Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Saling Mengenal


__ADS_3

Al mengikuti Sekar menuju samping rumah, disana ada tempat duduk panjang dengan kolam ikan yang besar. Sekar duduk disana kemudian disusul dengan Al.


"kau mengikutiku?"


"hm"


"apa yang ingin kau tanyakan?" tebak Sekar, dia yakin Al akan menanyakan sesuatu setelah mendengar cerita papanya tadi


"sebenarnya kau orang yang seperti apa?"


"kau benar benar ingin tahu?"


"ya, sekarang kau adalah istriku, tentu aku harus tahu kau seperti apa?"


"baiklah, silahkan tanyakan apapun"


"kenapa mereka menyebutmu anak nakal? apa kau sering keluar malam, minum atau ..."


"aku nakal karena sering membangkang mereka, keinginanku tidak sama dengan mereka jadi aku selalu membuat ulah, dan tuduhanmu tadi sama sekali tidak ada yang benar" ketusnya


"benarkah? kenapa begitu?"


"cita citaku menjadi guru TK, tapi mama menginginkan aku jadi seorang desainer"


"jadi karena itu kau bertemu Davin?"


"ya"


"lalu dimana kau waktu itu setelah kabur dari kuliah desainermu?"


"aku pergi ke surabaya, aku kuliah guru disana, aku juga bekerja di cafe sebagai waiters agar bisa membiayai hidup dan kuliahku, beruntung aku mendapat beasiswa di tahun kedua, jadi aku hanya butuh biaya hidup" Al kagum mendengar cerita Sekar


"kau sudah lulus kuliah?"


"tentu saja"


"lalu, kau pulang dan menikah dengan mantan suamimu?"


"hm" jawabnya singkat


"kenapa kau kabur setelah menikah?"


"Samuel itu playboy, pacarnya banyak, sayangnya dia anak sahabat papa, waktu itu aku melihatnya dengan perempuan lain dan mereka mesra sekali, aku mengatakan kepada papa untuk membatalkan pernikahan kami, sayangnya papa tak percaya padaku, dan akhirnya kami menikah"


"laku kau kabur?"


"iya, pada saat malam pertama kami aku kabur, aku menyuruh pelayan membawakan minuman yang sudah kucampur obat tidur, hahahah"


"kenapa?"


"kenapa kau tanya lagi, tentu aku tidak mau dinikmati pria playboy itu, lagipula aku yang rugi jika menikmati pisang bekas" tanpa sadar ucapan Sekar menyentil hati Al


"kau menyindirku?"


"ups, hehhe maaf, emmm, maksudku pisang bekas milik pria tak layak juang".


"heh, bahasamu selalu saja ambigu"


"ck, maksudku untuk apa aku memberikan diriku pada pria yang tidak layak, aku bisa menerima pria lain bahkan duda lapuk sekalipun asal dia pria baik baik, kau sudah jelas tuan suami?"


"ok, sekarang apa yang akan kau lakukan dengan hubungan kita?"

__ADS_1


"em, apa ya?"


"ck, kau ini. Aku tahu kita sama sama dipaksa keadaan, tapi aku tidak pernah berniat bermain main dengan pernikahan"


"aku tahu, aku juga sudah lelah kabur kaburan, aku mau menata hidup lebih baik lagi"


"bagus, jadi apa rencanamu kedepan?"


"kamu sendiri apa?"


"aku bertanya padamu kenapa kamu balik bertanya, bukannya menjawab" sebal Al


"bukankah seorang istri harus mengikuti imamnya"


"ck, kau ini"


"jadi apa rencanamu imamku?" goda Sekar


"mari kita memulai semuanya selayaknya suami istri pada umumnya, aku melakukan semua tanggung jawabku sebagai suami dan kamu melaksanakan tanggung jawabmu sebagai istri"


"lalu cinta?"


"cinta akan datang seiring berjalannya waktu, bukankah pepatah mengatakan demikian?"


"kau percaya hal seperti itu?"


"tidak juga" keduanya terdiam beberapa saat


"Al??"


"hm"


"apa kau yakin akan menjalani pernikahan ini denganku?"


"bukan begitu, tapi aku yakin kau masih mencintai Davin" lirih Sekar


Al menghela nafas


"mungkin kau benar, tapi aku lebih menyerahkan semuanya kepada takdir, aku bukanlah orang yang terlalu memaksakan kehendak, aku akan menjalani semua yang sudah digariskan Tuhan padaku, kita telah menikah jadi aku akan menjalani pernikahan ini dengan serius, kita bukan anak kecil yang hanya bisa bermain main"


"begitukah?"


"ya"


"baiklah sekarang aku yang tanya kepadamu"


"ok, tanyakan apapun yang ingin kau tahu tentangku"


"kenapa kau bercerai?"


"karena kami memang tidak cocok sedari awal"


"kenapa begitu?"


"entahlah, mungkin karena dia memiliki seseorang yang dia cintai di masa lalu"


"jadi dia menikah denganmu karena terpaksa? bagaimana bisa"


"awalnya semua terjadi karena perusahaanku menuju kebangkrutan, Mega pernah melihatku di suatu acara bisnis, mungkin saat itu dia tertarik padaku, bukan cinta hanya obsesi, hingga papanya datang dan menawarkan bantuan dengan imbalan aku harus menikahi Mega. Waktu itu aku hanya pasrah dan menerima semuanya, karena perusahaan itu papa bangun dari nol, awalnya aku berusaha membuka hati dan mencintai Mega, menerimanya sebagai istriku, tapi lama kelamaan sikapnya membuatku jenuh, dia tak pernah menganggapku sebagai suaminya, dia bertindak semaunya sendiri, bahkan dia pernah menuduhku selingkuh dengan Davin, dia arogan dan egois, sampai akhirnya aku mengetahui jika dia memakai kontrasepsi dan tidak mau memiliki anak denganku padahal pernikahan kami sudah berjalan 7 tahun, tentu aku kecewa, dengan tekat yang kuat aku menceraikannya, awalnya dia keberatan, bahkan dia sampai berniat mencelakai Davin, sayang dia sendiri yang terluka kemudian traumanya kambuh, dia kembali mengingat kekasihnya. Ternyata dia juga memiliki masa lalu yang rumit, tapi beruntung kekasihnya ternyata masih hidup, dia datang kembali kemudian mereka berdua bersatu"


"ternyata ceritamu lebih rumit dari pada aku ya?"

__ADS_1


"beginilah hidup, kita bisa merencanakan semuanya tapi Tuhan yang menentukan takdir umatnya, kita hanya bisa menjalaninya saja"


Sekar terdiam, dia menyadari semua yang Al katakan benar adanya. Mungkinkah ini takdir hidupnya untuk bersama Al, apakah Al adalah teman hidupnya dari Tuhan.


"jadi kau mau menjadi suamiku?"


"bukankah aku memang suamimu?"


"kau mau belajar mencintaiku?"


"heh, dari tadi sepertinya kau tak mendengarkanku"


"hahah, maafkan aku tuan suami" mereka kembali terdiam sejenak


"Sekar"


"hm"


"kau mau memulainya denganku?" Sekar menatap Al dalam dalam, iya bisa melihat sesungguh di mata Al


"baiklah, aku mau memulai semuanya denganmu, aku harap kita bisa saling menerima satu sama lain, bisa saling melengkapi dan memahami, aku juga tak mau mempermainkan pernikahan, bimbinglah aku menjadi istri yang baik" pinta Sekar


"tentu, mari kita sama sama belajar menjadi suami dan istri yang baik"


"tentu, em..Al...kau menyukai anak anak?"


"sangat"


"kau mau memiliki anak denganku?"


"tentu jika kau juga mau memiliki anak dariku"


"em...ya mungkin jika kita memiliki anak, hubungan kita bisa semakin erat dan kita bisa saling mencintai"


"jadi saat ini kau sudah mencintaiku?" goda Al


"em sepertinya, tapi hanya sedikit, berapa anak yang kau mau?" tanya Sekar malu malu


Al tersenyum


"tiga"


"hah!!"


"kenapa? apa kebanyakan?"


"aku kira kau minta 15 anak" cicit Sekar


"hahaha, kau yang benar saja, wanita itu bukan pabrik anak, tiga sudah banyak menurutku, lagipula kenapa kau berfikir demikian?"


"siapa tahu saja kau mau seperti itu, gen halilintar saja ada 11, mungkin kau mau lebih banyak dari mereka"


"Sekar, perjuangan perempuan itu begitu besar, semua kebutuhan suaminya, dialah yang menyiapkan, perempuan juga mengandung, melahirkan, menyusui, mengurus anak dan banyak lagi, aku tak mau ibu dari anak anakku merasa terbebani dengan semua tugasnya, aku akan berusaha membahagiakannya juga anak anakku nanti"


"maksudmu aku dan calon anak anak kita?" Al mengangguk


"aku jadi tak sabar menikmati malam pisang kita" Al melotot lagi lagi dia mendengar kata ambigu keluar dari mulut Sekar, bahkan dia sudah memberi nama pisang pada ***** Al,


"kau memang perempuan yang unik"


Al tersenyum, dia tahu jika Sekar wanita yang baik. Hanya saja dia berbeda dan unik dibanding perempuan lainnya. Semoga pernikahan mereka menjadi yang terakhir bagi keduanya. Al dan Sekar saling memberikan senyum, mereka akan memulainya dari awal.

__ADS_1


"sepertinya Sekar sudah mendapatkan pria yang baik" ucap Imel


"semoga hidup putri kita bahagia setelah ini" ucap Dhana, mereka berdiri di balkon sambil menatap anak dan menantunya.


__ADS_2