
Kehidupan Davin kembali seperti dulu lagi sejak Al kembali ke Indonesia, dia sibuk mengurus Marvin dan juga butiknya. Cris dan Panji tentu sering membantu Davin, seperti mengantar dan menjemput putranya ke sekolah.
Setahun berlalu, hubungan Davin dan Al semakin dekat. Pria itu mengunjunginya sebulan sekali, bahkan Marvin selalu bahagia ketika Al datang. Tanpa ia duga Marvin memanggil Al dengan sebutan daddy. Muncul rasa bersalah dalam hati Davin, selama ini Al sudah sangat bersabar mengharapkan hubungan mereka menjadi lebih serius. Sayangnya ingatan penghianatan yang Marchel torehkan membuat Davin ragu untuk menerima Al.
Duduk ditaman samping rumahnya, Davin menikmati nyamannya sore hari sambil mengingat seseorang yang setahun belakangan mencuri perhatiannya, membuatnya kembali merasakan debaran cinta dan sering membuatnya salah tingkah, namun trauma lagi lagi menjadi penghalang jalannya untuk melangkah lebih jauh.
Nyaman, itulah kata yang Davin sematkan ketika dia berada di dekat Al. Al adalah pria baik, perhatian, penyayang dan yang penting dia menerima Davin ada adanya. Dia juga menyayangi Marvin seperti anaknya sendiri. Jika dibandingkan dengan Marchel Al lebih lembut dalam memperlakukan seseorang.
Ah, mengingat mantan kekasihnya itu hingga saat ini Marchel masih terus mencarinya, info itu Davin dapat dari Al. Bahkan Al menceritakan jika Marchel menjadi dingin dan kejam. Sifatnya bukan seperti Marchel yang dulu. Dia sekarang hanya kerja dan mencari Davin. Beruntung Panji sudah menutup semua akses mereka, terbukti selama setahun ini Marchel belum juga berhasil menemukan mereka, walau sempat di cari di Amsterdam. Jika dengan Syeila, mantan istri Marchel tersebut semakin sukses dalam kariernya, dia juga sama seperti Marchel, kerja, kerja dan kerja. Bahkan kabarnya dua orang itu sama sama enggan memulai hubungan baru. Huh...jika sudah seperti ini, Davin merasa sedikit bersalah, dialah penyebab mereka bercerai, tapi mau bagaimana lagi, gara gara mereka juga Davin menderita, perceraian mereka bahkan tidak cukup membayar sakit yang Davin rasakan.
"ci...ci..." celoteh Mikha, gadis kecil itu berjalan tertatih ke arahnya, Davin berjongkok sambil merentangkan tangan, dan hap..
"keponakan aunty yang cantik sudah mandi?" Davin menciumi wajah Mikha membuat empunya tertawa geli menampilkan dua gigi yang baru tumbuh itu terlihat.
"kau sedang memikirkan apa?" tanya Cris yang duduk disampingnya
"tidak ada" jawab Davin santai sambil terus bermain dengan Mikha
__ADS_1
"jangan bohong padaku Vin, aku tahu siapa yang kamu pikirkan" Cris memutar bola malas karena Davin selalu menyangkal perasaannya, berulang kali Al mengutarakan niatnya untuk serius, nyatanya selalu Davin tolak dengan alasan trauma. Padahal Cris sangat tahu jika Davin sudah membuka hatinya untuk Al, sayangnya entah gengsi, ego atau memang trauma membuat Davin selalu menolak pria baik yang Cris yakin stoknya hanya 1 per 1000 di dunia ini. Al adalah paket komplit, ganteng, baik, perhatian, lembut dan menerima Davin serta Marvin dengan tulus. Baik Cris maupun Panji selalu membujuk Davin dan selalu berakhir dengan kata "aku tak mau sakit lagi".
" Vin, tidakkah satu tahun cukup bagimu untuk melihat ketulusan Al?" tanya Cris serius, entah sudah keberapa kalinya hal ini Cris lontarkan kepada sahabat keras kepalanya ini.
"huh..tidakkah kau lelah dengan pertanyaanmu yang hampir setiap hari kau tanyakan nyonya Panji?" ya,,seperti itulah jawaban awal Davin ketika Cris bertanya hal yang sama berulang ulang
"jangan egois Vin, lihatlah dari sisi Marvin. Dia bahagia bersama Al akupun tahu jika kau juga merasakan hal yang sama sayangnya kata tidak selalu terlontar dari mulutmu, jika saja ada perempuan lain yang berhasil mencuri hati Al tentu saat itu kau akan menyesal"
Davin menyadari, sikap cerewet Cris demi kebahagiaan, benar kata Cris haruskah dia masih egois jika menyangkut putranya. 4 tahun pria kecilnya hidup tanpa kasih sayang ayahnya, tapi setahun belakangan kasih sayang ayah dia dapatkan dari sosok Al, duda tampan yang kata Cris stoknya hanya 1 banding 1000.
"ck kau ini, lihatlah mamu Mik, bukankah dia sangat cerewet?" Davin tersenyum sambil mentoel pipi gembul Mikha
"Vin, bisakah kau serius kali ini?"
"Cris, kau pikir aku tidak ingin bahagia? tentu aku ingin, tapi setelah aku pikir pikir, berumah tangga banyak godaannya, contohnya kau dan Panji, kalian sering cekcok bahkan hampir setiap waktu, kau suka curigaan saat Panji telah pulang dan banyak lagi lainnya"
"itu karena aku mencintai suamiku Vin, cekcok itu bumbu dalam rumah tangga yang semakin mengeratkan jalinan cinta, sedang curiga itu salah satu pertahanan yang dilakukan istri unruk melindungi suaminya, diluar banyak pelakor yang setiap waktu bisa masuk ke rumah tangga kita"
__ADS_1
"sebenarnya itu juga yang aku takutkan, aku sempat menjadi pelakor dalam rumah tangga Marchel, bagaimana jika nanti aku kena karma?hehehe"
"astaga...kau ini kan pelakor impian Vin, jadi kau pasti bisa mengalahkan pelakor receh yang hanya menang dempul doang, misimu sebenarnya kan bukan asli pelakor, tapi jika kau memang berniat jadi pelakor tentu banyak pria kaya yang akan mengantri" Cris terkekeh setelah menggoda sahabatnya
"hahah, sayangnya aku tak butuh pria recehan yang rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk melebarkan paha" Davin dan Cris tertawa bersama
"Vin, kali ini aku serius bisakah kau membuka hati untuk Al?"
"Cris....aku...."
"aku tahu jika kamu juga menyukai Al, kamu berhak bahagia Vin, sudah cukup kamu tenggelam dalam masa lalu, kini jemputlah kebahagiaanmu"
"kau yakin Al adalah yang terbaik bagiku?"
"tentu, dan tanyakan juga hal itu pada hatimu" Davin terdiam, mungkin benar kata Cris, sudah saatnya dia keluar dari kubangan lumpur masa lalu yang selama ini menjeratnya.
Semoga saja pilihanku kali ini benar, ucap Davin dalam hati
__ADS_1