
Tinggal menghitung hari menuju pernikahan, tepatnya 5 hari lagi Davin akan resmi menyandang nama nyonya Alfian. Meskipun acara ini hanya dihadiri keluarga, Citra dan Silvia begitu heboh, mereka mencari WO terbaik ibu kota, undangan telah dicetar kurang lebih 200 lembar, catering dan gedung semua sudah beres, dua wanita ini telah menyiapkan semua. Bahkan jauh jauh hari sebelum pernikahan ini diputuskan berlangsung di Jakarta. Untuk kebaya pernikahan sendiri, Davin memang memesannya di Indonesia, jadi semuanya benar benar telah siap 100% hanya tinggal menunggu waktu
Lagi lagi perasaan Davin bimbang, dia sudah berusaha untuk menepis bayang bayang masa lalunya dengan Marchel, sayangnya bukan menghilang justru semua itu semakin berputar di benaknya. Al sudah berada di sampingnya, tidak ada jantung yang berdebar cepat, tidak ada rindu yang menderanya. Mungkinkah rasanya untuk Al sudah memudar setelah kepergian Marchel. Davin dilema, sekuat tenaga ia meyakinkan diri dan hatinya jika dia tak boleh menyakiti pria sebaik Al, rasa sayang dan cinta akan datang seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka, itulah keyakinan Davin.
.
.
Di kota J Marchel menerima banyak panggilan tak terjawab dari Al. Sahabatnya itu bahkan mengiriminya undangan pernikahannya dengan Davin. Dengan berat hati Marchel membaca undangan tersebut.
Rupanya mereka mengadakan pernikahan di Jakarta, tentu saja, aku sudah mengetahui semuanya, jadi tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, bathin Marchel
Sesak? jelas, mana ada pria yang rela melihat pujaan hatinya bersanding dengan pria lain sekalipun pria itu adalah sahabatnya sendiri. Kata ikhlas nyatanya hanya terucap dari mulut saja, hati dan pikiran Marchel masih terpaku pada Davin. Tidak bisa dibohongi jika cintanya tak pernah mati untuk Davin. Nyeri hati hanya dia rasakan sendiri tanpa bisa berbuat sesuatu. Menggagalkan pernikahan mereka juga percuma jika cinta Davin sudah berpaling, lagipula dia telah berjanji untuk mengikhlaskan mereka bahagia. Jika ditanya akan datang atau tidak ke pernikahan Davin dan Al, jawabannya tentu tidak. Marchel bahkan tidak akan mampu walau hanya melihat mereka dari jauh.
__ADS_1
.
.
Bak kebakaran jenggot, Syeila langsung bertolak ke Jakarta setelah mendengar jika pernikahan Davin tinggal lima hari lagi. Saat ini dia tengah mengunjungi ayahnya di kota kelahiran ibunya. Sejak putrinya bercerai, Pras meminta Syeila untuk tinggal bersamanya di rumah mendiang ibunya. Namun hal itu hanya berlangsung beberapa bulan. Syeila memutuskan tinggal di ibukota seorang diri karena memang pekerjaannya disana. Syeila membeli sebuah apartemen yang letakknya dekat dengan butiknya. Lagipula dia masih akan berusaha mengejar cinta mantan suaminya.
Setibanya di Jakarta, Syeila langsung menuju apartemen. Dia telah menyusun beberapa rencana untuk balas dendam. Davin tidak boleh hidup bahagia jika dirinya tak hidup bahagia. Langkah awal yang dia lakukan adalah menelpon orang suruhannya untuk terus memantau kegiatan di rumah Davin.
Kita akan bertemu lagi Vin, tidak akan aku biarlah kamu bahagia setelah membuat hidupku hancur. Permainan akan segera dimulai, mari kita bersenang senang, Syeila menyeringai.
*******
Malam harinya Davin telah bersiap untuk datang ke undangan peragaan busana dari salah satu desainer terkenal di Indonesia, kebetulan Al ada urusan pekerjaan, sebagai calon pengantin baru dia harus menyelesaikan pekerjaan sebelum cuti berbulan madu. Jadi Al tidak bisa mendampingi Davin ke acara itu. Sebenarnya Al menawarkan diri untuk mengantarkan calon istrinya, tapi Davin menolak.
__ADS_1
Dan hal itu merupakan keberuntungan bagi Syeila. Dengan mudah Syeila bisa melancarkan aksinya. Dia begitu tidak sabar untuk bertemu dan bermain main dengan Davin. Jika dulu dia kalah maka kali ini Syeila tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia telah berada di salah satu rumah kosong yang jauh dari keramaian Ibukota. Duduk manis sambil menunggu anak buahnya datang membawa mainan barunya. Syeila sesekali bersenandung, hatinya berbunga bunga. Akhirnya kesempatan ini ia dapatkan setelah lama bersabar.
ceklek...pintu terbuka dan
"halo nona Davina, kita bertemu lagi" Syeila tersenyum menyeringai
Flash Back On
Davin sedang mengendarai mobilnya menuju hotel X, dia memang tak pernah menggunakan supir. Kemanapun dia pergi, dia selalu mengendarai mobilnya sendiri. Kadang Al yang membawa mobilnya ketika mereka pergi bersama.
Saat tengah berada di perjalanan, tiba tiba ada mobil yang menghadangnya. Turunlah dua orang pria berbadan besar dan menyuruhnya keluar dari mobil. Davin bukannya tidak tahu jika beberapa hari ini dia selalu dibuntuti. Davin bukanlah orang bodoh yang tak tahu jika ada musuh yang tengah mengintainya. Dugaan Davin pelakunya hanya satu yaitu Syeila, hanya dia yang memiliki dendam padanya. Tapi entah benar atau salah dia tidak perduli. Davin tertawa dalam hati, jika benar berarti mantan istri kekasihnya itu ingin bermain main dengannya. Tak ada salahnya jika Davin memberinya sedikit pelajaran. Dia turun dan masuk ke dalam mobil yang ia yakini akan membawanya bertemu dengan Syeila.
Flash Back Off
__ADS_1