
Setelah makan siang selesai, Panji berniat mengajak Vin pulang, sayangnya putra Davin itu menolak. Ia malah meminta pulang bersama Marchel, tentu daddynya ini tersenyum menang, bisa dipastikan jika dia dan Davin akan bertemu. Marchel tak mau menyia nyiakan kesempatan lagi. Inilah saat yang tepat untuk memulai kembali semuanya.
Sebelum membujuk Davin untuk rujuk, Marchel akan mengurus Syeila terlebih dahulu. Dia telah mengirimkan semua bukti kepada polisi dan meminta kasus ini segera di proses. Dengan begitu setidaknya Syeila tidak akan mengusik hidup mereka lagi suatu hari nanti.
"dad, kita mau pulang kemana? rumah daddy atau apartemen?"
"rumah daddy" jawab Marchel tersenyum
"apa dirumah daddy ada kamar untukku?"
"tentu saja boy, bahkan kamarmu lengkap dengan mainan transformers"
"benarkah?, daddy tahu aku menyukai transformers?" tanya Vin berbinar
"tentu, daddy tahu semua yang Vin sukai"
"daddy memang the best"
Marchel melambung mendengar pujian putranya, rasanya seperti mendapat durian runtuh. Suasana seperti inilah yang dia inginkan, andai saja dulu Davin menerima pernikahan mereka, tentu saat ini mereka sudah bahagia bahkan mungkin mungkin Vin sudah memiliki adik. Ish..apa sih yang aku pikirkan, kata Marchel dalam hati.
"apa Vin mau tinggal bersama daddy?"
"mau dad, tapi dengan mommy juga ya"
"tentu, kalau begitu Vin harus membantu daddy agar mommy mau tinggal bersama kita"
"apa yang harus aku bantu dad?" tanya Vin polos, Marchel tentu senang karena Vin mau di ajak kerja sama. Ah anaknya memang bisa di andalkan.
"nanti kalau mommy datang kamu bilang mau menginap dirumah daddy ya"
"hanya itu?"
"iya, buat mommy mau menginap juga"
"beres dad" Vin memberikan jempolnya tanda setuju
Marchel dan Vin sudah sampai dirumah Marchel, mereka disambut hangat oleh para pekerja di sana. Mereka tentu senang jika tuannya pulang apalagi membawa tuan muda kecil.
Marchel membawa Vin ke kamarnya, kamar yang memang dia desain untuk putranya, bernuansa kartun transformers kesukaannya. lengkap dengan lemari dan meja belajar bertema sama. Bahkan baju bajunya pun banyak yang bergambar transformers. Vin senang bukan main, dia betah berada di kamarnya, memang di rumah Davin kamarnya juga bertema sama, tapi kamar di rumah daddynya jauh lebih besar, lengkap dengan perabot dan mainan yang banyak.
__ADS_1
*****
Davin merasa senang saat Panji mengatakan jika Vin meminta pulang dengan Marchel, itu artinya dia akan bertemu dengan pria yang dia rindukan itu. Setelah urusannya selesai, Davin segera menyusul putranya ke rumah Marchel. Rumah yang selalu dia kunjungi dulu, rumah kedua yang seperti rumahnya sendiri. Bahkan dia masih hafal setiap sudut rumah tersebut.
Beberapa menit kemudian, Davin telah sampai, dia tak langsung masuk, entah kenapa Davin menjadi gugup saat akan bertemu kembali dengan Marchel. Setelah jantungnya berdetak normal kembali, Davin turun dari mobil. Dia melangkah lalu mengetuk pintu.
"nona Davin" ucap pembantu dirumah Marchel
"em, apa Marchel ada bi?"
"ada di kamar nona, mari masuk" Davin mengikuti pembantu tersebut, sebenarnya dia tahu dimana letak kamar Marchel, hanya saja situasinya sudah berbeda, dia hanyalah tamu biasa. Akan terkesan tidak sopan jika dia langsung masuk tanpa permisi.
"sudah lama nona tidak kemari" sambung bibi
"ya, bibi tahu sendiri kan situasinya seperti apa"
Bibi dan Davin telah sampai di depan kamar Marchel,
"saya tinggal dulu nona"
"em baik bi, terima kasih"
Davin mengetuk pintu, sayang tak ada sahutan. Dengan ragu dia memutar gagang pintu lalu melangkah masuk, kosong. Kamar Marchel kosong, semuanya masih sama, foto foto mereka masih terpajang rapi seperti dulu, tapi ada satu yang berbeda, ada sebuah pintu yang entah kemana. Bukan pintu kamar mandi ataupun pintu ke arah walk in closet, ini pintu baru. Mungkinkah mereka ada disana, pikir Davin. Saat Davin tengah kebingungan, Marchel keluar dari pintu tersebut, keduanya sama sama mematung. Ada rindu di hati masing masing.
"em..ya, maaf kalau aku langsung masuk kemari, tadi bibi mengatakan jika kamu dikamar dan aku sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan jadi aku langsung masuk"
"tidak apa, kamu pasti mencari Vin kan, dia ada dikamarnya"
"kamarnya?"
"iya, ayo" Marchel mengajak Davin memasuki pintu baru tersebut. Saat masuk, Davin terdiam. Pintu ini menghubungkan dengan kamar anak yang ia yakini adalah kamar putranya. Dari dekorasinya, Davin yakin jika kamar ini memang disiapkan untuk Marvin. Dan dia melihat putranya tengah tertidur lelap sambil memeluk bantal bergambar transformers, bahkan pakaian Vin juga bergambar sama.
"tadi dia sudah mandi, mungkin kelelahan bermain jadi dia ketiduran" kata Marchel
"em, kalau begitu aku akan menunggunya hingga bangun"
"baiklah, aku akan mandi dulu" Marchel meninggalkan Davin di kamar Vin.
.
__ADS_1
.
Marvin begitu lelap dalam tidurnya, menunggu Marvin, Davin pun merebahkan diri disamping putranya. Setelah beberapa menit, dia juga ikut terlelap. Marchel yang diam diam melihat mereka dari CCTV tersenyum, pemandangan seperti ini yang selalu dia harapkan untuk bisa dilihat setiap hari. Marchel melangkah menuju kamar Vin, di pandanginya dua orang yang begitu dia cintai itu dengan perasaan bahagia. Semoga saja harapannya segera terwujud untuk segera berkumpul kembali bersama mereka.
"dad" suara Marvin membuat lamunan Marchel buyar
"kau sudah bangun boy?" Vin mengangguk, dia menoleh ke arah Davin yang terlelap disampingnya
"mommy datang?"
"iya, sudah sejak tadi, sepertinya mommy kelelahan hingga ketiduran"
"sini dad, tidur bersama kami" Marchel nampak bingung untuk menuruti keinginan putranya, ia takut Davin akan bangun dan marah jika dia tidur dengan mereka. Namun ternyata Davin sudah bangun
"mom" panggil Vin
"son, kau sudah bangun, ayo bersiap pulang"
Sepertinya Vin memang menuruni sifat Marchel, dia langsung berekting seperti permintaan daddynya
"mom, aku ingin menginap dirumah daddy" Davin menoleh ke arah Marchel, ia tahu jika ini akal akalan Marchel, walau sebenarnya dalam hati dia senang, sayang gengsi.
"tapi besok kamu harus sekolah"
"tapi mom, kapan lagi aku bisa tidur dengan kalian berdua" ucap Vin memelas
"Vin, bukan mommy tidak mau, tapi mommy dan daddy tidak bisa tidur bersama, kami...,
" baiklah Vin boleh tidur disini" Vin langsung kegirangan
"sekali saja turuti keinginan Vin, kapan lagi dia bisa tidur denganku"
"tapi dia meminta tidur dengan kita, bukan hanya denganmu"
"apa salahnya menuruti hal itu, Vin hanya ingin tidur dengan orang tuanya yang lengkap, lagi pula aku tidak akan melakukan apa apa padamu" Marchel meninggalkan Davin dan membawa Vin ke luar kamar.
.
.
__ADS_1
Maaf baru up, semoga suka bab ini ya
lop yu pul