Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 115


__ADS_3

"Kemaren itu anakmu lebih banyak tidurnya. Sekarang anakmu sedang banyak menambah kepandaian.


Banyak bergerak, karena sedang belajar berdiri. pasti dini akan lebih sibuk mengawasi si kembar". ucap papi.


"Insha allah aku siap membantu pi, agar Dini tidak kerepotan dan sibuk di rumah". janji Aldi.


"Ya harus itu. saling bantu dan bekerja sama".jawab papi.


"Mami yakin, kalian bisa". semangat mami.


"Iya mi. terima kasih". jawab aldi dan dini.


Pagi harinya pukul sembilan Aldi dan Dini siap-siap untuk berangkat ke bandara. Yang akan di supiri bang yan, supir mami.


Keluarga dini hanya melepas dari rumah mami. karena bandara berada di ibu kota provinsi, sekitar dua jam dari kota tempat tinggal dini.


Dua koper sedang dan satu sepeda dorong bayi sudah dimasukan oleh bang yan kemobil. dan masik bagasi nantinya.


Untuk persediaan selama di perjalanan Dini membawa satu tas sandang sedang dan satu ransel sedang. Akan aldi dan dini sandang nantinya.


"Kereta bayi nya kok cuma satu yang di bawa?!". tanya mami.


"Sebenarnya tidak mau bawa mi, abang dan adek cukup di gendong saja satu-satu. kan lebih enak di gendong dari pada pakai kereta saat berjalan-jalan.


yang satu itu untuk jaga-jaga saja, jika di perlukan". jawab Aldi.


"Hm... terserah kalian saja. senyaman abang dan adek". jawab mami.


Pukul setengah sepuluh kurang mobil yang dibawa dini dan aldi berangkat ke bandara. yang di perkirakan sampai pukul setengah dua belas tiba di bandara.


Pagi tadi aldi sudah melakukan cek in online, dan sudah memilih tempat duduknya. Aldi mengambil kelas bisnis di penerbangan milik negara, agar dia, dini dan kedua anak kembarnya nyaman selama penerbangan. Karena ini pertama kalinya si kembar naik pesawat.


Sesampai di bandara, Aldi dan Dini mengendong anak kembar mereka. mereka sama-sama memakai gendongan model kangguru, yang membuat mereka nyaman berjalan.


Aldi mengendong abang Ahsan dan dini mengendong adek ihsan. Mereka bergandengan tangan masuk keruang cek in bandara, sama- sama menyandang satu tas punggung sedang untuk keperluan selama perjalanan.


Sedangkan dua koper dan satu kereta bayi di bantu porter bandara menuju tempat cek in bagasi.


mereka langsung cek in untuk bagasi. dan langsung menuju ruang tunggu.


Mereka akan makan siang dan sholat di ruang tunggu saja. karena pesawat mereka akan berangkat pukul satu. Tadi mami dan ibu memberikan bekal dan cemilan untuk makan siang mereka.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, saat mereka turun dari mobil dan akan masuk menuju ruang cek in. ada seseorang yang memperhatikan mereka.


"Dini....". gumam orang itu dengan sedikit lemas.


Seseorang itu akan cek in juga. orang itu berada beberapa orang dibelakang mereka berjalan. tapi mereka yang hanya fokus dengan anak dan bawaan mereka, tidak sempat untuk melihat kekiri dan kekanan.


Bahkan sampai ruang tunggu mereka terus di perhatikan.


Orang itu terlihat sangat sedih, melihat kemesraan mereka. Apalagi melihat si kembar yang lucu dan mengemaskan.


Diruang tunggu, aldi dan dini langsung makan siang, karena sebentar lagi akan sholat zuhur.


"Aku suapi saja ya yang, kamu pangku abang dan adek saja". ucap Aldi menyerahkan anak yang di gendongnya ke pangkuan dini.


Aldi duduk di samping dini dan dibuatkanya dua botol susu, yang tinggal memberi air hangat untuk bayi kembarnya. Setelah membuat susu dan memberikan pada dini.


Aldi membuka bekal untuk makan siang.Mereka makan satu bungkus berdua. dan Aldi yang menyuapi dini.


Dini memeluk kedua anak kembarnya saat di suapi aldi. Dini memberikan botol susu sikembar. dan sikembar memegangnya sendiri.


"Abang pengang sendiri botolnya ya. pintar anak ayah!". ucap Aldi melihat anaknya memegang botol, saat dia menyuapi dini.


"Adek juga pintar, bisa megang botol sendiri". ucap dini.


Sikembar juga tidak rewel, malah saling bermain saat di pangkuan ibunya.


Para penumpang di ruang tunggu banyak yang memperhatikan mereka. keluarga kecil yang bahagia. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang gemes melihat si kembar yang tidak rewel. bahkan sering tertawa saat di ajak mengobrol.


Selesai makan Aldi mengemas perlengkapan makannya. dan bersiap-siap untuk sholat Zohor. mereka bergantian untuk sholat di ruang tunggu bandara. Sampai pangilan untuk memasuki pesawat mereka dengar.


'Dini... maafkan aku. seandainya....


Ya.. ternyata yang melihat dini dan keluarga kecilnya dari tadi adalah Rizal. mantan tunangan Dini yang membatalkan pernikahan beberapa saat akan dilaksanakannya akad nikah.


Rizal pov


'Dini...


Maafkan aku.. sendainya aku tidak terbawa emosi waktu itu. mungkin kita yang akan menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ikut bahagia memperhatikan keluarga kecilmu.


Seperti mimpi kita dulu, untuk menjadi keluarga kecil bahagia, dan saling menyayangi.

__ADS_1


Tapi itulah bodohnya aku. yang tidak bisa menenangkan hati yang sedang kacau. Dan percaya hanya dengan sebuah pesan yang tidak tahu sumbernya.


Seharusnya aku belajar dari pengalaman yang sering kita hadapi sebelumnya. dan masalah yang berusaha menganggu kita saat kita masih bersama.


Padahal kamu sudah pernah mengingatkanku, agar aku tidak boleh gegabah, dalam memutuskan sesuatu, sebelum benar-benar tahu dari yang bersangkutan.


Tapi entah kenapa, aku yang memang kurang waspada bisa saja di pengaruhi. Dan mengambil keputusan yang salah, dan membuat aku menyesal.


Bahkan, penyesalan itu akan selalu teringat sampai kapanpun.


Maafkan aku yang bodoh ini...


Aku tahu, pasti keluarga dini akan malu saat aku membatalkan pernikahan setengah jam sebelum akad nikah dilaksanakan, karena kebodohanku.


Awalnya aku yakin, pernikahan itu akan batal. karena aku langsung pulang tanpa mau mencari tahu yang sebenarnya. Dan aku yakin, dini akan menungguku hingga tenang, setelah membaca pesanku.


Tapi, besoknya saat aku membaca pesan dari dini, duniaku terasa hancur, jiwa ku terasa lepas dari tubuhku. membuat jantungku terasa berhenti berdetak.


Ternyata aku dijebak lagi. sehingga aku sendiri yang membatalkan pernikahan yang selama ini aku idam-idamkan.


Aku mencoba menghubungi dini, tapi tidak bisa. mungkin nomorku sudah di blokir oleh dini.


Aku dan keluargaku segera datang kekota tempat dini tinggal, dan meminta langsung untuk menikah. kalau bisa hari ini.


Suasana pesta masih ada, karena hiasan di dalam rumah masih ada, dan masih terpasang.


Tapi apa yang kudapat, dua kali jantungku berhenti berdetak. ternyata pernikahan kemaren tetap dilaksanakan. dengan seseorang yang mau menikahi dini, yang mengantikanku.


Dan membuatku menjadi orang yang paling bodoh. Bahkan dini sudah mempak semua barang hantaran saat tunangan dan juga cincin tunangan kami, dimana ternyata namanya yang terukir di bagian dalam cincin sudah di hapus secara kasar, karena nampak bekas gosokan benda runcing untuk melenyapkan ukiran namanya.


Dua kali kami melakukan tunangan, dan digagalkan oleh orang dan keluarga yang sama. Bahkan di hari pernikahan yang akan dilaksanakan tidak sampai setengah jam lagi, di usahakan juga untuk di gagalkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


Sekarang. hari ini, setelah lebih dua tahun tidak bertemu dengan Dini. Dia sudah memiliki anak. dan mempunyai suami yang sangat menyayanginya.


Terlihat dari dekat dan mesranya dia dan suaminya, dalam menjaga dan memperlakukan istri dan anaknya.


Aku hanya bisa menangis dalam diam, mungkin suara isak ku tidak terdengar keluar. tapi air mataku tidak bisa berhenti untuk mengalir.


Menyesali kebodohan


Rizal pov End

__ADS_1


.


__ADS_2