Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Bertemu Marvin


__ADS_3

Setelah pulang dari kantor Marchel sengaja menunggu Davin didepan pintu apartemennya. Tak lama ia melihat Davin dan putranya berjalan ke arahnya. Davin terkejut dan berhenti sejenak.


"mom, kanapa belhenti?" tanya Marvin polos


"tidak apa son, ayo" Davin menggandeng tangan putranya, ia tak peduli dengan Marchel


"kalian sudah pulang?" tanya Marchel, namun tak mendapat jawaban, tak kalah semangat Marchel mensejajarkan diri dengan Marvin saat Davin membuka pintu.


"hai sayang" sapa Marchel pada Marvin, ia membelai lembut kepala putranya, putra yang hampir 4 tahun baru ia ketahui keberadaannya. Tanpa diduga, Marvin langsung memeluk Marchel membuat jantung Davin seperti mau lepas


"daddy...." panggil Marvin yang juga membuat Marchel kaget


Davin segera membawa Marvin masuk, tanpa disangka Marchel juga ikut masuk


"Chel, ngapain kamu juga ikut masuk?" kesal Davin


"kenapa tidak boleh? aku kan masuk ke apartemen istriku sendiri" Marchel tak menghiraukan Davin, ia menggendong Marvin membawanya keruang tamu


"jagoan daddy sudah mandi?" Marvin menggeleng "baiklah mari kita mandi, mau kan mandi dengan daddy?" Marvin mengangguk, Davin hanya menghela nafas melihat keduanya begitu akrab, dia tak bisa membohongi dirinya jika darah memang lebih kental daripada air. Ia juga tak menyangka jika Marvin akan memanggil Marchel daddy, padahal selama ini Davin selalu mengatakan jika daddynya sudah disurga. Mereka tampak seperti ayah dan anak yang harmonis, sayangnya kenyataannya tidak demikian.


Davin sudah menyiapkan makan malam, Marchel dan Marvin sudah rapi setelah mandi, mereka duduk dimeja makan sambil memperhatikan Davin yang menata makanannya di meja.


"mom, telnyata daddy maivin tidak di culga, kenapa mommy ceyayu beikata daddy di culga padahai daddy hanya kelja jauh" Davin bingung harus menjawab apa, dia selalu mengajarkan kejujuran pada putranya, tapi kali ini dia ketahuan berbohong oleh putranya


"sayang, mommy tidak berbohong, dulu daddy dan mommy berpisah dan tidak bertemu dalam waktu yang lama, tentu momny mengira daddy sudah di surga tapi akhirnya daddy dan mommy bertemu lagi, Marvin paham kan apa kata daddy?" putranya itu mengangguk patuh. " bagus, sekarang kita makan ya"

__ADS_1


Marchel benar benar seolah menjadi daddy yang baik bagi putranya. Terbersit di hati Davin perasaan gundah, sebenci apapun dia pada Marchel, ikatan antara anak dan ayah tentu lebih kuat. Bagaimana jika Marvin lebih nyaman bersama daddynya, bagaimana jika Marvin lebih suka bersama daddynya dan bagaimana, bagaimana...banyak sekali pertanyaan di benar Davin.


Setelah makan, Marchel mengajak Marvin bermain, ketika anak itu terlihat lelah, dengan lihai Marchel membawanya ke kamar, membacakannya cerita hingga jagoannya terlelap ke alam mimpi. Dipandanginya duplikat wajahnya, Marchel begitu bahagia, setelah ini dia berjanji akan menjaga keluarga kecilnya dengan baik bahkan dengan nyawanya sekalipun.


Davin duduk di sofa, dia sedang menunggu Marchel, tak lama yang ditunggupun muncul


"Chel, kita harus bicara"


"baiklah" Marchel ikut duduk di samping Davin


"Chel, tolong berhentilah, jangan mengganggu kehidupan kami lagi, dari awal kami hanya berdua, dan selamanya akan begitu"


"Vin, jangan egois bagaimanapun Marvin butuh daddynya"


"daddy? setelah semua yang kau lakukan pada kami sekarang kau bertindak seenaknya dan menyebut dirimu daddy?"


Davin menghela nafas,


"Chel, aku tahu kamu adalah daddynya, aku juga tak bisa mengingkari takdir itu, hanya saja sejak awal kau tak pernah ada untuk kami, Marvin sudah terbiasa akan hal ini, jadi aku harap kau mengerti maksudku"


"Vin, aku suamimu"


"suami? itu menurutmu"


"kau tidak bisa menyangkalnya Vin, kita adalah suami istri yang sah, mari kita lakukan akad"

__ADS_1


Davin tersenyum kecut, semudah itukah pikiran laki laki didepanya, jelas jelas dia sudah beristri, dan tentu Davin ingat tujuan awalnya pada Marchel. Apalagi jika mengingat perjuangannya ketika hamil hingga lahirnya Marvin, tentu ia tak mau dengan mudah kembali pada Marchel apalagi menikah dengannya, Big No....


"terserah padamu soal buku nikah itu, yang jelas aku tidak mau menikah denganmu" tegas Davin


"apa kamu sudah tak mencintaiku lagi?"


"cinta? bahkan cinta itu sudah mati sejak penghianatanmu padaku, hingga kini prioritasku hanya Marvin, aku...tak butuh cinta"


Marchel menatap Davin sendu, sebegitu kejamkah dia pada wanita didepannya, hingga Davin tak lagi percaya pada cinta?


"aku mohon Chel, jangan ganggu kami, kau sudah memiliki Syeila mintalah dia mengandung anakmu, bukankah dia wanita yang kau pilih hingga dengan teganya kau meninggalkan aku?"


Lagi lagi Marchel menatap Davin sendu


"aku tidak mau memiliki anak dari wanita lain, aku hanya mau memiliki anak dari kamu Vin"


"hahah, jangan egois Chel, lalu untuk apa kau menikahinya? untuk kau jadikan pajangan? kurasa tidak mungkin, lagipula Syeila juga cantik dia begitu mencintaimu, pasti dia bisa mengimbangimu" sindir Davin, Marchel tahu betul maksud kata mengimbangi yang Davin ucapkan


"aku tak mau melakukan itu dengan Syeila"


"lalu? kau hanya mau melakukan itu denganku? oh ayolah Chel, kau pikir aku wanita gampangan yang setiap saat kau butuhkan maka kau bisa memakainya? tidak!!! sudah cukup aku berbuat hal bodoh dengan menyerahkan diriku padamu dulu hingga aku menderita sampai saat ini, dan kejadian masa lalu, aku tak mau mengulanginya lagi, jadi silahkan pergi dari sini dan juga dari kehidupan kami"


"kau tak akan bisa melakukan itu"


"tentu aku bisa, 4 tahun tanpamu aku bisa hidup dengan baik dengan putraku, jadi aku tak butuh dirimu"

__ADS_1


"baiklah jika kau bersikeras akan hal ini, akan aku tunjukkan pada dunia siapa wanita yang aku cintai sebenarnya" Marchel beranjak meninggalkan apartemen Davin.


Kau sudah menghancurkan aku sehancur hancurnya Chel, aku tak akan mau kembali pada pria sepertimu. Kami tak butuh dirimu dan jika kau bisa bertindak dengan caramu maka aku bisa bertindak dengan caraku.


__ADS_2