
"tidak!!!!!, Firman, jangan tinggalkan aku!!!!" teriak Mega membuat Dewa dan Uli masuk keruangan Mega
"sayang ada apa?" tanya Uli berusaha menenangkan putrinya
"pergi!!!!!!, pergi!!!!, kalian pembunuh, kalian sudah membunuh Firmanku, pergi..Firman, jangan tinggalkan aku" teriak Mega semakin keras, Dewa segera memanggil Dokter Hendri, sedangkan Al hanya mematung tanpa paham apa yang sebenarnya terjadi.
Tak lama Dr Hendri datang dan memberikan obat penenang pada Mega dan berhasil membuat wanita itu tenang dan tertidur.
"bagaimana kondisinya dok?"
"dia mengalami stres akibat traumatis, mungkin kecelakaan tadi mengingatkan dia akan satu hal yang pernah dia alami, sebenarnya kejadian apa yang terjadi 8 tahun lalu? apa dia pernah kehilangan orang yang dia sayangi?"
Dewa dan Uli kembali saling pandang, dimata mereka terpancar rasa bersalah yang amat besar.
"baiklah kalau kalian tidak bisa bercerita, saya akan memeriksa Mega 2 jam lagi, kalau begitu saya permisi?" Dr Hendri pergi dari ruangan Mega
"pa, ma sebenarnya apa yang terjadi dengan Mega? siapa Firman? kenapa dia selalu memanggil nama Firman? setahuku Mega tak pernah seperti ini selama kami hidup bersama"
Dewa menghela nafas, mungkin saat ini sudah waktunya dia jujur tentang masa lalu Mega pada Al.
*********
Davin sudah memakai pakaian yang sedikit seksi dan cukup memperlihatkan bodynya yang bak gitar Spanyol. Dengan riasan make up tipis membuat dia semakin terlihat cantik. Tanpa repot menghubungi Marchel dan menyusun rencana membalas Syiela, nyatanya pria itu menghubungi lebih dulu. Hari ini mereka akan makan malam, tentu saja momen ini akan Davin manfaatkan untuk memberi sedikit surprice kepada Syeila.
Pukul 7 malam dia berangkat menuju restoran F, tempat yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka setelah berpisah beberapa tahun silam, lebih tepatnya hari dimana Syeila kecelakaan saat mengetahui Marchel akan menemui wanita yang dia cintai.
Davin berjalan dengan anggun, tentu saja semua pandangan mengarah pada dirinya. Bak seorang putri yang mampu menghipnotis puluhan mata yang berada disana. Disalah satu meja, duduklah orang yang sedang menunggunya. Pria tampan yang mencuri hatinya sejak kecil, pria yang tega mencampakkannya begitu saja disaat Davin sedang sayang sayangnya.
"kau sudah datang, duduklah?" Marchel menarik kursi untuk Davin duduk, perempuan itu mendudukkan bokongnya dengan pelan sembari tersenyum tipis
"terima kasih"
"kau cantik sekali malam ini" puji Marchel
__ADS_1
"terima kasih, kau juga tampan malam ini" puji Davin membuat Marchel tersenyum, senyum yang sesungguhnya Davin rindukan, hanya saja ia tak boleh terbuai dengan senyumannya, Davin harus ingat tujuannya melakukan semua ini.
"aku sudah memesan makanan kesukaanmu"
"benarkah?"
"tentu"
Tak lama datanglah beberapa pelayan yang membawakan makanan pesanan Marchel, makanan kesukaan Davin dan dirinya.
"kau masih ingat makanan kesukaanku?" tanya Davin
"tentu saja, tidak ada satu hal pun yang aku lupakan tentangmu"
"hah, gombal sekali"
"aku bersungguh sungguh, apapun tentangmu aku selalu mengingatnya"
"sudahlah, sebaiknya kita makan dulu"
"kau mau pesan dessert?"
"tidak usah, aku sudah kenyang"
"Vin, bisakah kita memulainya dari awal?"
"kenapa kau terus bertanya hal itu, ingat kau masih punya istri Chel, aku tidak mau jadi orang ketiga, kau tahu betul aku tidak pernah mau jadi yang kedua ataupun diduakan" tegas Davin
"aku tahu, tunggulah beberapa saat lagi, aku berjanji akan menjadikanmu satu satunya"
"haha, kau mau meninggalkan Syeila dan kembali padaku? kau pikir Syeila akan melepaskanmu begitu saja?"
"percayalah padaku Vin, aku janji akan menjadikanmu wanitaku satu satunya"
__ADS_1
"aku perlu bukti, bukan hanya bualan"
"tentu, aku akan membuktikannya"
Marchel berusaha memegang tangan Davin, namun Davin segera menghindar
"kau masih suami orang, jangan sampai mereka berfikir yang tidak tidak tentangku"
"maaf"
Mereka diam sejenak, hingga Davin menerima pesan jika Syeila menuju ke tempat mereka saat ini.
Bagus, mari kita mulai. Ucap Davin dalam hati
"Chel, kenapa kamu memilih tinggal di apartemen?"
"karena Syeila membuang semua barang barangmu yang ada dikamarku, jadi aku membeli apartemen dan mengisi semua kenangan tentang kita disana"
"benarkah?"
"ya, kalau kau tidak percaya kau bisa melihatnya sendiri"
"boleh?"
"tentu saja, bahkan apartemen itu atas namamu, karena rumah yang kuberikan padamu sudah kau hancurkan tanpa sisa"
"oh, maafkan aku, saat itu aku emosi"
"tidak apa aku paham"
Davin kembali menerima pesan yang mengatakan jika Syeila sudah berada diparkiran
"Chel, bagaimana kalau kita ke apartemenmu, aku penasaran seperti apa isi apartemenmu"
__ADS_1
"baiklah, mari kita berangkat" setelah membayar makanan mereka, Marchel dan Davin berjalan keluar restoran, bertepatan Syeila akan turun dari mobil, Davin melirik sekilas, Syeila urung turun dari mobilnya. Marchel membukakan pintu untuk Davin, tentu saja Davin tersenyum lalu masuk kedalam mobil Marchel. Mereka melaju menuju apartemen Marchel yang juga satu tempat dengan apartemen Davin