelah kau puas bertanya aku harap kau tak mengusikku lagi"
"apa kau dendam padaku?"
"tidak"
"tapi kenapa harus Al, kenapa pria yang menjadi sahabatku yang harus menjadi pendamping hidupmu, aku sangat tahu jika aku tak pantas untukmu, aku berusaha sekuat tenaga merelakanmu dengan pria lain jika itu memang membuatmu bahagia, tapi dengan Al, tentu aku tidak akan sanggup" suara Marchel bergetar, Davin tahu jika pria ini sedang tidak baik baik saja
"Chel, kita tidak bisa menebak siapa yang akan menjadi jodoh kita, semua adalah rahasia Tuhan, mungkin Al adalah jodohku, jadi aku harap kamu bisa menerima semuanya"
"aku tahu, kamu tidak usah khawatir, walau aku kecewa dan marah pada Al, aku tidak akan menggagalkan pernikahan kalian, semoga kalian hidup bahagia sampai maut memisahkan"
"terima kasih atas doamu Chel, aku harap kau tidak berbohong tentang ucapanmu"
__ADS_1
"apa aku seburuk itu hingga kau tak bisa mempercayaiku?"
"bukan begitu, tapi..."
"aku tahu Vin, aku memang tidak pantas mendapat kepercayaanmu setelah semua yang aku lakukan, tapi aku janji akan merelakanmu dengan siapapun"
"Chel" Davin menjadi sesak, pria ini yang dulu mengisi hatinya selama 9 tahun, menjalin kasih dan cinta, saling memahami satu sama lain, berbagi suka dan duka, berjanji sehidup semati dan bahagia hingga tua, tapi siapa sangka takdir begitu kejam pada mereka
"bolehkan aku meminta satu hal padamu?" ujar Marchel sendu
Davin menatap Marchel, jelas terlihat sorot kesakitan dimatanya
"a..apa yang mau kau minta?"
"tolong jaga putra kita dengan baik, ijinkan aku memberinya nafkah, bukan maksudku tidak mau menemuinya, mungkin setelah ini aku akan pergi jauh, aku mau memulai hidup baru yang damai, menutup semua kisah kita dengan lembaran baru"
"tentu, aku akan merawat Marvin dengan baik, bahkan selama inipun seperti itu"
"kau benar, aku bukan daddy yang baik untuknya, aku hanya pria pecundang yang tak bertanggung jawab, aku tak pantas mendapat sebutan daddy darinya, sejak kecil aku tak pernah tahu tumbuh kembangnya, aku melewatkan semua waktu kecilnya, dia bahkan tumbuh menjadi anak yang baik dan cerdas tanpa campur tanganku, tapi aku yakin Al mampu memberikan kasih sayang dan cinta kepada Marvin"
"Chel, terlepas dari semua yang terjadi, aku tak bisa menghilangkan takdir jika kau adalah daddynya, darahmu mengalir ditubuhnya, sifatmu menurun kepadanya, kau tetaplah daddynya"
"tapi aku tak pantas menerima sebutan daddy dari mulut mungilnya, Al bahkan lebih tahu segalanya tentang Marvin, sementara aku, aku tak tahu apa apa"
"sudahlah Chel, lupakan dan ikhlaskan segalanya, aku harap setelah ini kita sama sama hidup bahagia"
"tentu"
Keduanya sama sama diam,
"Vin, bolahkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya?"
Davin terperanjat, tapi permintaan Marchel hanya untuk terakhir kalinya bukan, anggaplah ini sebagai salam perpisahan. Bagaimanapun dulu mereka pernah saling mencintai
"tentu Chel" Marchel segera memeluk wanita yang dicintainya ini, menyalurkan rasa rindu yang begitu dalam, rasa cinta yang selalu dia simpan dihatinya, inilah pelukan terakhir yang dapat dia rasakan, setelah ini bukan dirinya yang akan memeluk Davin kala senang dan susah, tanpa sadar Marchel meneteskan air mata dan membasahi bahu Davin.
Davin tercengang, ia tahu Marchel menangis, selama 9 tahun bersama, baru kali ini Marchel menangis, apakah Marchel begitu tersakiti hingga dia mengeluarkan air matanya, kenapa rasanya ikut sedih melihat pria ini terluka.
Sadarlah Vin, kau akan segera menikahi pria lain, hentikan perasaan bodohmu, ini bukan cinta, kau hanya kasihan melihat Marchel, jangan goyah, jangan sakiti pria baik yang sudah berjuang mendapatkan hatimu selama ini, bathin Davin.
"terima kasih Vin, terimakasih atas semua cinta yang pernah kamu berikan, sekali lagi maafkan aku, dan aku doakan kalian bahagia"
.
.
.
__ADS_1
Marchel memutuskan pulang hari itu juga, hatinya sedikit lega karena sudah meminta maaf pada Davin. Walau hatinya sakit dan hancur, Marchel berusaha berbesar hati. Inilah akhir kisahnya dengan Davin. Marchel tak sempat bertemu dengan Panji, tapi dia menitipkan surat untuk sahabatnya itu. Setelah tiba di Indonesia nanti, Marchel akan langsung pindah ke kota K, tempat kelahiran almarhum papanya, dia akan melupakan semuanya dan memulai hidup baru bersama mamanya. Marchel tidak berniat menemui Al, dia belum siap jika harus bertatap muka dengan sahabat yang sebentar lagi akan menjadi suami dari wanita yang dia cintai.