Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Monas Lagi?


__ADS_3

Usia kandungan Davin sudah memasuki 5 bulan, perutnya sudah mulai buncit dan terlihat. Sebagai suami, Marchel selalu menjadi suami siaga, dia selalu menuruti ngidam sang istri walaupun banyak hal nyeleneh yang istrinya minta, Marchel selalu menyiapkan susu hamil serta mengontrol apapun yang istrinya makan. Semua ia lakukan demi kesehatan Davin dan bayinya. Kadang Davin sering kesal karena suaminya melarang memakan sesuatu yang ia inginkan seperti makanan pedas, asam atau asin.


Setiap bulan Marchel selalu menemani Davin saat periksa, ia benar benar menepati janjinya dan menebus semua waktu yang ia lewatkan ketika Vin dalam kandungan Davin dulu. Bulan lalu seharusnya mereka bisa melihat jenis kelamin sang bayi, tapi sepertinya bayi mereka malu untuk memperlihatkan jenis kelaminnya waktu itu.


Hari ini adalah jadwal Davin kontrol, mereka sudah membuat janji dengan Vita. Bahkan kakak Vin meminta ikut untuk melihat calon adiknya, karena dia sedang libur sekolah. Ketiganya segera pergi menuju klinik. 45 menit perjalanan akhirnya mereka sampai, Vin bergandengan tangan dengan daddynya, pria kecil ini begitu antusias untuk melihat sang adik. Dia terus saja tersenyum sambil melangkah menuju ruangan dokter.


"hallo boy?" sapa Vita


"hallo aunty" Vin tersenyum membalas sapaan Vita


"sepertinya kakak Vin ingin melihat adiknya ya?"


"iya aunty, Vin ingin lihat adik"


Marchel dan Davin tersenyum, bukan hanya mereka yang antusias dengan kehamilan ini, tapi Vin juga, dia selalu mengelus perut mommynya dan sering mengajak adiknya berbicara. Bahkan putranya itu begitu senang saat adiknya mulai menendang.


"baiklah ayo kita periksa" Vita segera memeriksa tenakan darah dan berat badan Davin terlebih dahulu


"tekanan darahnya 120/80 normal ya, dan berat badannya juga naik 1 kg" ucap Vita, lalu ia mulai menggerakkan alatnya untuk melihat kondisi sang bayi, "detak jantungnya bagus, semoga kali ini dia tidak lagi menutupi kelaminnya" sambung Vita

__ADS_1


Marchel dan Vin terus memperhatikan layar monitor dimana menampakkan wajah dede bayi,


"dia dedeknya Vin?"


"iya sayang, ini dedeknya Vin" jawab Marchel


"ah lihat," Vita menunjukkan sesuatu pada mereka, pandangan keempatnya tertuju kembali pada monitor, "ini monasnya" lanjut Vita


"dia boy?" tanya Davin


"ya, babynya boy lagi, selamat untuk kalian"


"jadi adik Vin laki laki mom?"


"asyik, Vin akan memiliki teman bermain" ucapnya kegirangan


Marchel tersenyum melihat calon anaknya, samar samar dia melihat jika wajah bayi mereka lebih mirip Davin, sudut mata Marchel sudah menggenang, ia begitu terharu, bahkan dia tak bisa menggambarkan betapa dirinya bahagia saat ini. Setelah pemeriksaan selesai mereka pulang, namun sebelumnya mereka singgah ke restoran untuk makan siang.


"Vin mau makan apa sayang?" tanya Marchel, meski akan memiliki anak lagi, kasih sayang mereka pada Vin tak berkurang sedikitpun, mereka bahkan lebih banyak menghabiskan waktu bertiga. Tentu dua pria beda generasi ini sering berebut untuk bisa mengelus dan berbicara dengan dede bayi.

__ADS_1


"ayam dad"


"baiklah, mommy mau makan apa?"


"em tomyum pedas"


"tidak, jangan makan itu yang lain saja, kasian dede bayi jika nanti kepedasan"


Davin memutar bola mata malas, selalu jawaban itu yang suaminya lontarkan saat dirinya ingin makan sesuatu yang pedas. Padahal ini juga kemauan dede bayinya. Lebay sekalin kan? mana ada ceritanya dede bayi akan kepedasan


"lalu kenapa bertanya jika aku tak boleh makan sesuai keinginanku" sewot bumil


"hei, semua demi kesehatan kalian"


"huh"


"mom, daddy benar, nanti dede bisa sakit perut kalau mommy makan makanan pedas" Marchel tersenyum kala Vin membelanya, hal ini membuat bumil memanyunkan bibirnya dan membuat dua pria itu tersenyum,


"bagaimana kalau salad dan steak?"

__ADS_1


"terserah" jawab Davin malas


Mereka akhirnya memesan makanan, setelah selesai makan siang, ketiganya memutuskan pulang.


__ADS_2