
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Hari ini adalah hari membahagiakan bagi Al dan Sekar, mereka tengah mengadakan resepsi pernikahan. Bertempat digedung yang mewah, serta dekorasi yang begitu menawan, resepsi mereka menjadi bahan perbincangan banyak orang, bagaimana tidak, semuanya serba mewah. Jelas saja, orang tua Sekar merupakan pengusaha batu bara, bahkan biaya resepsi ditanggung oleh Wardhana. Awalnya Al menolak, dia masih mampu membiayai resepsi pernikahannya dengan sang istri. Sayangnya sang mertua menolak, dia mengatakan jika ini impiannya sejak dulu. Menikahkan putri tunggalnya dengan pria baik yang dia cintai. Bahkan pesta ini jauh berkali kali lebih mewah dibanding pernikahan Sekar dengan Samuel kala itu.
Al dan Sekar tengah duduk di pelaminan, sambil terus menerima ucapan selamat dari para tamu yang jumlahnya sekitar 5000 undangan. Disamping kiri dan kanan mereka juga tengah duduk para orang tua yang mendampingi mereka dipelaminan. Suasana tampak meriah, apalagi semua pengisi acara tersebut adalah artis artis papan atas Indonesia. Pesta Al dan Sekar, 11-12 dengan pesta Davin dan Marchel.
"kau lelah?" tanya Al pada Sekar
"sedikit"
"sebaiknya kau duduk, jangan sampai kau kelelahan"
"tapi tamunya masih banyak Al"
"tidak apa mereka akan mengerti"
Sekar menurut, kakinya memang begitu pegal. Sudah 3 jam mereka berdiri, entah kapan acara ini akan berakhir.
"daddy, mami" teriak Vin
Al dan Sekar tersenyum melihat pria kecil itu datang
"kau datang son?"
__ADS_1
"iya"
"dimana mommy dan daddymu?" tanya Sekar
"itu" Vin menunjuk ke arah orang tuanya yang berjalan menuju pelaminan, mereka juga bersama Panji dan Cris.
"selamat brother" ucap Panji
"thanks"
"selamat Al dan Sekar, semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan" ucap Cris
"makasih doanya baby Cris" jawab Sekar, mereka menjadi akrab sejak suami suami mereka bersahabat kembali, Cris yang supel tentu mudah mengenal Sekar yang petakilan
"makasih tek, kami juga masih berusaha" ucap Sekar tanpa malu
"kau sudah ketagihan dengan pisang bekas milik Al?" bisik Davin membuat Sekar tersenyum
"yang bekas lebih nikmat" cicitnya
"apa yang kalian bisikkan?" tanya Al yang sudah tahu jika mereka berdua pasti membicarakan sesuatu yang menggelikan
__ADS_1
"ada deh, mau tau aja" jawab Davin
"selamat Al, semoga kalian bahagia selalu dan segeralah mempunyai anak" ucap Marchel
"terima kasih Chel, doakan saja, kami selalu berusaha"
"aku rasa usahanya kurang maksimal Chel, coba sehari lima kali Al, dan praktekkan banyak gaya baru" sahut Panji, Al melotot
"ck, tidak perlu kakak Panji, dia sudah pintar dalam itu apalagi pisang bekasnya, astaga..hihihi" Sekar berbicara dengan vulgar membuat semua sahabatnya tertawa, sedangkan Al tengah menahan malu
"pisang bekas memang julukan yang pas untukmu" ledek Marchel
"berhentilah mengejekku Chel, bukankah kau juga bekas" jawab Al tak mau kalah
"sesama bekas dilarang saling mencela" ejek Panji yang membuat mereka kembali tertawa
"dad, pisang bekas itu seperti apa? aku belum pernah melihatnya" tanya Vin membuat Marchel gelagapan
"sudah, ayo kita turun, tamu yang lain masih mengantri, Vin sayang nanti minta daddy menjawabnya saat dirumah ya" bujuk Cris, dia mengajak mereka turun, pasalnya tamu dibelakangnya tampak uring uringan menunggu giliran
"baiklah, kami akan ke turun dulu pisang bekas," Panji tertawa diikuti yang lainnya
__ADS_1
"sayang, kau membuatku malu"
"Al cayang, kenapa harus malu, semua itu kenyataan, ah...aku lupa, seharusnya aku juga mengatakan jika pisang bekasmu begitu menggoda" Sekar cekikikan membuat Al semakin kesal, tapi inilah sikap Sekar yang Al suka, dia apa adanya, tidak pernah menjaga image didepannya, tapi jangan salah, Sekar merupakan istri yang bertanggung jawab, dia selalu mengerjakan tugasnya dengan sungguh sungguh, dia juga tak pernah mengeluh, inilah yang membuat Al lebih cepat jatuh cinta pada wanita bar bar itu.