Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Surat Untuk Panji


__ADS_3

Panji menerima surat dari Marchel, dia begitu terkejut mendengar cerita istrinya tentang kedatangan Marchel, apalagi Marchel mengikhlaskan hubungan Al dan Davin, tentu dia hafal seperti apa seorang Marchel, mereka bersahabat bukan setahu dua tahun, Panji tahu jika sahabat yang telah ia putuskan itu, kini dalam kondisi hancur, Marchel tidak baik baik saja, dia tengah berada dititik terendah dalam hidupnya, muncul rasa bersalah di hati Panji, ia tak menyangka respon Marchel akan seperti ini, pria itu menyerah pada takdir, mengalah pada keadaan, kemana Marchel yang angkuh, kemana Marchel yang pantang menyerah, yang Panji lihat hanya pria rapuh yang pasrah akan jalan hidupnya, duduk di tepi ranjang, Panji membuka surat dari sahabat yang sudah di putuskan dan ia hianati.


*Untuk Sahabatku,


Ji terima kasih telah menjaga Davin dan Marvin dengan baik, kamu dan istrimu telah membantuku merawat mereka. Aku sadar kesalahanku teramat besar, kamu benar, aku memang laki laki bodoh, seharusnya aku menuruti ucapanmu dan tidak langsung percaya ucapan paman Pras, karena kebodohanku, aku telah menelantarkan calon istri dan anak kami. Dengan kejam aku meninggalkan Davin dan darah dagingku di rahimnya, aku sadar kesalahanku tak bisa termaafkan.


Jika waktu bisa diputar, tentu aku tidak mau melakukan kesalahan itu, sayangnya waktu terus berjalan, awalnya aku marah, kecewa padamu juga Al, aku merasa di khianati, aku hancur, semua usahaku mencari Davin sia sia, aku selalu mengatakan semua hal tentang Davin kepada Al, bagaimana perasaanku, bagaimana perjuanganku mencari Davin, bagaimana aku mencintai Davin, tapi rupanya Al menusukku dari belakang, dia menghianati aku, bahkan dia membantu Davin mendapatkan tanda tanganku untuk surat cerai kami dengan cara licik. Bukankah itu terlalu kejam untukku? bukankah aku berhak marah atas hal itu? haha, aku seperti orang bodoh yang sedang kalian permainkan, aku mencari Davin seperti orang gila tapi kalian berhasil menyembunyikannya, kau berhasil menutup semua identitas Davin dan putraku, bahkan Al selalu mengunjungi putraku secara rutin, dia disayangi oleh Marvin sementara aku? tidak...putraku justru lebih menyayangi orang lain daripada ayahnya sendiri. Aku tahu kesalahanku dimasa lalu begitu kejam, tapi tidak bisakah aku mendapat maaf atas kejadian masa lalu? tidak pantaskah aku menerima pengampunan dari orang orang yang aku sayangi, aku sudah kehilangan semuanya, wanita yang aku cintai, putraku, sahabatku dan juga hidupku*.


Panji terdiam, rasa bersalahnya begitu besar. Apakah semua yang dia lakukan salah? Dialah yang membuat Al dan Davin bersatu, dialah yang menyemangati Al untuk terus berusaha merebut cinta Davin. Panji juga menutup akses identitas Davin dengan rapat. Sudut mata Panji berair, tanpa dia sadari dialah yang menghancurkan persahabatan mereka. Panji kembali membaca surat dari Marchel


*Aku memutuskan merelakan Davin bersama pria yang dia cintai, Davin adalah separuh diriku, belahan jiwaku, duniaku dan nafas bagiku. Aku sadar aku bukalah pria yang baik, maka dari itu aku merelakan dia agar bahagia bersama Al. Tidak ada alasan aku harus menahan kebahagiaanya. Al adalah pria yang baik, aku yakin dia bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk Davin dan Marvin. Rasa kecewaku akan terbayar dengan kebahagiaan wanita yang aku cintai juga putraku.

__ADS_1


Aku tidak bisa menyalahkan takdir, mungkin inilah akhir dari perjalanan cintaku dengan Davin. Sama seperti kalian, aku juga akan memulai kehidupan yang baru, kehidupan damai seperti yang aku impikan ketika bersama Davin, sayangnya aku harus melewatinya sendiri hingga menua, hahahah. Dengan tulus aku doakan dia dan Al bahagia, aku juga mendoakanmu bahagia. Terima kasih telah menjadi sahabat yang baik untukku, terima kasih atas semua waktu yang kau berikan, aku tidak akan pernah melupakan persahabatan kita.


Marchelian Pratama*


Panji menangis, Marchel bahkan mengucapkan terima kasih atas persahabatan mereka, betapa bodohnya Panji. Dia telah menyakiti satu sahabat terbaiknya.


"kak" Cris memegang pundak suaminya


"semua sudah terjadi, kamu tidak bisa menyesalinya sekarang, mungkin ini yang terbaik bagi semuanya"


"aku bukan sahabat yang baik kan?, mana ada sahabat yang saling menyakiti"

__ADS_1


"mungkin semuanya sudah takdir kak, jika Marchel sudah mengikhlaskan semuanya, itu tandanya dia benar benar menginginkan Davin bahagia, jangan menyalahkan dirimu sendiri" Cris berusaha menenangkan hati suaminya.


Didalam kamar Davin kembali mengingat ucapan terakhir Marchel


Aku mencintaimu, dulu, kini dan nanti. Jika raga dan hati kita tidak bisa bersatu, aku berharap dikehidupan mendatang kita akan kembali bersama, berbahagialah Vin, lakukan semua impianmu yang dulu sudah kau susun. Lakukan banyak hal seperti cita citamu. Aku yakin Al akan mendukung semuanya impianmu.


Davin memangis, dia kembali mengingat masa masa manisnya bersama Marchel. Tidak bisa egois, dulu mereka saling mencintai, merangkai impian yang indah bersama sama. Bahkan mereka memadu cinta hingga menghadirkan pangeran kecil yang tampan. Semua mereka lakukan dengan cinta, hanya dengan satu kesalahan bodoh yang Marchel lakukan semuanya berubah. Bahkan Davin sudah membalas dendam atas sakit hatinya, tapi kenapa rasanya sakit melihat Marchel terpuruk dalam kesedihannya. Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat bagi keduanya menjalin hubungan. Tentu tidak mudah melupakan suka duka mereka begitu saja. Lagi lagi kita tak bisa menyalahkan takdir atas semua yang terjadi, manusia hanya bisa merencanakan impian baik mereka, tapi sang Illahi lah yang menentukan kemana arah jalan hidup umatnya.


*****


Gengs, penyelasan memang selalu datang terlambat kan? tentu saja.

__ADS_1


__ADS_2