Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Menemui Davin


__ADS_3

Syeila masih berdiam dikamarnya, sejak kejadian di apartemen Marchel, Syeila mengurung diri. Saat ini dia berada dirumah ayahnya, Prasetyo.


"Syei, makanlah, sampai kapan kau mau seperti ini?"


"tidak yah, aku tidak lapar" tolak Syeila


"sudah dua hari kau disini, apa suamimu tak akan menjemputmu?" tanya Pras, sebenarnya dia sudah tahu bagaimana kehidupan rumah tangga putrinya selama 3 tahun ini, Pras berdiam karena yakin jika Syeila tak akan mau menyerah.


"huh, aku yakin Marchel sedang bersama pelakor itu?"


"siapa maksudmu?"


"Davin, dia kembali ke kehidupan Marchel, aku susah payah membuat Marchel membuka hati, tiba tiba dia datang kembali, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, walau bagaimanapun akulah istri sah Marchel dan aku akan buat perhitungan dengan pelakor itu"


"Syei, tidakkah kau sadar jika kaulah yang merebut Marchel dari Davin bahkan mereka memiliki anak"


"jadi ayah menyalahkan aku?"


"bukan, hanya saja kenyataannya memang begitu, bagaimana jika suatu saat Marchel tahu rahasiamu? dia pasti akan menceraikanmu"


"itu tidak akan pernah terjadi"


"nak, ayah mohon sadarlah, dari awal kau sangat tahu jika Marchel tidak pernah mencintaimu"


"dia bukan tak mencintaimu yah, hanya belum mencintaiku" Syeila bangkit lalu pergi menaiki mobilnya, Pras kembali menghela nafas, putrinya sungguh keras kepala. Pras hanya takut jika Syeila akan terluka sendiri


*****


.


.

__ADS_1


Syeila datang ke butik Davin, dia berjalan ke ruangan Davin tanpa permisi


"maaf nona, saya sudah katakan jika anda tak bisa menemui nona Davin tanpa janji"


"aku tidak butuh janji untuk menemui pelakor itu, minggir" Syeila kembali berjalan meskipun sudah dihalangi oleh pegawai Davin


"oh kau datang nyonya Marchel" seringai Davin


"dasar pelakor, jangan berpura pura ramah padaku, kau itu hanya wanita murahan yang tidak tahu diri, beraninya kau merebut suamiku" Syeila berniat membuat Davin malu didepan para customernya, sayangnya bukan Davin namanya jika tidak membuat lawannya kalah


"oh, kau sudah tahu rupanya, syukurlah jadi kami tidak perlu susah payah memberitahumu"


"apa maksudmu?"


"kau salah jika kau mengatai aku pelakor karena aku adalah istri dari suamimu"


Syeila mematung, apa maksud ucapan Davin


"jangan membual dan berbicara omong kosong, kau itu hanya pelakor yang berusaha merebut suamiku!!" Syeila berbicara dengan keras membuat para mengunjung melihat mereka sambil berbisik bisik


"maaf atas ketidaknyamanannya ibu ibu, untuk hari ini kalian bisa pilih baju apapun dan gratis" para ibu ibu langsung tak menghiraukan mereka, dan fokus pada baju di butik itu.


"kau sudah kalah Syeila, jadi berhentilah menyakiti diri sendiri, bukankah sejak awal kau terlalu memaksakan diri?"


"kau!!!!, Marchel pasti sudah mencintaiku jika kau tidak datang kembali di kehidupan kami, kau itu bagaikan racun dalam rumah tanggaku, seharusnya sebagai wanita kau tak menyakiti wanita lain, apalagi berusaha merebut suaminya!!!"


"aku? merebut suamimu? tidakkah kau sadar jika kaulah yang merebut Marchel dariku, kau membuat aku menjadi single parent dan membesarkan putraku seorang diri, kau tak tahu bagaimana menderitanya aku menjalani semuanya sendiri dan sekarang kau berbicara untuk jangan menyakiti sesama wanita? wah kau hebat Syeila"


Syeila mematung, dia memang tak memikirkan kehidupan Davin yang mengandung dan membesarkan buah hatinya dengan Marchel seorang diri, setelah ditinggal tanpa alasan dalam keadaan hamil tentu kehidupan Davin pasti sangat sulit.


"kenapa kau diam? kau baru menyadari jika kaulah yang jahat disini?"

__ADS_1


"aku..., "


"bagaimana jika kau yang berada di posisiku?" lagi lagi Syeila diam, "tentu kau tidak akan mengalaminya bukan, kau kan tidak bisa memberikan Marchel keturunan, ah...bukan tidak bisa hanya saja Marchel yang tidak mau memiliki keturunan darimu"


Deg...Syeila memandang Davin, wajahnya sudah pucat


"a..apa maksudmu?"


"tentu kau tahu betul maksudku Miss Marchel, kau bukan wanita bodoh kan, buktinya kau sangat pintar hingga mampu membuat Marchel menikahimu dengan kebohongan yang kau buat"


Fiks, Davin pasti tahu rahasianya


"a..aku..sung..guh tak paham maksudmu"


"hahahah, aku memegang kartu as mu Syeila, kau bisa membodohi Marchel tapi tak bisa membodohiku, aku pikir kau wanita cerdik, sayangnya kau hanya wanita lemah, kau susah payah membuat Marchel menikahimu tapi kau tak berusaha memiliki anak darinya, ah Marchel kan selalu menolakmu bagaimana mungkin kau akan mengandung anaknya apalagi kau menggunakan kontrasepsi" ucap Davin santai yang mampu membuat tubuh Syeila bergetar, tapi Syeila segera menguasai dirinya, ia tak mau kalah dengan lawannya


"kau hanya bicara omong kosong Vin, seorang pelakor tentu akan melakukan banyak cara agar berhasil mencapai tujuannya" Syeila berusaha tetap melawan meskipun dalam keadaan gemetar


"kau keras kepala juga ternyata, baiklah terserah apa katamu"


"bukankah kau bisa menggaet banyak pria kaya, kenapa harus Marchel, kau memang tak tahu malu"


"haha, kau sungguh ingin tahu alasanku?" Davin maju hingga berada didepan Syeila, dia memiringkan kepala ke arah Syeila kemudian berbisik, " Marchel itu bisa memuaskanku begitupun sebaliknya, dia pria yang buas dan hanya aku yang bisa mengimbanginya, ah tentu saja karena hanya aku wanita yang ingin dia sentuh, bahkan kau yang istrinya sendiri saja tidak pernah merasakan bagaimana perkasanya seorang Marchel" Davin menyeringai


"kau memang tak tahu diri" Syeila mengangkat tangan akan menampar Davin sayangnya segera dicegah oleh Davin


"kau akan menamparku? jangan harap!!! kaulah yang membuat hidupku hancur dan kini saatnya kau merasakan hal yang sama, bersiap siaplah Marchel akan mencampakanmu"


"kau!!!!"


Syeila pergi dari butik Davin, niat hati membuat wanita itu malu malah dia yang malu, ternyata Davin mengetahui rahasianya, sekarang apa yang harus dia lakukan? Marchel pasti akan segera mengetahui kebohongannya. Apalagi jika benar Davin dan Marchelntelah menikah, tentu dia akan langsung tergeser. Tidak, Syeila tidak mau kehilangan Marchel, tanpa pikir panjang Syeila mengemudi menuju kantor suaminya.

__ADS_1


__ADS_2