Dendam Dan Cinta Davina

Dendam Dan Cinta Davina
Martin Aditya Pratama


__ADS_3

Bulan berganti dengan cepat, tak terasa usia kandungan Davin sudah memasuki trimester akhir. Berdasarkan HPL, dia akan melahirkan seminggu lagi. Kemarin mereka baru saja menjenguk Sekar yang sudah melahirkan bayi laki laki. Sepertinya persahabatan mereka akan berlanjut ke anak anak mereka. Marchel bisa melihat kebahagian diwajah sahabatnya Al, bahkan pria itu tak memperdulikan cakaran di lengan dan wajahnya. Marchel semakin deg degan, ia juga akan menemani Davin saat putra mereka akan lahir nanti, apalagi saat mendengar cerita Al yang begitu menegangkan saat menemani Sekar bersalin, membuat Marchel semakin gugup dan tak sabar.


Tiga manusia ini sedang rebahan di ranjang, Vin terus saja mengelus perut mommynya, apalagi kemarin dia melihat betapa lucunya baby Alka, anak Al dan Sekar. Vin begitu tak sabar untuk melihat dedenya sendiri.


"mom, apa dede juga akan selucu dede Alka?"


"tentu sayang" jawab daddynya


"aku begitu tak sabar untuk melihat dede bayi lahir"


"daddy juga" Davin tersenyum, dia begitu bahagia memiliki dua pria yang begitu menyayanginya


"mom, kenapa dede jarang menendang keras akhir akhir ini?" tanya Vin polos, pasalnya dia merasa jika dedenya sudah tak sering menendang seperti sebelumnya, rasanya gerakan adiknya itu berkurang


"karena adik Vin akan segera lahir, jadi dia jarang menendang sayang, Vin sudah tidak sabar ya?" tanya Davin, gerakan bayi memang akan sedikit berkurang saat menuju hari persalinan, apalagi kaki Davin yang agak bengkak menandakan jika memang anaknya akan segera lahir


Tiba tiba Davin merasakan nyeri, sejak semalan ia memang merasakannya, namun ia tak memberitahu Marchel karena nyeri itu hilang, namun pagi ini datang lagi dan sudah dua kali.


"sayang kenapa?" tanya Marchel yang sadar akan perubahan wajah istrinya


"perutku nyeri sayang"


"nyeri?" Marchel membulatkan mata, apa anak mereka akan lahir? pikirnya


"kenapa tidak memberitahuku?" sambungnya


"nyerinya hanya sesekali datang sayang, belum intens" jawab Davin tenang


"ayo ke klinik Vita" ajak Marchel


"dad apa dede bayi akan segera lahir?"


"iya son, dede bayi akan segera lahir" jawab Davin, sesekali ia meringis kala nyeri itu kembali datang, Vin langsung berlari ke luar kamar, mungkin dia akan memberi tahu omanya jika sang adik akan segera lahir


"sayang ayo, aku sudah menghubungi Vita, kita berangkat sekarang!" ucap Marchel panik


"tenanglah hon, jangan panik"


"bagaimana aku tidak panik, kamu terlihat kesakitan"


"ini adalah proses alami sayang, semua wanita akan mengalami hal ini, dan aku pernah mengalaminya juga" seketika Marchel menunduk, ia teringat masa lalu. Pria ini tak bisa menahan air matanya, ia begitu ingat bagaimana wajah Davin barusan, wanita itu terlihat menahan sakit, dulu pun pasti demikian dan dia tak ada disana untuk mendampinginya


"hei, kenapa kamu malah menangis?"


"maafkan aku, pasti sakit sekali ya?, aku bahkan tak menemanimu saat melahirkan Vin, aku..."


"sstt, sudahlah jangan dibahas lagi, semua sudah berlalu"


"tapi...."


"awhhh..." Davin kembali meringis


"ayo kita pergi" Marchel menggendong Davin dan keluar dari kamar


"Chel, Vin bilang adiknya akan segera lahir" tanya Ria, ia melihat Marchel menggendong Davin


"sayang kamu akan melahirkan?" tanyanya lagi


"sakitnya belum intens ma, mungkin beberapa jam lagi"


"ma, aku akan membawa Davin dulu, tolong siapkan peralatan bayi dan ibunya" pinta Marchel kepada mamanya


"sayang jangan berlebihan, sakitnya belum intens, mungkin masih beberapa jam lagi aku baru melahirkan"


"tidak, kita harus segera ke klinik Vita" Marchel tak menghiraukan ucapan Davin, pria ini tetap menggendong istrinya dan membawanya ke mobil, sementara Ria membawa peralatan baby dan Davin yang memang sudah disiapkan jauh jauh hari, lalu ia dan Vin menyusul ke klinik.


Marchel begitu panik, sesekali Ia melihat istrinya, dia tak begitu fokus ke jalanan karena khawatir akan kondisi Davin

__ADS_1


"sayang fokuslah pada jalan" pinta Davin


"kenapa lama sekali sampai ke sana" gerutu Marchel, rasanya jalanan sangat lambat, ia takut Davin akan semakin merasakan sakit


"tenanglah, jika kamu panik, semua akan terasa makin lambat" ucap Davin menenangkan suaminya


Setelah 45 menit perjalanan, merekapun sampai. Marchel kembali menggendong istrinya menuju ruangan Vita


"baringkan segera Chel, aku kan cek pembukaannya" ucap Vita


"dia terlalu berlebihan kak"


Vita segera mengecek pembukaan, Marchel meringis kala melihat bagaimana cara Vita memeriksa istrinya, apalagi melihat darah di tangan Vita membuat hati Marchel semakin khawatir


"baru pembukaan empat, kalau lambat enam jam lagi anak kalian akan lahir" Marchel melotot, enam jam? berarti Davin akan kesakitan selama enam jam


"apa tidak ada cara untuk mempercepat kelahirannya Vit, aku tidak tega jika Davin harus kesakitan selama enam jam"


"prosesnya memang seperti itu Chel, Davin bisa jalan jalan dulu untuk mempercepat proses kelahiran" saran Vita


Davin turun dari ranjang,


"sayang mau kemana?"


"aku akan jalan jalan sebentar" Marchel menuntun Davin untuk jalan jalan, dia menggandeng Davin berjalan di lorong, sesekali Davin meremas lengan suaminya kala sakit kembali menyerang, membuat Marchel semakin tak tega


"sayang aku harus bagaimana?" tanya Marchel


"apanya hon?"


"bagaimana untuk mengurangi sakitmu?" tanyanya sendu, Davin hanya tersenyum, ia tahu jika suaminya tengah khawatir


"Chel, Davin" Ria datang bersama Vin dan orang tua Davin


"sayang, kenapa tidak menghubungi kami jika kamu akan melahirkan?" tanya Citra


"lupa ma" Davin menyengir


"nak, segeralah lahir jangan buat mommy merasakan sakit yang terlalu lama" Marchel mengecup perut Davin


Setelah 30 menit berjalan jalan, rasa sakit yang Davin rasakan semakin sering bahkan terasa 10 menit sekali


"ayo, aku periksa lagi pembukaannya"


Vita segera memeriksa pembukaan Davin dan ternyata sudah lengkap


"pembukaannya sudah lengkap, Davin akan segera melahirkan" Vita yang sudah menyiapkan peralatannya segera meminta bantuan suster untuk membantu proses persalinan Davin


"Vin, akuti arahanku" Davin mengangguk


Marchel masih setia menemani istrinya, rasanya dia begitu lemas, ternyata ini yang Al bilang menegangkan, bahkan ini bukan hanya menegangkan tapi rasanya sudah seperti mau mati, apalagi melihat wanita yang kita cintai begitu kesakitan dan bertaruh nyawa demi buah hati mereka


"1, 2, 3, dorong"


Davin mendorong sekuat tenaga, namun sepertinya anak mereka masih belum mau keluar, dia menggenggam erat tangan Marah seolah meminta kekuatan


"sayang kamu pasti bisa" bisik Marchel, dia bahkan sudah meneteskan air mata melihat perjuangan sang istri


"tarik nafas, buang, sekali lagi dorong"


Davin kembali mendorong sekuat tenaga


"arrgghhhh" Davin mencengkram lengan Marchel menyalurkan betapa sakitnya yang ia rasakan saat ini


"sekali lagi Vin, kepalanya sudah terlihat" ucap Vita, Davin menarik nafas panjang kemudian dengan sisa tenaga yang dia miliki, Davin mengejan


"erggghhhhhh"

__ADS_1


oek oek oek


terdengar suara tangis bayi melengking ke seluruh ruangan, seketika air mata Marchel kembali luruh, dia melihat putranya diangkat dari rahim sang istri, bayi mungil yang masih berlumur darah itu adalah putranya


"sudah lahir, dan dia sempurna" ucap Vita lagi, dia membersihkan bayi itu kemudian meminta Marchel mengadzani bayinya setelah itu meletakkannya didada Davin


"sayang" Davin menangis melihat bayinya, dia melihat Marchel yang juga menagis, "anak kita hon"


Marchel memeluk dan mencium Davin,


"terima kasih sudah berjuang demi anak kita sayang, kami pasti sangat kesakitan tadi, maafkan aku"


"ini adalah perjuangan seorang ibu untuk anaknya sayang, aku bahagia bisa kembali melahirkan ankmu"


"terima kasih Vin, sudah mau menjadi istriku, malahirkan anak anakku, aku janji akan menjaga kalian dengan baik, aku mencintaimu"


"aku juga mencintaimu Chel"


Diluar ruangan semua heboh saat mendengar tangsisan bayi, tangis haru dan lega mereka rasakan kala cucu kedua mereka sudah lahir. Tak lama Davin dan bayinya dipindahkan keruang perawatan, setelah memberikan IMD pada bayinya, Vita kembali memeriksa kondisi Davin dan bayinya, semuanya sehat.


Vin dan para orang tua sudah berada di kamar Davin, mereka mengelilingi box bayi yang didalamnya terdapat bayi laki laki yang tengah terlelap


"adikku tampan sepertiku" oceh Vin membuat semuanya tertawa


"Vin senang?" tanya Marchel


"senang dad, adik lucu sekali seperti adik Alka"


"selamat sayang, semoga kalian selalu diberi kebahagiaan" ucap Ria


"benar, selamat bayang, mama bahagia karena memiliki cucu lagi, nanti buat lagi yang perempuan ya?" Marchel mendelik mendengar ucapan mertuanya


"ma, aku rasanya hampir mati didalam tadi, sudah cukup dua anak saja, tidak perlu menambah lagi lagipula nanti kita akan mendapat anak mantu perempuan, aku tidak mau istriku kembali merasakan sakit seperti tadi"


"lah, kan biar lengkap Chel, tiga anak cukup" ucap Citra


"tidak ma, dua saja cukup"


"sudah, suara kalian akan membangunkan si kecil" ucap Evan, "selamat nak, setelah semua yang kalian alami, papa berharap selalu ada kebahagiaan dalam rumah tangga kalian, godaan pasti ada, papa harap kalian bisa melaluinya dengan sabar, semoga kalian bahagia sampai maut memisahkan"


"terima kasih pa, kami akan mengingat nasehat papa"


"siapa nama adikku dad, mom"


"Martin Aditya Pratama" jawab Marchel dan Davin kompak


"hallo adik Tin, cepat besar ya, kita akan main bersama" ucap Vin


Semua orang tertawa


Davin memandang semua keluarganya, dia begitu bahagia. Setelah semua cobaan yang dia alami, Tuhan memberikan kebahagiaan yang luar biasa padanya. Tidak tahu lagi bagaimana dia harus mengucapkan syukur atas nikmat dan kebahagiaan yang dia terima.


"terimakasih atas semuanya sayang, aku mencintaimu Davina Brigita"


"aku juga mencintaimu Marchelian Pratama"


The End


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sampai akhir yaaa readers, masih ada ektra part dan akan ada kejutan lainnya, terus baca ya


ma'acih, lop yu pul


__ADS_2