Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 107


__ADS_3

"Abang.... bertahan ya. kita segera sampai dirumah sakit". ucap dini melihat suaminya yang pingsan di jok belakang di pangkuan bang nino.


"Aldi tidak akan apa-apa Dini. insyaa allah Aldi kuat". ucap Bang yan menenangkan Dini, sambil ngebut membawa mobil menuju rumah sakit.


Bang jek mengatakan sudah menuju rumah sakit bersama orang tua Dini.


Begitu juga dengan mami sudah dikabarkan oleh bang nino.


Sesampai dirumah sakit, aldi langsung ditangani oleh tim dokter di igd rumah sakit.


Aldi didampingi bang nino, karena Dini tidak diizinkan masuk membawa anaknya. Makanya dini diluar saja menunggu ditemani bang yan.


Dini mengendong anaknya, sambil menangis. Untung anaknya sudah mulai diam, karena bang yan tadi membantu dini membuatkan susu botol untuk si kembar.


Tidak berapa lama orang tua dini datang ke igd, dimana sudah di kabarkan oleh bang nino tadi.


Ibu langsung mengambil salah satu anak kembar Dini yang sudah tertidur. dan ibu duduk di samping dini.


"Ada apa dengan Aldi Din?!. apa kalian kecelakaan?!". tanya ayah yang berdiri di samping ibu.


"Sandra dan ayahnya yah. Dia....".


Dini menceritakan kejadian yang barusan dialaminya pada ayahnya sambil menangis. Ibu menenangkan Dini, mengosok- gosok punggung dini.


"Kurang ajar samsul itu, belum puas dia menganggu kita. aku akan bikin perhitungan dengannya". ucap ayah geram.


"Bagaimana keadaan aldi sekarang?". tanya ibu.


"Bang aldi tadi pingsan, karena banyak darah yang keluar dari kepalanya. sekarang sedang ditangani dokter". jawab Dini, masih terdengar isak tangisnya.


"Kita do'akan supaya Aldi tidak apa-apa". ucap ayah.


"Orang tua aldi sudah dikabarkan?!". tanya ayah sambil duduk di samping ibu.


"Sudah yah, tadi bang nino mengabarkan mami". jawab Dini.


Bang yan hanya berdiri tidak jauh dari mereka, dia sedang menelfon seseorang. Sepertinya serius pembicaraanya itu.


"Sebaiknya kamu kedalam, melihat keadaan suami kamu. biar ayah dan ibu memegang si kembar". ucap ibu setelah beberapa saat mereka diam.


"Baik bu". ucap dini memberikan anaknya pada ayahnya.


Lalu dia masuk keruang igd, dan diizinkan. karena perawat sudah tahu, dini adalah keluarga korban yang tadi dia suruh menunggu di luar, karena tadi membawa anak- anak.


Dini menuju tempat Aldi yang sudah selesai ditangani perawat igd, nampak kepala aldi diperban, dan darah yang tadi memenuhi samping wajahya sudah di bersihkan.


Nino yang tadi mendampingi Aldi, memberi tempat untuk dini melihat suaminya. Dan dia keluar igd, menemui bang yan.

__ADS_1


Aldi masih diam dalam pingsannya karena masih menutup matanya.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?!". tanya Dini pada seorang dokter yang baru selesai memeriksa infus yang terpasang di tangan Aldi.


"Tidak apa-apa buk, tadi juga sudah dironsen, tidak ada penumpukan darah diotaknya.


Pasien hanya pingsan karena kehabisan darah. sebentar lagi insyaa allah pasien siuman. setelah siuman pasien dapat dipindahkan keruang rawat inap". jawab dokter itu.


"Terimakasih dok". ucap dini.


"Untuk persediaan, aku harap ibu mencari satu kantong darah lagi.


Sebab kepala pasien masih mengeluarkan darah. temannya yang tadi sudah mendonor satu". ucap dokter itu.


"Baik dok, terima kasih". jawab dini.


Setelah dokter itu keluar, dini medekat kearah Aldi, duduk di samping kiri aldi yang tertidur pingsan.


Dini mengusap tanggan aldi yang di pasang selang trasnfusi darah.


"Abang lekas sadar ya. semoga abang tidak apa-apa. kami menunggu abang". ucap Dini sedih.


Dini sangat kesal dengan sandra dan ayahnya. selalu menganggu, padahak dia tidak pernah menganggu sandra dan keluarganya. bahkan sering mengalah.


Walaupun dokter tadi mengatakan kalau suaminya tidak apa-apa, tapi dini masih belum tenang. sampai suaminya sadar dari pingsannya.


Tidak berapa lama terdengar suara azan ya.. azan magrib, waktu magrib telah masuk.


"Abang, dini pergi sholat magrib dulu ya. Biar ayah menunggui abang sebentar". ucap dini pada Aldi yang masih pingsan.


Mengusap kening Aldi yang terlihat berkeringat, dan melapnya dengan tisu. Dini melihat mata Aldi mengernyit, seperti menahan sakit.


"Dokter... dokter....". panggil Dini segera memangil dokter, sambil menyingkap tirai kain pembatas di igd ini.


Seorang dokter dan dua orang perawat berlari menuju tirai tempat dini menyembulkan kepalanya.


"Ada apa bu?!. apa ada kemajuan pada pasien?!". tanya dokter.


Salah satu perawat memeriksa denyut nadi serta selang darah transfusi dan dokter memeriksa jantung pasien dengan stetoskop, dan menyenter mata pasien.


Sedangkan perawat yang satu, mencatat apa yang dibaca dokter dan perawat pertama.


"Tadi mata suami saya mengeryit dok, seperti menahan sakit. Dan dahinya berkeringat". ucap Dini.


"Alhamdulillah, pasien sudah mulai sadar, tapi masih betah dengan tidurnya. mungkin butuh beberapa saat lagi untuk bangun". jaeab dokter.


Perawat menyeka keringat didahi dan juga dileher aldi. Pakaian Aldi sudah diganti dengan pakaian rumah sakit.

__ADS_1


"Sebaiknya ibu sholat magrib dulu, gantian dengan keluarga yang sudah sholat untuk menjaga". usul Dokter.


"Baik dok, terima kasih". ucap dini.


Dini keluar menemui ayahnya.


"Yah, apa ayah sudah sholat!?". tanya dini.


"Sudah Din, barusan. kamu pergilah sholat. ibu mertuamu juga sedang sholat dengan ibu di musholla". ucap ayah.


"Baik yah. ayah masuk saja kedalam, menungui bang Aldi sebentar". ucap dini.


"Ya. ayah akan kedalam". ucap ayah.


Dimusholla di belakang igd dini melihat Ibu dan mami mertuanya sedang memberikan susu botol buat kedua anak kembarnya. yang mereka pangku saat memberikan susu.


Dini langsung berwudhu, dan masuk ke musholla untuk sholat. Lalu berdo'a agar suaminya dalam lindungan allah, dan segera sembuh seperti sedia kala.


Selesai sholat, dini menemui ibu dan mami yang duduk di bagian belakang dalam musholla. Kedua anaknya duduk dan merangkak di lantai musholla.


"Apa mereka rewel bu, mi?!". tanya dini.


"Tidak, mereka cuma capek di gendong. ingin merangkak dan guling-guling saja". ucap ibu


Kedua anak kembar dini merangkak menuju dini, mereka berebut untuk berusaha berdiri mengapai bahu dan tangan dini.


Dini menyambut kedua anaknya. membantu mereka berebut berdiri, dan dini memegang keduanya agar mereka tidak terjatuh.


"Bagaimana keadaan Aldi Din?!". tanya ibu.


"Masih belum siuman tadi bu. tapi kata dokter sudah baik. karena tubuh abang sudah merespon. kata dokter abang sudah sadar, tapi masih betah untuk tidur. mungkin sebentar lagi siuman". ucap Dini berharap.


"Semoga tidak parah, akibat luka kepalanya". tambah mami.


"Papi sudah ambil kamar rawat, biar leluasa membawa si kembar". ucap mami.


Dini dan ibu hanya mengangguk tanda paham. Dini merasa sudah cukup lama berada di musholla, dia ingin kembali ke igd, tempat suaminya dirawat sementara.


"Bu, mi. aku ke tempat abang dulu ya!". ucap dini.


"Pergilah, ibu dan mami disini dulu sebentar, biar si kembar bermain sebentar". ucap mami.


Saat akan masuk ke igd dini bertemu papi mertuanya, yang sedang duduk dan berbicara drngan bang yan. Dini izin pada papi untuk menjaga suaminya di dalam.


Dini melihat suaminya masih tidur, dia menyuruh ayah menemani papi di luar saja. biar dia yang menjaga suaminya.


Dini mengusap keringat didahi suaminya yang terus keluar.

__ADS_1


Tiba-tiba mata Aldi terbuka.


"Abang....". pangil Dini.


__ADS_2