
Kecewa, itulah yang Al rasakan. Keberadaannya seolah tak berarti dimata Davin. Setelah istirahat, Davin menanyakan keberadaan ponselnya dan Al tahu apa yang akan Davin lakukan. Sebenarnya ada apa dengan Davin, jika dia masih mencintai Marchel kenapa Davin memberinya harapan. Pernikahan mereka hanya tinggal 3x24 jam, bagaimana nasib pernikahan ini jika seandainya hati Davin masih dimiliki Marchel. Duduk ditaman rumah sakit, Al tampak melamun memikirkan nasibnya kedepan, apakah ini karma karena telah menghianati Marchel.
"apa yang kamu pikirkan?" tanya Panji
"entahlah, akupun ragu memikirkan hal ini"
"ada apa? masalah Davin?" Al mengangguk
"apa selama ini dia menerimaku hanya karena kasihan?" tanya Al lirih
"kenapa kamu berfikir demikian?"
"kau lihat sendiri betapa cemasnya Davin dengan keadaan Marchel, dia terus menanyakan Marchel, bahkan dia menghubungi Marchel di depan mataku, aku jadi menyadari satu hal, Davin tak mencintaiku"
__ADS_1
Panji terdiam, apakah dirinya kembali melakukan kesalahan? apakah benar yang Al katakan? selama ini dirinya hanya fokus meyakinkan Davin bahwa Al adalah pria yang baik dan layak untuknya, Panji bahkan tak tahu perasaan Davin yang sebenarnya, bagaimana jika dugaan Al benar jika Davin masih mencintai Marchel.
"Al, maafkan aku, akulah yang terus memaksamu untuk tidak menyerah mengejar cinta Davin, aku juga yang terus meyakinkan Davin untuk menerimamu, aku bahkan tak tahu apa isi hati Davin sebenarnya" sesal Panji, jika semua benar maka Panji telah menyakiti dua sahabatnya sekaligus
"jangan menyalahkan dirimu sendiri Ji, jika benar Davin masih mencintai Marchel, tentu aku akan mundur, aku tak mau memaksakan perasaan Davin kepadaku"
"kau akan melepas Davin? bagaimana rencana pernikahan kalian, kalian akan menikah tiga hari lagi Al, jangan bercanda"
******
Davin terus menghubungi Marchel, namun selalu tak mendapat jawaban. Kemana sebenarnya Marchel, apa pria itu sengaja menghilang dan menghindar. Davin kembali mengingat mimpinya
Flash Back On
__ADS_1
Nafas Davin terengah engah, dia baru saja bermimpi buruk. Dalam mimpinya dia melihat Marchel, awalnya Marchel tampak bahagia, dia tersenyum sambil menggenggam tangannya. Hingga beberapa saat muncullah sebuah cahaya yang menyilaukan dan ada bayangan seorang pria disana, cahaya tersebut membuat genggaman tangan Marchel terlepas, perlahan Marchel menjauh darinya, Davin bisa melihat air mata Marchel, pria itu semakin jauh, jauh, jauh dan akhirnya menghilang.
Setelah bangun dari mimpinya, Davin duduk, dia kembali merenung, mengambil ponsel dan membuka file yang selama ini dia kunci. Dia membukanya, muncullah foto foto kenangannya bersama Marchel. Foto kebahagiaan mereka, kenangan manis yang mereka lewati. Davin terus melihat foto foto tersebut, hingga dia menemukan satu foto, Dia dan Marchel saling berpelukan setelah memadu kasih. Foto yang dia ambil diam diam saat Marchel terlelap.
Kala itu Marchel menolak melakukannya, tapi entah keberanian dari mana, Davin terus menggoda Marchel hingga dia tahu bahwa hasrat Marchel telah bangkit. Mereka mengatukan diri bukan karena paksaan, tapi karena cinta, Davin masih ingat setiap sentuhan yang Marchel berikan. Sentuhan yang membuat tubuhnya melayang, bahkan mereka mengulangi hal itu ketika berada di luar kota.
Bukan salah Marchel sepenuhnya jika Davin hamil, bukan salah Marchel juga jika dia menjadi ayah yang tak bertanggung jawab. Davin juga turut andil dalam hal ini, jika dia jujur tantang kehamilannya tentu Marchel akan bertanggung jawab. Hanya saja kala itu, Davin sudah terlanjur kecewa, dia merasa dipermainkan. Karena ego dia mengalami semua ini, lalu dimenyalahkan Marchel atas semua yang dia alami, padahal Davin tahu jika Marchel tak kalah hancur darinya. Marchel hanya berusaha bertanggung jawab kepada wanita yang kecelakaan karena dirinya, wanita yang dinyatakan tak bisa memiliki keturunan karena rahimnya diangkat, nyatanya hanya trik licik yang Syeila mainkan untuk merebut Marchel dari tangannya. Andai kala itu dia bertahan dan tidak pergi, tentu semua akan terungkap lebih cepat. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Dan Davin menyadari satu, dia masih mencintai Marchel.
Davin mengurung diri selama dua hari, dirinya dilema, dia mencintai Marchel tapi ada hati yang akan tersakiti jika dia kembali pada Marchel. Al telah banyak berkorban untuknya juga Vin. Tidak pantas jika dia harus menerima semua ini, harusnya sejak awal Davin menyadari perasaannya, tak seharusnya dia memberi harapan palsu pada Al.
Davin butuh ketenangan, dia akan pergi ke taman sendu, taman yang selalu dia datangi ketika dirinya sedang sedih, dan butuh wakfu menenangkan diri. Tapi tanpa dia duga malah terjadi insiden penculikan yang mempertemukannya kembali dengan Marchel.
Flash Back Off
__ADS_1