
Marchel telah tiba di Jakarta, dia langsung pergi ke apartemennya. Hari ini Marchel memutuskan untuk beristirahat. Besok dia akan melihat keadaan Davin. Marchel terus memikirkan mimpinya, ia takut akan terjadi hal buruk kepada Davin. Setidaknya Marchel bisa melihat Davin dari jauh, jika wanita itu baik baik saja maka dia akan pulang.
Rembulan telah berganti menjadi sang surya, Marchel sudah bersiap. Hari ini dia menyewa sebuah mobil yang akan di gunakan untuk memantau Davin, jika dia menggunakan mobilnya sendiri tentu akan ketahuan. Rasanya sudah seperti penguntit, yang jelas Marchel hanya ingin memastikan jika Davin baik baik saja. Kalau di pikir pikir kenapa dia harus perduli, padahal 4 hari lagi Davin akan menjadi istri orang lain. Tapi itulah cinta, cinta bisa membuat seseorang menjadi gila.
Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Marchel menuju ke rumah Davin. Ketika sampai disana tak ada kegiatan yang menonjol, pernikahan Davin dan Al memang akan diadakan disalah satu hotel bintang lima di Jakarta. Jadi tidak ada kegiatan dirumahnya. Dari jauh Marchel melihat putranya yang sedang bermain dengan Evan dan Citra. Jika saja keadaannya tidak seperti ini tentu Marchel akan menghampiri Marvin dan memeluknya. Sayangnya semua itu tidak mungkin dia lakukan, mengingat dirinya sudah berjanji untuk merelakan ibu dari putranya itu.
Sudah setengah jam lebih Marchel berdiam di dalam mobil, ia masih tak melihat Davin keluar rumah. Berniat pergi, tiba tiba Marchel melihat seseorang didalam mobil mengambil beberapa foto dirumah Davin. Marchel mengamati mobil tersebut, hingga beberapa saat mobil itu meninggalkan area rumah Davin. Marchel terdiam, banyak pertanyaan yang menggangu pikirannya. Setelah dirasa aman, Marchel juga meninggalkan rumah Davin dan kembali ke apartemen.
"sebenarnya siapa yang mereka incar, apa mungkin Davin atau papa Evan? siapa yang memiliki dendam kepada mereka, Davin tak pernah memiliki musuh , papa Evan kurasa juga begitu, lalu mereka siapa dan mau apa?"
Marchel terus bertanya tanya, hari ini dia tak berhasil melihat Davin. Dia memutuskan untuk mengintai lagi esok hari.
.
.
"bagaimana?" tanya seseorang dalam telepon
"belum ada pergerakan bos, target masih belum terlihat"
__ADS_1
"awasi terus, pastikan jika ada kesempatan, lakukan secepatnya"
"siap bos"
Syeila menutup panggilan teleponnya. Dia belum menyerah, kemarin boleh saja dia kalah tapi kali ini jangan harap. Apapun yang terjadi Davin tidak boleh bahagia. Luka ditangannya belum sembuh, dan dia berjanji, Davin harus membayar luka ini lebih berat.
****
Keesokan harinya Marchel kembali mengintai rumah Davin, lagi lagi mobil kemarin berada disana. Mungkin hal ini ada kaitannya dengan mimpinya, Marchel semakin tak tenang. Kenapa Davin tak muncul juga, kemana wanita itu pergi. Duduk didalam mobil dengan cemas, Marchel berharap bisa melihat Davin walau sebentar saja.
Sekitar satu jam kemudian, Marchel melihat Davin memasuki mobil, dia terus memantau mobil Davin hingga keluar dari halaman rumah, anehnya mobil yang mencurigakan itu juga melangkah pergi, sepertinya Davin adalah target mereka.
Katakanlah ini seperti main polisi polisian, mobil Davin diikuti orang yang mencurigakan, sedangkan Marchel mengikuti mobil keduanya. Mobil mereka masih terus melaju, Marchel tahu kemana arah jalan ini, jalan ke sebuah taman yang sering Davin kunjungi dulu ketika dia sedang sedih.
CITT........, Davin memberhentikan mobilnya mendadak, tiba tiba ada mobil yang menghadangnya dan turunlah tiga orang pria bertubuh besar
"buka!!!!!" teriak pria tersebut
Dengan terpaksa Davin membuka pintu, dia keluar
__ADS_1
"siapa kalian, dan mau apa?"
"tidak perlu banyak tanya!!!!" salah seorang pria menarik tangannya, sayang langsung ditepis oleh Davin
"jangan melawan kami!!!" pria itu berniat kembali menarik Davin, tapi Davin menolak dan memukul pria tersebut, geram..tiga pria itu secara bersamaan melawan Davin. Tiga lawan satu, entah kesialan apa hari ini, mereka bisa membuat Davin kalah hanya dengan sekali tangkisan, Davin terkena pukulan di lengan dan kakinya, tenaga dan kekuatan mereka lebih hebat darinya. Davin dipaksa masuk kedalam mobil dan mereka melaju kencang.
Marchel berniat keluar mobil dan menolong Davin, sayangnya belum melakukan hal itu Davin telah dipaksa masuk ke dalam mobil. Terlambat, itulah hal yang terjadi, Marchel gagal menyelamatkan wanita yang dicintainya. Tapi untung dia tak kehilangan jejak mereka.
"siapa mereka, kenapa mereka menculik Davin?" tanya Marchel dalam hati
Menempuh perjalanan 115,3 km dengan waktu dua jam lebih, rupanya penculik itu membawa Davin ke daerah puncak.
.
.
.
.
__ADS_1
*jika ada yang nanya kok di Jakarta, bukannya di bab sebelumnya di Amsterdam. Mon maap, author udah revisi beberapa bab dan menggantinya.
Makasih buat pembaca semua*