
Tak terasa sudah sembilan bulan Davin berada di Amsterdam dan sembilan bulan pula usia kehamilannya. Selama hamil Davin begitu tersiksa, dia muntah terus menerus, tidak ada makanan yang bisa dia makan kecuali susu, tubuhnya bahkan mengalami penurunan berat badan selama dua bulan di awal kehamilannya, untung saja dia tidak sendiri, dia bersama Cristin.
Cristin juga berasal dari Indonesia, saat mereka bertemu, Cristin tengah di jambret, untung saja Davin menolongnya hingga barang barang Cristin tidak ada yang di ambil. Cristin baru lulus kuliah dan mencari pekerjaan, dia adalah anak yatim piatu yang beruntung mendapat beasiswa kuliah di Belanda. Umurnya sama dengan Davin, seperti jodoh, Cristin mengambil jurusan fashion desain, Davinpun mengajak Cristin bekerja sebagai asistennya. Dengan senang hati wanita itu menerimanya, mereka bagai saudara.
Awalnya Cristin terkejut mendengar apa yang menimpa Davin, bahkan Davin tak memberi tahu orang tuanya perihal kehamilannya. Sejak itulah Cristin menjadi satu satunya saudara bagi Davin, dia begitu telaten menemani Davin di awal awal kehamilannya bahkan menuruti ngidam Davin yang agak aneh aneh. Dia begitu beruntung bisa bertemu orang baik seperti Davin di negara orang.
"baby Davin, sarapan siap!!" teriak Cristin, ya begitulah lagak wanita itu,
"Cris, kamu itu perempuan jaga suaramu!"
"ish, memang kenapa dengan suaraku?" jawabnya tak peduli
"sudahlah, boy mari kita makan sarapan buatan aunty Cris yang cerewet ini"
Ya, anak yang dikandung Davin berjenis kelamin laki laki, setiap bulan Davin selalu memeriksakan kandungannya dan memastikan semuanya baik baik saja.
"morning boy" sapa Cris mengelus perut Davin
"ayo makan"
Mereka berdua makan bersama, suasana memang selalu seperti ini, Cris selalu memasak untuk Davin, dia juga memperhatikan apapun yang akan dimakan Davin, wanita ini begitu teliti dan sering melarang Davin makan ini dan itu yang akan membahayakan kandungannya.
__ADS_1
"Vin, besok aku ijin ya"
"memang ada apa?"
"pacarku mau datang ke sini"
"kamu punya pacar?"
"ck, jadi selama ini kalau aku cerita cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan gitu?"
"heheh, maaf aunty cerewet, aku suka ngantuk dengar ceritamu, jadi aku tidur"
"boleh, asal ga ganggu kerjaan kita"
"tenang aja, beres semua kok, pesanan tinggal di produksi"
"ok kalo gitu, boleh"
"thank you baby Davin"
Bisnis Davin semakin berkembang, di sini Davin memiliki butik yang lebih besar daripada di Indonesia, bahkan banyak artis artis luar negeri yang memesan rancangannya, dia juga memenangkan beberapa penghargaan Desainer muda terbaik, hidupnya berjalan baik di tambah kehadiran Cristin yang membantunya, sungguh Davin bersyukur, ada hikmah dibalik kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
"oh ya siapa pacarmu?"
"nama Jiji, dulu kami bertetangga"
"sekalian tambah k dibelakang namanya pasti semakin bagus"
"yaelah Vin, gitu amat sama pacar aku, namanya unik kok, lagian dia baik, orang tuanya juga"
"Cris hati hati, jangan sampai nasibmu kayak aku" Cris paham kekhawatiran Davin, sebenarnya dia iba melihat Davin, gadis itu menanggung semua beban hidupnya sendiri, dia begitu kuat dan tangguh.
"iya, aku akan selalu ingat pesan kamu Vin"
*******
Keesokan harinya Cria sudah siap menyambut kedatangan pacarnya. Dia berdandan cantik, Davin hanya tersenyum melihat Cris yang begitu antusias, dia jadi teringat Marchel. Saat mereka akan bertemu, Davin pasti akan berdandan cantik.
ting tong, bel apartemen berbunyi, dengan antusias Cris membukakan pintu
"kak Ji sudah datang? ayo masuk" Cris membawa Jiji masuk ke ruang tamu dimana Davin duduk sambil memakan cemilannya
"Davin..." Davin menoleh dan betapa terkejutnya dia melihat Panji, sahabat Marchel. Panji pun tak kalah terkejut melihat Davin, apalagi dengan perutnya yang membesar.
__ADS_1