Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Mulai Terbiasa


__ADS_3

Tak terasa sudah tiga bulan Al berada di rumah Davin. Urusan bisnisnya dengan Panji berjalan lancar, bahkan dirinya dengan Marvin menjadi semakin dekat. Jika ditanya bagaimana dengan Davin, maka jawabannya Davin mulai terbiasa dengan kehadiran Al. Setiap pagi Al membantunya memandikan Marvin, setelah pulang dari kantor pun Al menyempatkan diri bermain dan belajar dengan Marvin. Pria kecil Davin itupun terlihat tak kesepian lagi. Davin sadar jika selama ini Marvin memang butuh sosok daddy. Dia sadar jika dia egois, tapi untuk kembali dengan Marchel tentu tidak pernah terlintas di benak Davin.


"Vin, bisa kita bicara?" pinta Al


"ah, baiklah kita bisa ke gazebo belakang" Davin berjalan beriringan dengan Al mereka duduk di gazebo sambil menikmati udara sore.


"ada apa Al?"


"Vin, lusa aku harus kembali ke Indonesia karena urusanku sudah selesai disini, sebelum pergi aku ingin memastikan sesuatu"


"apa?" tanya Davin


"apa tidak ada sedikit saja perasaanmu padaku?"


Deg....inilah yang Davin takutkan, Al pasti mengharapkan lebih dari kedekatan mereka selama ini. Tiga bulan memang waktu yang singkat, Davin akui jika dia memang nyaman berada didekat Al, tapi rasa trauma untuk menjalin hubungan kembali menghantui Davin.

__ADS_1


"Al....a.a.ku..kau tahu sendiri kan jika aku masih takut untuk menjalin suatu hubungan, aku trauma untuk berhubungan lagi dengan pria" jawab Davin jujur


"aku tahu bagaimana kekhawatiranmu, tapi jawablah dengan jujur apa kau tidak merasakan sesuatu jika sedang bersamaku?"


"em...Al, jujur aku nyaman saat bersamamu, tapi rasa takut kembali menghantui aku, maafkan aku, aku tidak bisa"


Al menghela nafas, setidaknya Davin mulai terbiasa dan merasa nyaman saat bersamanya, itu saja sudah cukup untuk menjadi awal hubungan mereka.


"baiklah, aku hargai keputusanmu, aku harap suatu hari nanti kamu bisa membuka hatimu untukku" Al tersenyum manis membuat Davin bergetar


"mommy" teriak Marvin


"hei, jagoan mommy sudah mainnya?"


"iya mommy"

__ADS_1


"Marvin mau belajar dengan uncle?, bagaimana tadi sekolahnya" Marvin memang sudah mulai sekolah sejak minggu lalu. Meskipun masih berusia 4 tahun, Marvin termasuk anak yang cerdas, dia dengan cepat menangkap apa yang di jelaskan gurunya.


"tentu uncle, aku senang uncle, aku punya banyak teman"


"wah, Marvin hebat, kalau begitu Marvin harus rajin belajar lagi supaya Marvin mendapat nilai yang bagus, ayo kita belajar"


"ayo" Marvin menggandeng tangan Al memasuki rumah.


ya Tuhan, apa aku berdosa telah menolak pria sebaik Al, Marvin sangat menyayanginya, mereka seperti ayah dan anak, namun ini masih terlalu cepat, akupun masih takut untuk menjalin hubungan lagi, ucap Davin dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Marchel tidak berhenti mencari keberadaan Davin, meskipun bak mencari jarum dalam tumpukan sekam, Marchel tak putus asa. Dia masih berusaha, bahkan dia pernah mendatangi rumah orang tua Davin, bukan jawaban yang dia dapatkan justru makian dari mantan calon mertuanya. Marchel juga mencari Davin di Amsterdam namun tetap saja tidak menemukan pujaan hatinya, Davin benar benar menutup semua akses dirinya dan mungkin ada orang yang membantu Davin dalam hal ini. Marchel sekilas mengingat sahabatnya Panji, dia salah satu orang yang pintar dalam bidang ini. Dia juga termasuk hacker yang handal. Sayangnya Marchel tak tahu dimana keberadaannya sekarang. Alfian pun sepertinya tidak berada di Indonesia, karena beberapa kali Marchel menghubunginya selalu tidak bisa. Saat dia terpuruk seperti ini tidak ada sahabat yang menemaninya. Mungkin ini karma yang harus dia terima karena menyakiti wanita sebaik Davin.


__ADS_2