Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Malam Keempat


__ADS_3

Marchel dan Davin tidak bisa datang ke pemakaman Pras, karena resepsi pernikahan mereka diadakan sore harinya. Setelah istirahat sejenak dari kejadian tadi pagi, siang harinya mereka kembali mempersiapkan diri untuk resepsi. Marchel begitu tampan dengan tuxedo warna putih, Davin juga begitu cantik dengan gaun berwarna senada.



Tak ada yang bisa menggambarkan kebahagian mereka saat ini, baik Marchel maupun Davin selalu menebar senyum.


"nanti mulutmu kering karena kelamaan tersenyum" gumam Al yang baru tiba dikamar hotel Marchel bersama Panji


"bagaimana pemakaman om Pras?" tanya Marchel


"semua berjalan lancar"


"lalu Syeila?"


"dia masih tampak shock dan sedih, setelah pemakaman polisi langsung membawanya"


Marchel menghela nafas


"ini semua karena aku" lirihnya


Al dan Panji saling pandang, ia tahu jika Marchel merasa bersalah


"bukan salahmu Chel, semua adalah takdir"


"Al benar Chel, semua sudah digariskan Tuhan seperti ini, jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku yakin jika Davin tahu kau menyalahkan dirimu sendiri dia pasti akan sedih"


"kau benar, aku bahkan menguatkan Davin untuk tak menyalahkan dirinya, tapi aku sendiri menyalahkan diriku"


"sudahlah, sekarang adalah hari bahagiamu, jangan ada kesedihan lagi, tugas kita hanya mendoakan om Pras agar dia tenang disana" ucap Panji


"ya Panji benar, kau siapkan saja tenagamu untuk nanti malam" goda Al


"haha, kalian benar, aku harus menyiapkan banyak tenaga untuk malam pengantin kami" jawab Marchel


"hahah, aku yakin besok Davin tak akan bisa bangun karenamu" kata Panji


Mereka tertawa bersama,


"cepatlah punya anak Al, aku dan Panji sudah memiliki anak, sekarang giliranmu" kata Marchel ditengah tawa mereka


"aku sedang berusaha, setiap malam kami bertempur, semoga lekas ada anak di rahim istri bar barku" Al terkekeh membuat Panji dan Marchel tertawa


"apa yang kalian tertawakan, acara sudah mau mulai, Davin juga sudah menunggu" ucap Ria yang baru masuk ke kamar.

__ADS_1


"baiklah" jawab Marchel


Mereka bertiga keluar kamar, Marchel langsung menghampiri Davin yang sudah menunggunya didepan pintu masuk aula, lalu keduanya masuk, mata para tamu hanya tertuju kepada mereka. Keduanya tampak begitu serasi, banyak tamu yang mengagumi dua sosok pengantin ini.


Acara berjalan dengan lancar, tanpa ada insiden lagi. Para tamu juga bergantian memberikan ucapan selamat di pelaminan. Acarapun selesai pukul 10 malam. Tamu undangan sudah pulang, hanya tersisa keluarga, sahabat dan saudara dekat, mereka semua menginap di hotel malam ini.


Vin sudah terlelap di kamar Ria, sedangkan Citra dan Evan juga memilih beristirahat dikamar mereka, begitu juga kedua sahabat Marchel, Panji dan Al beserta istri mereka.


Marchel dan Davin menuju ke kamar pangantin. Saat masuk, Davin disuguhkan dengan pemandangan romantis, kamar tersebut dihiasi lilin sepanjang jalan menuju ranjang, banyak taburan bunga mawar di lantai juga diranjang. Davin tercengang, dia tak menyangka Marchel akan menyiapkan kamar seromantis ini.


"kau suka?" tanya Marchel sambil memeluk Davin dari belakang


"tentu, aku suka"


"aku sengaja menyiapkan kamar ini untuk malam pengantin kita" Davin segera berbalik menghadap suaminya


"malam pengantin?"


"ya, jangan pura pura lupa jika malam ini adalah malam pengantin kita honey"


"aku tahu sayang"


Davin menatap Marchel, dia begitu mencintai pria dihadapannya ini. Pria yang membuatnya terluka, pria yang menyakitinya, pria yang menjadi ayah dari anaknya dan pria yang kini menjadi suaminya.


"anak anak?"


"ya, anak anak kita, bukankah sebentar lagi kita akan membuat adik untuk Vin?" seketika wajah Davin memerah, dia memang bukan gadis lagi, tentu dia mengerti maksud ucapan suaminya


"kau mesum Chel"


"haha, tentu saja, aku tidak akan menyianyiakan kesempatan lagi nyonya Marchel, dan aku akan menagih waktu 6 tahun kita yang terbuang"


"ck, kau mau membuatku mati?" tanya Davin kesal


"tidak honey, aku tak mungkin membuatmu mati, kita akan melayang bersama, kau siap?"


"Chel, sejak kapan kau menjadi pria mesum?"


"sejak aku berdua denganmu" Marchel mendekat lalu mencium Davin


"kau pasti sering melakukan ini dengan Syeila kan?"


"kenapa tiba tiba kau bertanya demikian?" tanya Marchel

__ADS_1


"kalian menikah selama 4 tahun, tidak mungkin kau puasa selama itu kan?"


"hahah, bukankah aku pernah bercerita tentang itu padamu?"


"ya, walaupun hanya dua kali, tetap saja kalian pernah berhubungan"


"semua itu masa lalu, aku hanya mau dirimu dan aku sangat suka saat kau menggumamkan namaku apalagi des...."


"stop" Davin segera menutup mulut Marchel, dia tahu apa yang akan suaminya katakan


"kau malu?" goda Marchel, "malam ini aku ingin kita menghabiskan malam romantis yang indah" bisik Marchel membuat Davin mendelik


"kau tidak akan membuatku tak tidur semalaman seperti waktu itu kan?" selidik Davin


"jika kau mau, dengan senang hati kita akan melakukannya sampai pagi"


"Chel, jangan bercanda"


"baiklah" tanpa banyak kata Marchel menarik Davin hingga membentur dadanya,


"honey, aku ingin kamu malam ini" bisik Marchel, dia mencium bibir ranum milik Davin, sesekali tangannya bergerilya


Mereka terus berciuman, bahkan semakin lama semakin kasar dan menuntut, tak tahan lagi, Marchel membawa Davin keranjang. Hasratnya sudah naik, tubuh mereka sudah polos. Sensasi yang Marchel berikan membuatnya melayang, tubuhnya merasakan gelayar yang tak bisa ia jabarkan rasanya, hingga beberapa saat akhirnya keduanya menyatukan diri, mereka berbagi saliva, berbagi keringat dan kehangatan.


"sayang, aku lelah" ucap Davin, seolah tuli Marchel terus bermain dan bermain


"kau lelah?" Davin mengangguk, "baiklah aku akan segera mengakhirinya" Marchel mempercepat gerakannya hingga akhirnya mereka mencapai puncak.


"thank you honey, sekarang istirahatlah, karena kita akan melakukannya lagi pagi nanti" Davin melotot, sekarang sudah jam tiga pagi


"aku lelah sayang, ini sudah jam tiga pagi, tidakkah kau kasihan padaku?" ucap Davin memelas


"aku masih belum puas, sebaiknya kita tidur sekarang dan siapkan tenagamu untuk ronde selanjutnya"


Karena lelah Davin segera tertidur, dan benar saja saat matahari sudah menampakkan cahayanya, Marchel kembali beraksi apalagi posisi Davin yang hanya berbalut selimut, sangat memudahkan Marchel untuk melakukannya lagi. Dan terjadilah kembali pagi panjang sang pengantin baru


.


.


.


Maafkan daku yang tak pandai merangkai kata ya guys, semoga suka bab ini

__ADS_1


__ADS_2