
Berita gagalnya pernikahan Marchel dan Davin langsung menyebar, tentu banyak yang menyayangkan kabar ini, banyak juga yang terkejut termasuk Alfian dan Panji, Al bertanya tanya namun tidak dengan Panji, semua orang heboh, tapi tidak dengan satu orang yang begitu bahagia, siapa lagi kalau bukan Mega.
"lihatlah, akhirnya Marchel sadar dan meninggalkan pelakor itu, dia bukan pria bodoh yang mau begitu saja menikahi wanita yang sudah tidur dengan banyak pria, itulah balasan jika suka bermain main dengan suami orang" Mega tertawa
"jangan lupakan juga dirimu, berkacalah, jangan hanya tahu menghina orang lain" Mega langsung terdiam, memang benar saat menikah dengan Al dirinya bukan lagi seorang gadis dan perkataan Al seperti pisau yang menusuk jantungnya.
"kau masih saja membela pelakor itu"
"jangan asal tuduh, aku selalu di kantor mana sempat melakukan hal demikian, tidakkah kau lelah terus terusan menuduhku, atau jangan jangan kau hanya menutupi kelakuanmu di belakangku"
"jangan asal bicara Al, aku tidak pernah selingkuh"
"kalau tidak mau dituduh maka jangan menuduh"
Al pergi begitu saja dari kamar, Mega tak mempermasalahkan hal itu, hari ini dia begitu senang, dia akan merebahkan diri seharian di ranjang.
******
"ayah, aku sangat bahagia, ayah lihat kan aku dan Marchel akan menikah, kami akan hidup bahagia" ucap Syeila senang
__ADS_1
"nak, apa kamu yakin kalian akan bahagia?"
"kenapa ayah bertanya seperti itu, tentu kami akan bahagia apalagi aku, aku akan hidup selamanya dengan orang yang aku cintai"
"Syei, pesan ayah hanya satu, jangan sampai obsesi dan cintamu akan menghancurkanmu suatu hari nanti"
"ayah mendoakan aku hancur?"
"tidak nak tidak, orang tua selalu berdoa agar anaknya bahagia, ayah juga mendoakanmu demikian, namun cara yang kamu lakukan untuk bersama Marchel salah, bahkan ayah menyesal telah membohonginya"
"yah, aku melakukan semua ini karena aku mencintainya, aku tidak salah?" ucap Syeila tanpa dosa
"baiklah terserah padamu saja" Pras meninggalkan Syeila di kamarnya
******
Tapi Davin terlihat tenang, bahkan saat mereka bertanya alasan Marchel membatalkan pernikahan mereka, Davin hanya menjawab mereka sudah tidak cocok lagi. Jika memang tidak cocok mengapa harus sampai tahap ini, apalagi semua sudah siap, tentu Citra dan Evan menjadi buah bibir masyarakat, banyak yang mengatakan jika putrinya dicampakkan pengusaha muda yang sukses itu karena Davin seorang pelakor, mereka bukan hanya malu tapi lebih tepatnya hancur.
"ma, pa, aku akan pergi ke Amsterdam" Citra dan Evan terperanjat
__ADS_1
"kenapa?"
"apanya yang kenapa?"
"kenapa kamu pergi, kemana Davin yang pemberani?, kemana Davin yang selalu memberontak?, kenapa kamu seakan pasrah menerima semuanya, tidaklah kamu sakit hati dan berniat membalas mereka" tanya Citra, ia begitu kenal anaknya tapi kali ini seperti bukan Davin putri mereka.
Aku pergi membawa cucu kalian dan saat pulang nanti, kami akan memberikan kejutan yang luar biasa.
"tenang saja ma, pa, aku pergi bukan karena kalah, tapi aku pergi untuk pulang dan membawa kemenangan, mereka semua akan mendapat balasan beribu ribu lebih sakit daripada yang aku rasakan saat ini"
"kapan kamu akan berangkat sayang?"
"sekarang juga"
"kenapa mendadak sekali?"
"untuk apa berlama lama disini ma, tidak ada gunanya juga dan pastikan tidak ada yang tahu keberadaanku selain kalian"
"tentu sayang, kami menyayangimu, jaga dirimu baik baik dan lakukan apapun yang akan membuatmu senang"
__ADS_1
Citra dan Evan mengantarkan Davin ke bandara. Mereka tidak tahu jika Davin tengah hamil, Davin menatap sejenak tanah kelahirannya sebelum benar benar pergi
Selamat tinggal kenangan pahit, tunggu aku kembali, tunggu hingga mereka semua menyesal telah melakukan semua ini padaku, sayang...., kita akan mulai hidup baru dan suatu saat nanti kita akan kembali memberikan kejutan pada orang orang yang menyakiti kita. Ucap Davin dalam hati sambil mengelus perutnya.