
Setelah makan siang, Al, Sekar dan orang tuanya pulang. Rencana Al selanjutnya adalah menemui keluarga Sekar sesuai saran dari Evan. Bagaimanapun juga sekarang Sekar adalah istrinya. Dia harus meminta restu kepada orang tua Sekar walau kenyataannya dia terpaksa. Sebagai pria yang baik, dia harus menunjukkan itikad baiknya, entah bagaimana respon orang tua Sekar nanti, Al tidak mau memikirkannya sekarang.
****
Marchel mendapat telepon dari orang suruhannya yang mengatakan jika dalang dari penculikan Davin adalah Syeila, mantan istrinya. Rupanya peringatannya kala itu tak dihiraukan oleh Syeila. Meski Marchel telah kehilangan Davin, dia masih peduli kepada wanita itu. Marchel menyuruh orang suruhannya untuk mendalami kasus penculikan Davin, meski polisi masih manangani kasus tersebut. Dan sekarang Marchel berhasil mengetahui dalang penculikan itu.
Dia berencana melaporkan Syeila kepada polisi dengan menyerahkan bukti yang dia miliki. Mungkin dengan begitu Syeila akan sadar atas tindakannya. Memberinya sedikit pelajaran pasti dapat merubah Syeila menjadi manusia yang lebih baik suatu hari nanti.
Saat ini Marchel duduk termenung di pinggir ranjangnya, hari ini adalah hari dimana Davin dan Al menikah. Sesak kembali dia rasakan, rasa tidak rela kembali menggelayuti hatinya. Tanpa dia sadari air mata menetes begitu saja di pipinya. Air mata yang kesekian kali ia keluarkan hanya karena seorang Davina, wanita yang ia cintai sejak kecil, wanita yang membuatnya merasakan manisnya cinta, wanita yang membuatnya merasakan indahnya disayangi, bagaimana rasanya patah hati, dan wanita yang mampu membuatnya hancur seperti sekarang ini. Bayangan Davin dan Al bermesraan berputar di kepalanya, ingin rasanya dia berteriak dan menumpahkan rasa sakit dihatinya. Sakit, dadanya terasa begitu sakit. Marchel memejamkan mata dan mencoba masuk ke alam mimpi, mungkin dengan begitu, beban pikirannya akan sedikit berkurang.
*****
Entah takdir atau kebetulan, Marchel mendapat kabar jika ada perusahaan luar negeri yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya, mereka meminta bertemu langsung, dan berdasarkan profil yang dikirim oleh asistennya, perusahaan tersebut sudah melebarkan sayapnya di Belanda, tentu kesempatan ini tidak akan dia sia siakan oleh Marchel. Namun hal itu membuat Marchel mau tidak mau harus berangkat menuju ibu kota.
Dalam perjalanan, dia berfikir, bagaimana jika dirinya bertemu dengan Al, apakah dia harus mengucapkan selamat? apakah perlu dia membeli sebuah kado untuk mereka. Haha, Marchel menertawai nasibnya yang miris.
Setelah tiba di perusahaannya Marchel segera masuk. Dia langsung menuju ruangannya.
"dimana mereka?" tanya Marchel kepada Dani asistennya
"diruang meeting pak, mereka baru saja tiba"
Marchel segera berjalan menuju ruang meeting, dan saat tiba disana dia terkejut melihat Panji dan putranya Vin. Pikiran Marchel langsung berkelana, jika Vin bersama Panji itu artinya Davin dan Al sedang menikmati masa masa pengantin baru. huh betapa miris dirinya saat ini
"maaf saya terlambat"
"daddy" panggil Vin, pria kecil itu langsung berlari ke arah Marchel dan memeluk kakinya. Marchel segera berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Vin.
"daddy kemana saja? kenapa tidak pernah datang menemuiku? apa daddy tidak merindukanku?" Vin memberondong Marchel dengan banyak pertanyaan
"maaf son, daddy sibuk, nanti kalau ada waktu daddy akan mengunjungimu"
"daddy janji?" Vin memberikan jari kelingkingnya
"daddy janji" Marchel juga mengulurkan jari kelingkingnya dan membuat janji dengan Vin
"maaf tuan, sebaiknya kita mulai meeting ini sekarang" pinta sekertaris Panji, Panji hanya diam tak berbicara, dia masih tidak enak hati dengan perbuatannya kepada Marchel, padahal seharusnya dia dan Marchel bisa bicara baik baik waktu itu.
Marchel dan Panji mulai membahas kerja sama, Vin duduk disamping Marchel sesekali mengamati daddynya. Kerja sama pun mencapai kesepakatan, Marchel dan Panji akan menandatangani berkas kerja sama. Kali ini dia tak mau kecolongan, Marchel begitu teliti membaca berkas tersebut
"sepertinya anda orang yang teliti tuan Marchel" ucap Panji memulai pembicaraan
"benar, dan saya harus memastikan semuanya sesuai, jangan sampai ada selipan berkas yang mengecoh" sindir Marchel, Panji hanya diam dia mengerti maksud sahabatnya ini. Setelah dirasa semua tidak ada masalah, Marchel menandatanganinya.
"dad, aku lapar" ucap Vin
"kamu mau makan son?" Vin mengangguk, "baiklah, tapi sebaiknya minta uncle Panji menelfon mommymu untuk minta ijin"
__ADS_1
"Davin sedang tidak bisa diganggu" ucapan Panji yang sukses membuat mood Marchel lenyap, tidak bisa diganggu, maksudnya apa coba. Apa mereka sedang kejar setoran membuat adik untuk Marvin, membayangkannya saja dada Marchel ngilu.
"lalu bagaimana?"
"kita makan saja, aku yang bertanggung jawab atas Vin"
"heh, tentu saja kau yang bertanggung jawab, bahkan kau yang merawat Vin sejak bayi" sindir Marchel, Panji tak mengambil hati ucapan sahabatnya karena memang semua ucapan Marchel benar. Panji masih canggung dan hari ini dia meminta maaf kepada Marchel atas semua yang terjadi, Marchel memaafkannya meski dia masih berlagak cuek. Mereka sengaja menggunakan satu mobil, hal itu Panji lakukan agar mereka bisa kembali akrab dan benar saja sesekali mereka mengobrol meski sedikit canggung
Mereka akhirnya pergi makan siang di restoran langganan Panji dan Marchel
"mau makan apa son?"
"em, steak ayam dad"
"kau juga suka makanan itu?" Vin mengangguk, "bagaimana kalau sop sapi?" tanya Marchel lagi
"aku tak suka sapi dad"
"kau meragukan anakmu? dia bahkan 100% dirimu" sindir Panji
"hanya memastikan saja"
Makanan pesanan mereka sudah tiba, Vin begitu lahap memakan makanannya, Marchel tersenyum melihat hal itu, dia juga memesan makanan yang sama. Mereka makan dengan tenang.
"kau dijadikan babysister oleh sahabat baikmu?" tanya Marchel kepada Panji, sebenarnya dia hanya penasaran kemana Davin dan Al, apa benar mereka melakukan seperti yang ada di bayangan Marchel, atau mereka sudah pergi berbulan madu?.
"betul"
"maksudmu?"
"kau pasti mengerti maksudku"
"tidak"
"apa setelah menikah mereka kejar setoran untuk membuat adik Vin hingga menitipkan putraku padamu, bukankah seharusnya aku berhak berada bersama dengan putraku, kenapa harus denganmu"
"siapa maksudmu yang kejar setoran membuat adik Vin?" tanya Panji sok tak tahu maksud Marchel
"tentu saja sahabatmu dan istrinya"
"maksudmu Al?"
"bukankah mereka sudah menikah, dan tega sekali menitipkan putraku padamu, kenapa tidak padaku saja"
"hahaha" Panji tertawa dia tahu jika Marchel bermaksud menanyakan Davin, dia hanya gengsi. Pasti Marchel mengira Davin menikah dengan Al
"kenapa kau tertawa?"
__ADS_1
"Al memang menikah tapi tidak dengan Davin"
Tidak bisa dibohongi, Marchel senang mendengarnya, tapi sebisa mungkin dia menguasai diri, dia terlalu gengsi untuk mengakui kesenangannya.
"apa maksudmu?"
"Al menikah dengan wanita lain, yang jelas bukan dengan Davin" jelas Panji
"lalu dengan siapa?"
"kepo" jawab Vin dengan mulut penuh, Panji langsung tertawa
"tanyakan saja pada putramu"
"jadi daddy Al menikah dengan siapa son?" bodohnya Marchel malah menuruti ucapan Panji, hal itu membuat Panji menggelengkan kepala dan tersenyum.
"dengan tante bulu"
"hah!!!!!, siapa tante bulu?"
"teman mommy" seketika Marchel ingat, bulu adalah nama sahabat Davin di awal kuliah. Tapi nama aslinya siapa Marchel lupa
"jadi mommy tidak menikah dengan daddy Al?" tanya Marchel memastikan
"tidak, mommy bilang mau kembali pada daddy, oppss" Vin segera menutup mulut
Marchel tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya
"siapa yang bilang seperti itu?"
"mommy"
"mommy mengatakannya langsung padamu?"
"tidak, dia mengatakannya pada tante bulu"
"ck, kau pasti terbang sekarang" cibir Panji
"biasa saja" elak Marchel
"kau memang gengsian" ucap Panji
"lalu dimana mommy?"
"bilang saja kau merindukan Davin" ledek Panji
"ck, aku tidak bertanya padamu!, jadi son dimana mommymu sekarang?"
__ADS_1
"kerja"
Ada perasaan lega mendengar ucapan putranya. Tanpa di sadari Marchel mengangkat sudut bibirnya. Dia begitu bahagia mendengar hal ini.