
Menempuh 115,3 km dengan waktu dua jam lebih perjalanan, penculik itu membawa Davin ke daerah puncak.
"turun!!!" ucap mereka pada Davin, berhenti ditempat sepi dipinggir jurang. Jika saja mereka mendorong Davin dari sini tentu polisi akan kesulitan menemukannya.
"mau apa kalian?"
"kami mau nyawamu!!!!"
Davin berontak, sekuat tenaga dia melawan. Tapi sayang dia tak bisa mengimbangi penculik itu. Tenaganya melemah
"lepaskan dia!!!"
"Marchel" ucap Davin sendu, dalam hati dia berdoa semoga ada yang menolongnya dan Tuhan mengabulkan doanya.
"jangan ikut campur urusan kami, sebaiknya kamu pergi dan jangan jadi pahlawan kesiangan!!"
"dia istriku, tentu dia adalah urusanku" Davin terperangah, sementara tiga pria itu saling pandang.
Marchel memanfaatkan kesempatan ini untuk memukul salah satu dari mereka. Manyadari hal itu, dua pria lainnya segera menyerang Marchel. Mereka berkelahi, menyadari jika lawannya bukan orang sembarangan, Davin membantu Marchel melawan mereka. Tapi hal itu tak berlangsung lama, Davin mulai kewalahan meladeni tenaga mereka yang seolah tak ada lelahnya, apalagi kondisinya yang semakin lemah. Saat Davin lengah, salah satu pria menariknya, Marchel langsung menyerang pria tersebut. Melihat wanita yang dicintainya disakiti orang lain, kekuatan Marchel seakan kembali penuh, dia membantai mereka, hampir kalah, salah satu pria yang memegangi Davin mendorongnya dan hal itu membuat Davin terperosok hingga kepalanya membentur batu, untung saja dia tak terjatuh ke jurang, tangannya masih sempat meraih akar pohon yang menggantung di sampingnya. Darah segar mengalir di kepala Davin, kesadarannya mulai menurun.
"Davin!!!" Marchel berusaha berlari ke arah Davin lalu
Dor.....
Lengan kanan Marchel tertembak, seketika dirinya luruh. Sekuat tenaga dia menahan sakit di lengannya,
"kenapa kamu menembaknya!!!" tanya salah satu penculik kepada rekannya
"maafkan aku, kalau tidak ditembak dia bisa menyelamatkan wanita itu"
"justru suara tembakanmu akan menarik warga datang kesini, dasar bodoh, bos akan marah kepada kita!!"
"sudah sebaiknya kita pergi sebelum warga datang dan melaporkan kita ke polisi"
__ADS_1
Ketiga pria itu meninggalkan Davin dan Marchel disana. Marchel berlari ke arah Davin
"Vin, pegang tanganku!!" pinta Marchel, dia mengulurkan tangan kirinya kepada Davin
"Chel, aku tidak kuat lagi" suara Davin terdengar begitu lemah
"pegang tanganku, kamu harus bertahan" dengan kesadaran yang masih dia miliki, Davin menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Marchel, sekuat tenaga Marchel menarik Davin,
"astagfurillah, kalian kenapa?" tanya seorang pengendara sepeda motor yang tengah melintas, dia segera membantu Marchel meraih Davin dan menariknya ke atas. Davin berhasil diselamatkan, Marchel segera memeluk tubuh Davin
"Chel...., ma....afkan aku.a..a..ku...men...cin..ta..i..mu" Davin kehilangan kesadarannya setelah mengatakan bahwa dia masih mencintai Marchel
"Vin, Davin, aku mohon buka matamu, bertahanlah, jangan tinggalkan aku" lirih Marchel
"mas, sebaiknya bawa ke rumah sakit segera"
"tolong bantu saya membawanya ke mobil mas" pinta Marchel
Setibanya dirumah sakit umum daerah puncak, Marchel menggendong Davin, dia melupakan tangannya yang terkena tembakan. Dirinya terlalu panik melihat wanita yang dicintai terluka hingga melupakan lukanya sendiri. Suster yang melihat Marchel segera membantunya menaruh Davin di brangkar dan membawanya ke UGD.
Entah mengapa rasanya begitu lama menunggu, Dokter yang menangani Davin tak kunjung keluar.
"maaf pak, lengan anda juga terluka, sebaiknya anda ikut saya supaya luka anda segera di obati" Marchel menoleh pada tangannya, ia baru menyadari jika lengannya semakin terasa nyeri.
"baiklah sus" Marchel mengikuti suster, kemudian mendapat penanganan, Dokter melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan Marchel.
Setelah menjalani operasi, Marchel ditempatkan diruang perawatan. Tubuhnya baru terasa lemas, wajahnya juga pucat.
"sus, apa pasien yang datang bersamaku sudah sadar?" tanya Marchel kepada suster yang memasangkan infus kepadanya
"belum pak, dokter masih melakukan observasi, jika kondisi pasien tidak membaik hingga besok pagi, maka pasien harus dipindahkan ke rumah sakit kota yang lebih lengkap"
"saya mau menemuinya sus"
__ADS_1
"tapi kondisi anda masih lemah pak"
"saya sudah lebih baik sus, saya ingin menemuinya" suster terpaksa mengijinkan Marchel menemui Davin. Awalnya suster menyarankan Marchel menggunakan kursi roda, tapi di tolak oleh Marchel. Yang luka kan lengannya bukan kakinya. Dia masih bisa berjalan dengan baik.
Marchel masuk kedalam kamar Davin, dia melihat wanita itu terbaring tak sadarkan diri dengan perban di kepalanya, wajahnya yang biasanya terlihat cantik kini terlihat pucat. Marchel duduk disamping Davin, digenggam tangan wanita itu.
"Vin, apa benar yang kamu katakan tadi, kamu masih mencintaiku?" tak ada sahutan dari bibit Davin, Marchel bahagia ketika mendengar ucapan Davin jika wanita itu masih mencintainya, tapi Marchel tak mau menganggapnya terlalu serius, ia hanya takut ucapan itu keluar dari mulut Davin dibawah alam bawah sadarnya. Bagaimanapun 3 hari lagi Davin akan menikah dengan Al. Dia tak mau menjadi perusak hubungan orang lain.
.
.
Keluarga Davin, Al dan juga Panji tengah dipanikkan dengan pencarian Davin. Mendadak wanita itu menghilang dan tidak menjawab panggilan baik dari Al maupun dari mamanya. Al dan Panji berinisiatif mencari Davin, mereka menemukan mobil Davin terparkir di pinggir jalan dalam keadaan utuh. Tidak barang barang yang hilang, hal itu membuat Al curiga. Ia segera mencari Davin, hingga tengah malam Davin tak kunjung ditemukan. Al semakin panik, ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Davin. Apalagi Vin yang sedari siang rewel dan terus menanyakan keberadaan mommynya.
Saat masih dalam pencarian, Al menerima telepon dari Evan, calon mertuanya itu mengatakan jika tadi polisi menelponnya dan mengabarkan bahwa Davin tengah berada dirumah sakit daerah puncak. Tanpa pikir panjang Al dan Panji langsung menuju rumah sakit tersebut.
"Ji, bisa lebih cepat lagi tidak?"
"ini sudah ngebut Al, sabar"
Mereka menempuh perjalanan yang jauh, ingin rasanya Al mengunpat karena tak kunjung sampai. Tapi dia tahan karena tak ingin mendengar omelan sahabatnya.
Setelah dua jam lebih perjalanan mereka tiba dirumah sakit. Disana sudah ada Evan yang tengah berbicara dengan polisi
"bagaimana kondisi Davin pa?" tanya Al
"dia masih belum sadar, kita lebih baik memindahkannya di rumah sakit ibukota" jawab Evan
"sebenarnya apa yang terjadi?"
"menurut polisi dan keterangan saksi, Davin diculik dan hendak dibuang ke jurang, beruntung dia selamat karena di tolong seorang pria, sayangnya pria itu sudah keluar dari rumah sakit" jelas Evan
Marchel terpaksa check out dari rumah sakit, setelah menghubungi polisi, ia yakin keluarga Davin akan datang. Jika dia masih berada disana, dia takut akan disalahkan atas semua yang menimpa Davin, biarlah polisi yang mengungkap semuanya. Marchel masih disana, dia berada dibalik tembok didekat ruang perawatan Davin.
__ADS_1