
21 Tahun Kemudian
Dua pasangan paruh baya tengah menatap ke arah pelaminan. Mereka tidak menyangka jika putra pertama mereka telah menikah. Pasangan ini adalah Marchel dan Davin, hari ini mereka berbahagia karena Marvin telah menikah dengan Mikha, wanita yang putranya cintai yang tak lain adalah anak Panji dan Cris. Keduanya pengantin tampak bahagia.
"ternyata kita sudah tua hon" ucap Davin tersenyum
"biar tua aku tetap berjiwa muda"
"ck, kau memang menyebalkan sayang" Davin berdecak sambil terkekeh
"kita akan segera menjadi nenek dan kakek" Marchel tertawa
"kau benar, mungkin tak lama lagi panggilan itu akan kita dengar, tidak terasa kita sudah 21 tahun membina rumah tangga"
"kau benar sayang, bahkan sudah lebih 40 tahun kita mengenal sejak kecil, aku bahagia karena Tuhan memberikanku keluarga yang bahagia, aku berharap anak anak kita juga bahagia seperti kita"
"kau benar sayang, aku tak perlu khawatir dengan Vin, tapi Tin.., lihatlah putramu yang satu itu" Davin menunjuk Tin yang ada di meja sebelah dengan dagunya
"hahah, kenapa dengan Tin sayang?" tanya Marchel seakan tak tahu
"dia sudah hampir 21 tahun, bahkan dengan kecerdasannya dia bisa lompat kelas juga kuliah, tapi lihatlah dia, meski sudah memimpin perusahaan papa, Tin sama sekali tidak pernah dekat dengan perempuan, apa mungkin dia??" Davin tampak khawatir
"hahah, sayang jangan meragukan putraku, jika dia hanya dekat dengan Alka bukan berarti dia menyimpang, mungkin saja belum ada yang cocok dengannya"
"aku hanya khawatir sayang, dia tampan, mapan, kenapa belum punya pacar? bahkan Alka saja sudah pacaran dengan Marisa (adik Mikha)"
__ADS_1
"sudahlah sayang lagipula Tin masih muda perjalanannya masih panjang, aku yakin suatu saat dia akan menemukan kekasih hatinya, dia akan sama sepertiku, jika sudah mencintai seseorang maka dia akan terus dan selalu mencintainya"
"kenapa kau malah menggombal?" sebal Davin
"aku serius sayang, bukankah kau tahu jika aku hanya mencintaimu, mungkin saja belum ada yang cocok di hati Tin, jangan terlalu mengkhawatirkannya"
"kau benar hon, mungkin suatu saat Tin akan menemukan belahan jiwanya sama seperti Vin"
"ya kau benar, dan aku bahagia ternyata menantu kita adalah Mikha, entah sifat siapa yang Mikha turuni, yang jelas dia berbeda dengan orang tuanya, Mikha begitu lembut dan keibuan sangat cocok dengan putra kita yang dingin dan menyebalkan"
"kau benar bahkan kita tahu perjalanan mereka hingga sampai saat ini, aku sangat ingat Marvin yang tak pernah menyerah mengejar cinta Mikha meski ditolak ribuan kali"
"kau benar sayang, begitulah takdir, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya"
"haha, kau benar, aku semakin tak sabar untuk memiliki cucu, aku penasaran akan seperti apa sifat cucu kita kelak"
Di meja sebelah, Tin menatap Alka malas, dia bermesraan dengan Marisa didepannya
"kenapa kalian selalu meracuni pemandangan mataku!" keluh Tin
"ck, jomblo iri aja" sahut Alka
"sebaiknya kak Tin cari pacar biar ga jomblo" sambung Marisa tertawa, Tin semakin malas, pasalnya pasangan ini terus menggodanya
"aku akan ke bang Vin dulu" Tin melangkah naik ke pelaminan, kebetulan sudah sedikit sepi
__ADS_1
"bang?" panggil Tin
"adik abang yang tampan, sini foto" ajak Vin kepada adik kesayangannya. Vin begitu menyayangi Tin, apalagi sikap mereka yang bertolak belakang membuat Vin semakin menyayangi adiknya. Vin memiliki sikap dingin dan menyebalkan tapi dia penyayang pada orang orang terdekatnya, sedangkan Tin, dia jahil tapi lembut dan perhatian.
"ayo kita foto bersama Tin" ajak Mikha, kakak iparnya ini memang begitu lembut, mereka akhirnya berfoto bersama, Tin berdiri di tengah tengah mereka
"bang nanti jangan gas pol dulu, kak Mikha baru pertama kali" goda Tin membuat Vin mendelik
"kamu kira abang yang keberapa? abang juga baru pertama kali" sewot Vin
"wah wah, hati hati kak Mikha nanti gigit aja bahunya kalau dia macam macam, kak Mikha ga tahu kan kalau bang Vin sudah marah seperti apa?" Mikha hanya tertawa sambil menahan malu, mereka memang dekat sejak kecil karena orang tua mereka adalah sahabat
"sudah sana turun, bikin mood jelek aja"
"ish pengantin baru ngambek nih ye?" Tin semakin menggoda abangnya
"Tin!!!"
"iya iya ini turun, selamat malam pertama kak Mikha" Tin turun sambil mengedipkan mata pada kakak iparnya
Martin Aditnya Pratama, anak kedua Marchel dan Davin, pria cerdas dengan ketampanan dan kemapanan. Siapa yang tidak akan tergoda dengannya, namun dibalik semua itu Tin menyimpan luka dihatinya, hal itu membuat Tin tak pernah dekat dengan wanita manapun. Dia bukan tipe pria kuat hati seperti abangnya Marvin, yang berkali kali ditolak tapi tetap bertahan.Tin lebih suka memendam perasaannya sendiri, bahkan dia selalu memendam luka hatinya seorang diri.
.
.
__ADS_1
.
.