Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Haruskah Aku Ikhlas?


__ADS_3

Tidak ada kata yang bisa Marchel ucapkan untuk menggambarkan isi hatinya. Dia sadar telah melakukan kesalahan di masa lalu, tapi pantaskah dibalas dengan semenyakitkan ini. Dia telah kehilangan wanita yang sangat dia cintai, kehilangan putranya, kehilangan satu sahabat dan sekarang dikhianati sahabat yang menjadi tempatnya berkeluh kesah setahun belakangan.


Sakit, hancur, kecewa semua bercampur menjadi satu. Al orang yang dia percaya, orang yang menjadi tempatnya bercerita, nyatanya tak lebih dari sekedar penghianat.


Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi Marchel membelah jalanan, entah kemana tujuannya pergi, dia hanya butuh waktu untuk menerima penghianatan ini.


Benar kata orang, jangan terlalu percaya pada orang terdekat kita sekalipun, selama ini Marchel menceritakan semua tentang Davin kepada Al, siapa sangka jika tanpa Marchel sadari, dia yang membuat Al menjadi memahami semua tentang Davin. Bahkan mereka sepertinya telah bertunangan, Marchel baru tahu jika ditikung sahabat sendiri rasanya sesakit ini.


Ingatan tentang perkataan Al dulu kembali mengiang di telinga Marchel


"Aku akan mendekati Davin, aku menyukainya sejak pertama kali dia menolongku dulu, jika dia sendiri yang menolakku dan memilihmu maka aku akan mundur, tapi jika Davin menerimaku maka aku akan memperjuangkannya"


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? kenapa semua menjadi seperti ini? haruskah aku melepaskan Davin dan membiarkannya bahagia dengan Al. Tapi apakah aku sanggup melihat mereka bahagia? gumam Marchel dalam hati


Marchel mengingat sesuatu, dia segera menghubungi seseorang. Dia berbicara dengan seseorang di telepon. Setelah telepon di matikan, Marchel luruh, air matanya menetes, harapannya hancur, perasaan perih, seperti inikah dulu perasaan Davin saat dia meninggalkannya dan menikahi wanita lain? tanpa penjelasan, Marchel membatalkan pernikahan mereka yang hanya kurang satu minggu, malu? tentu saja, bukan hanya Davin tapi orang tua Davin juga pasti malu, marah dan kecewa. Orang tua mana yang terima jika anaknya di sakiti, bahkan sampai saat ini pun Evan masih tak mau bertegur sapa dengannya.


Davin bahkan telah menceraikan aku, aku yakin surat itu ada di salah satu berkas kerjasama yang Al berikan, pantas saja dia memintaku untuk tak memeriksanya, jadi inikah alasannya, kenapa Al, kenapa kamu setega ini padaku, bukankah kamu tahu aku sangat mencintai Davin, kamu tahu aku tak berhenti mencarinya, kenapa kamu menjadi penghianat dalam rumah tanggaku dengan Davin? kenapa? tanya Marchel dalam hati


"kau menangisi pelakor itu?" tanya Syeila, sedari di pesta Syeila terus mengawasi Marchel bahkan dia mengikuti Marchel hingga ke tempat ini.


Marchel segera menghapus air matanya

__ADS_1


"Chel, aku yakin jika kau sudah tahu kalau Al telah menghianatimu"


"bagaimana kau tahu?"


"aku tidak sengaja melihat mereka mengambil baju disalah satu butik yang aku kunjungi waktu aku ke Belanda"


Jadi benar jika selama ini Al selalu mengunjungi Davin dan Marvin


"Chel, mereka sudah menghianatimu, penghianat memang cocok dengan penghianat, jangan memikirkan pelakor itu lagi, lebih baik kita mulai semuanya dari awal, mari kita rujuk kembali" bujuk Syeila, Marchel menyeringai


"bukankah semua ini terjadi karena ulahmu, seandainya aku menuruti ucapan Panji untuk mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, maka mereka tak akan berkhianat padaku, dan hidupku tidak akan hancur seperti sekarang. Semua terjadi karena keegoisanmu, obsesimu memiliku menjadikanku pria pecundang yang tak bertanggung jawab. Jadi buang jauh jauh mimpimu itu, sampai aku matipun aku tak akan pernah kembali pada wanita licik sepertimu!" Marchel pergi meninggalkan Syeila


Semua ini gara gara pelakor itu, jika aku tidak bisa bahagia maka dia juga tak boleh bahagia, ucap Syeila dalam hati


.


.


Marchel tak langsung pulang, ia pergi ke rumah orang tua Panji, jika Panji ada di dalam foto pertunangan Al dan Davin, tentu Panji tahu dimana Davin berada, dia tak mungkin menanyakan hal ini pada Al, selama ini Al sudah menyembunyikan keberadaan Davin. Dan satu satunya yang bisa dia tanyai hanya orang tua Panji. Marchel bertekad dan berbesar hati akan merelakan Davin dengan Al jika Davin bahagia, dia sadar jika kesalahannya dulu terlalu menyakitkan untuk bisa dimaafkan. Sudah saatnya Davin bahagia walau bukan bersamanya.


Marchel mengetuk pintu dan tak lama keluarlah Aryo papa Panji

__ADS_1


"Marchel?" ucapnya terkejut


"selamat malam om, maaf aku mengganggu"


"ah tidak, ayo masuk" Marchel mengikuti Aryo, mereka duduk di ruang tamu


"apa Panji tidak bercerita jika dia sudah tinggal di luar negeri? om dengar hubungan kalian kurang baik saat itu"


"maafkan saya om, kami memang ada masalah kecil, hingga saat ini kami belum berkomunikasi lagi, dan ada sesuatu yang ingin saya tanyakan"


"ada apa sebenarnya?"


Marchel bercerita semuanya kepada Aryo, selain Pras, Aryo juga cukup dekat dengan Marchel. Tak ada satu hal yang dia tutupi, semua Marchel ceritakan termasuk bagaimana dia meninggalkan Davin dan menikahi Syeila serta caranya yang membuat Davin menjadi istrinya dan kini dia diceraikan.


"Chel, om tahu kamu mencintai Davin tapi caramu salah, apalagi kamu pernah menyakitinya"


"saya tahu om, maka dari itu saya ingin menemuinya, jika memang Davin bahagia bersama Al, saya.....akan merelakan mereka menikah tapi setidaknya saya harus menyelesaikan masalah kami"


"om percaya kamu orang baik, om juga prihatin dengan hidupmu, sebagai pria sejati kami harus bisa bersikap dewasa, berlapang dadalah jika Davin tetap memilih Al"


"tentu om, walau sulit tapi kebahagiaan Davin lebih penting daripada perasaan saya"

__ADS_1


Akhirnya Aryo memberikan alamat rumah Davin di Amsterdam, dengan memantapkan hati Marchel berniat menemui Davin, dia harus siap dengan jawaban terburuk yang akan dia dengar.


__ADS_2