
Marchel berlari memasuki rumahnya, dia segera menuju kamar Ria
"ma!!!" Marchel melihat Ria duduk di tepi ranjang ditemani oleh pembantunya
"Chel", bibi segera pergi saat Marchel datang
"mama ga papa?" tanya Marchel khawatir, dia langsung berjongkok disamping mamanya, "kenapa bisa jatuh ma?" sambung Marchel
"mama hanya kurang hati hati Chel, tadi sudah diperiksa Dr. Feri, maaf jika membuatmu meninggalkan pekerjaanmu"
"mama bilang apa sih, mama kan lebih penting dari apapun"
"mama ga papa kok, kata Dr Feri juga hanya keseloe sedikit"
"mama harus lebih hati hati ma, kalau terjadi apa apa bagaimana?, hanya mama yang aku punya saat ini"
"iya, maafkan mama, kamu jangan khawatir, tiga hari pasti sembuh"
"pokoknya mama jangan kemana mana sampai mama benar benar pulih"
"mama kan hanya keseleo Chel"
"ga ada bantahan"
"baiklah, sekarang sebaiknya kamu istrirahat saja, mama lihat kamu sangat lelah"
"aku ga papa ma, biar aku temani mama disini" lirih Marchel
"nak, istirahatlah, mama tahu kamu pasti lelah, kamu sudah berusaha setahun ini, tapi mama yakin suatu saat kamu pasti bisa menemukan Davin dan anakmu"
"semoga saja ma" Marchel tersenyum walau dalam hati dia tak begitu yakin
Amsterdam
Al sudah berada diperjalanan menuju rumah Davin, dia membawa beberapa mainan untuk Vin dan Mikha. Ya, Al memanggil Marvin dengan sebutan Vin saja. Setelah menempuh perjalan beberapa menit, Al tiba dirumah yang selalu membuatnya rindu itu.
"daddy...." teriak Vin sambil berlari ke arah Al
__ADS_1
"hap..." Al menangkap dan menggendong Vin, "apa kabar jagoan daddy, kamu tidak nakal kan selama tidak ada daddy?"
"tidak dad"
"bagus, sekarang ayo masuk dulu, daddy akan memberi hadiah untuk kamu dan Mikha karena kalian tidak nakal selama daddy pergi" Al mengambil beberapa paperbag yang tadi ia letakkan begitu saja di tanah ketika turun dari taksi
"wah mainan, terima kasih daddy" ucap Vin kegirangan, mereka berjalan kedalam rumah, Al melihat Davin didepan pintu, ah...apa mungkin Davin menyambutnya, Al tersenyum sendiri
"Al, sudah aku katakan jangan terlalu memanjakan Vin" omel Davin
"jadi kau berdiri disini bukan untuk menyambutku melainkan mengomeli aku?" Al terkekeh
"kamu mengira aku menyambutmu?, kau terlalu percaya diri tuan" ledek Davin, mereka masuk ke dalam rumah dan duduk diruang tamu
"kau sudah sampai Al?" tanya Cris yang sedang bermain dengan Mikha
"iya, hai keponakan uncle, sini sama uncle" Mikha berjalan ke arah Al dengan lucunya, "wah Mikha semakin cantik ya" puji Al sambil meciumi Mikha membuat gadis kecil itu tertawa
"dad, ayo buka hadiahnya" pinta Vin
"baiklah, ayo Mikha kita buka hadiahnya bersama kak Vin" Al mengambil paperbag berisi hadiah untuk dua bocah kecil itu
"baiklah, ini untuk Mikha" Al memberikan barbie berukuran besar pada putri sahabatnya itu
"kau lihat kan, Al begitu baik pada Vin, saatnya kamu membalas semua kebaikannya" bisik Cris di telinga Davin
.
.
.
Malam telah menjelang, di rumah Davin mereka semua tengah makan malam
"dad, aku mau sosis" ucap Vin
"baiklah, tapi dengan sayurnya juga ya"
__ADS_1
"aku tidak suka sayur dad" keluh Vin
"dicoba dulu sayang, rasanya enak kok, Vin tidak suka karena belum mencobanya saja" Al meletakkan sosis dan sayur di atas piring Vin, membuat pria kecil itu memberenggut kesal
"Vin, tidak boleh marah pada daddy, kalau Vin tidak mau sayurnya tidak apa, tapi cobalah makan sedikit dulu" ucap Davin, Vin memang tak menyukai sayur sama seperti Marchel
"baiklah mom, maafkan aku dad, aku akan mencoba sayurnya"
"anak pintar" Al mengusap rambut Vin ketika pria kecil itu mulai menyendokkan sayur ke mulutnya
"bagaimana?" tanya Al
"tidak terlalu buruk dad, daddy benar ini lumayan enak"
"benar kan? kalau begitu lanjutkan makannya" ucap Al tersenyum
Davin melihat ketulusan dari sikap Al selama ini, dia begitu menyayangi Vin. Mungkinkah sekarang saatnya dia menjemput kebahagiaannya, menghilangkan trauma dan rasa takut yang selama ini membelenggunya.
Makan malam telah selesai, Vin sudah terlelap setelah main robot barunya bersama Al. Cris dan Panji juga sudah masuk ke dalam kamar.
"Vin, bisa kita bicara sebentar?"
Davin yang kebetulan sedang didapur mengambil airpun mengiyakan permintaan Al.
"bagaimana kalau ditaman belakang?" pinta Al lagi
"baiklah"
Davin dan Al berjalan ke taman belakang rumahnya, duduk di gazebo sambil menatap bintang yang kebetulan malam ini begitu bersinar.
Al bersimpuh di depan Davin membuat wanita itu kaget, ditambah laki laki itu mengeluarkan kotak bludru berwarna merah yang isinya adalah cincin bermata berlian yang sangat cantik..
"Al...."
"Vin, aku tahu kamu masih takut dan trauma, tapi ijinkan aku untuk menyembuhkannya perlahan lahan, ijinkan aku menjadi bagian dari hidupmu dan Marvin, ijinkan aku hidup bersamamu hingga menua, aku tahu aku bukan laki laki yang memiliki segalanya, tapi aku janji akan memberikan cinta dan kasih sayang sepenuhnya untukmu dan Vin, tidak ada kata bosan bagiku untuk terus mengungkapkan perasaanku padamu,...Vin....Will You Marry Me?
Davin terperangah, dia begitu kaget Al melamarnya dengan kata kata yang indah, Al begitu gigih dan terus berusaha walau penolakan berkali kali ia dapatkan, menghela nafas Davin menjawab
__ADS_1
"Yes, I Will"