Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 108


__ADS_3

"Abang....". pangil dini.


Saat melihat mata Aldi terbuka, dia melihat sekeliling.


"Abang... abang sudah bangun??". pangil dini lagi.


Aldi malah memijit keningnya. Dini was-was, apa yang terjadi.


"Dokter.... dokter.....". panggil dini.


Terdengar suara sepatu dokter dan perawat berlari menuju tempat dini.


"Ada apa bu? apa pasien sudah siuman?!". tanya dokter mendekat kesisi aldi.


Dini mundur dan berdiri dekat kaki Aldi. milihat yang dikerjakan dokter pada aldi.


Melihat Aldi yang bingung, dokter melihat mata Aldi, dan menyenternya. Ada reaksi dari pupil mata Aldi.


"Apa bapak bisa mendengar kan saya?!" tanya dokter.


Aldi mengangguk, tanda mendengar.


"apa bisa melihat saya?!".


Aldi mengernyitkan matanya. melihat kedokter. Aldi menutup mata sebelah kiri dengan tangan.


"Oo... mata kirinya agak kabur". ucap dokter.


Aldi menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, mungkin karena kepala kiri bapak yang terbentur, jadi mata kiri bapak agak memerah, ada pembuluh darah yang pecah dekat mata.


Hanya sementara kaburnya, beberapa hari kedepan akan pulih seperti biasa". terang dokter itu.


Aldi mengangukkan kepalanya sambil memegang keningnya.


"Jika masih pusing, istirahat saja. sebentar lagi akan di pindah keruang rawat. kamarnya sudah kami sediakan ya pak. kami permisi dulu". ucap dokter itu


"Terima kasih dok". ucap Dini.


Lalu dia mendekati dan membantu untuk beristirahat. Dini menyelimuti aldi. dan mengusap punggung tangan Aldi.


"Abang istirahatlah sebentar, menjelang sholat isya kita pindah". ucap dini.


Dini memijit kaki aldi, agar suami nya itu nyaman. Dini merasa senang, ternyata suaminya sudah siumsn.


Tidak berapa lama aldi tertidur, dia merasa nyaman tertidur. Setelah aldi tidak merasa pusing, aldi di pindah kekamar rawat. kamar yang dudah di pesan oleh papi.


Aldi didorong dari igd kekamar rawat, dini mengiringinya dari belakang.


Saat masuk dini terkejut, melihat fasilitas kamar rawat untuk suami nya. Mewah.. itulah kata pertama yang dini ucapkan.


Ternyata kamar yang di pesan kamar vvip, dan kedua anak kembarnya sudah berada di sana, bersama para kakek dan para nenek.

__ADS_1


"Aldi dipindahkan ke kasur kamar rawat inap, Dia sudah bisa bergerak sendiri. menuju tempat tidur. walaupun kepalanya masih pusing.


Setelah Aldi tidur di kasur, semua sudah merasa lega, karena Aldi sudah menampakkan kemajuan. Walau kepala aldi masih agak pusing.


Mungkin jika istirahat semalam ini, mudah-mudahan besok pagi akan lebih baik.


Menjelang pukul sembilan, mami membawa cucu mereka pulang. agar Mereka bisa istirahat di rumah saja.


Dan Dini bisa fokus menjaga Aldi, suaminya. Awalnya dini keberatan. tapi mami mengatakan tidak baik bayinya tidur di rumah sakit. Apalagi sikembar sudah berumur delapan bulan, sudah makan mp asi, dan juga minum susu botol.


Akhirnya dini melepas anaknya untuk tidur di rumah. Dan mami akan mengirim tempat menyimpan asi, duntuk dini memeras dan menyimpan asi, dan akan ada yang menjemput asi untuk anaknya.


Apalagi di ruangan ini ada kulkasnya. jadi dini bisa kapanpun memeras asinya.


Setelah semua pulang, tinggal dini menjaga Aldi. Aldi yang tertidur dibiarkan saja oleh dini. sebab dini tahu, aldi butuh istirahat, karena masih sakit kepalanya.


Dini melaksanakan sholat isya dikamar ruang inap aldi. tidak lupa mendo'a kan kesembuhan suaminya.


Selesai sholat dini mendekat ke ranjang aldi tidur, dini mengusap tangan aldi yang memakai infus. Slang untuk transfusi sudah dibuka tadi saat akan pindah ke kamar rawat inap.


"Cepat sembuh bang". gumam Dini.


Lama dini melihat aldi tidur karena mengantuk dini akhirnya tidur di kasur tempat yang menjaga pasien.


entah berapa lama dini tertidur, terdengar aldi memangilnya.


"Sayang.... Dini sayang....". panggil aldi.


Dini yang masih setengah sadar belum terbangun.


Dini terbangun, dan melihat kearah Aldi. Ternyata Aldi sedang berusaha bangun, sambil memegang kepalanya.


"Abang mau kemana?!". tanya Dini mendekati aldi di tempat tidur.


"Mau ke toilet". ucap aldi.


"Ayo aku bantu".


Dini memapah Aldi kekamar mandi, Aldi yang masih pusing berpegangan pada bahu dini.


Dini mendudukan aldi di kloset, dan membantu Aldi menuntaskan pangilan alamnya.


Semalaman dini menjaga Aldi yang sakit, kepalanya masih pusing dan mata kirinya masih agak kabur.


mungkin karena kerasnya benturan batu yang dipukulkan olah ayah sandra kekepala Aldi. membuat kepala dan mata aldi bermasalah.


Dan pagi harinya Aldi sudah berangsur pulih, kepalanya tidak sesakit semalam, dan matanya juga tidak sekabur semala.


Setelah Dini menolong selesai memandikan tubuh aldi, dan menyuapi sarapan. Aldi diberi tahu perawat akan dilakukan ronsen ulang pukul sembilan nanti.


Dini juga sudah mandi dan sarapan, sarapan dengan jatah dari rumah sakit. Walaupun tidak sesuai selera, tapi tetap dini habiskan. karena dini takut, jika kurang makan akan berpengaruh pada asinya.


pukul sembilan sesuai dengan yang dikabarkan perawat, aldi didorong perawat keruang ronsen dengan kursi roda.

__ADS_1


Dini mengikutinya dari belakang. Tidak sampai setengah jam aldi berada diruang ronsen. dan aldi kembali kekamar rawatnya. untuk menunggu hasil ronsennya.


Aldi dan dini berbincang berdua di ruang rawat, sambil menunggu hasil ronsennya, yang mana hasil rosen akan diberi tahu saat kunjungan dokter kekamar siang nya.


Dokter menyimpulkan tidak ada yang membahayakan Aldi di rosen yang kedua ini. makanya sore diperbolehkan untuk pulang.


Sebenarnya dokter menyuruh aldi istirahat di rumah sakit saja malam ini, dan menyarankan untuk pulang esok hari. Tapi aldi ingin segera pulang, dan istirahat dirumah saja.


Maka sore harinya Aldi pulang dijemput oleh supir mami, bang yan.


Sebelum aldi pulang dari rumah sakit, keluarga dini datang kerumah sakit untuk membezuk aldi.


Ayah, ibu, kakek dan nenek orang tua ibu dini yang berkunjung membezuk aldi sore itu sangat senang. kalau menantu dan cucu menantu mereka tidak mengalami cedara parah.


Kakek dan nenek dini orang tua ayah tidak dikabarkan ayah dini. Kata ayah kasihan kakek, akan pusing memikirkan antara anak, menantu dan cucu. Semua adalah keluarga.


.


Sementara itu, sandra dan ayahnya kabur dari kota ini. mereka tidak mau masuk penjara lagi, karena masih menganggu Dini.


Melihat kepala Aldi yang bocor berlumuran darah, akibat hantaman batu besar yang di pukulkan oleh ayah sandra. Mereka berdua takut.


Karena banyak saksi yang melihat ayah sandra memukulkan batu ke kepala aldi.


Meskipun bukan kecelakaan jalan raya yang membuat kepala aldi bocor, tapi darah yang mengalir cukup banyak. membuat aldi pingsan.


Pingsannya Aldi juga menambah kecemasan mereka. Mereka yakin akan berurusan lagi dengan polisi. dan mereka tidak mau lagi berursan dengan polisi.


Bahkan Pak samsul ayahnya sandra kabur tanpa mengajak sandra. Hingga sandra kabur setelah tahu ayahnya menghilang malam harinya.


Mereka kabur tanpa memberi tahu mak sam. Istri nya pak Samsul yang ibunya sandra.


Sandra pov..


Aku tidak tahu kalau ayah akan memukul kepala suaminya dini hingga berdarah. Aku panik, melihatnya pingsan.


Juga panik melihat ayah dipukuli oleh orang yang turun dari mobilnya suami Dini.


Aku ingat, mobil yang tadi siang aku lihat di mini markat. ternyata memang mobilnya suaminya dini.


Setelah mereka pergi membawa suami dini yang pingsan. Ayah yang babak belur, langsung kabur. tanpa memperdulikan aku yang masih terduduk bingung di tanah.


Bahkan tidak ada seorangpun yang menolongku. yang ada hanya menertawakan dan mencibirku.


Aku yang tidak tahan, dicibir dan ditertawakan, pergi saja berjalan menjauhi tempat itu. Entah karena panik, atau kepikiran suami dini yang pingsan, aku berjalan tanpa arah.


Entahlah, dalam fikiranku, aku sangat tertarik kepada suaminya dini. Hingga aku kembali menginginkan sesuatu yang dimiliki Dini.


Melihat suaminya yang perhatian, baik dan juga dipastikan kaya. membuat aku ingin sekali memilikinya, bagaimanapun caranya. dan ayahku, selalu mendukung keinginanku.


Tapi... kesialan selalu mendekatiku, selalu membuat aku kalah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2