
Hari ini aku menghadapi ujian hari terakhir semester pertama, Aku berharap nilaiku memuaskan di awal semester ini.
Aku ujian dan pulangnya tidak terlalu malam, Aku masih diantar jemput oleh ayah, ayah sekarang lebih mengekangku, kemanapun aku akan keluar harus izin dari ayah, akan selalu di tanya- tanya kemana tujuanku kalau sekedar makan- makan tidak akan diizinkan pergi, kecuali untuk belajar.
Aku tidak dibolehkan ayah membawa motor, meskipun aku bisa. Ayah melarang karena aku belum punya sim dan berkendara malam hari juga bahaya kata ayah.
Kalau ayah tidak bisa menjemput ayah hanya mempercayakan aku pulang dengan bang satria, karena ayah mengenal bang satria.
Karena akhir- akhir ini ayah lebih sensitif, apalagi dengan kasus kak sandra. Eh .. sudah hampir dua minggu aku tidak mendengar kabar tentang kak sandra dan keluarganya. Tapi biar saja aku tidak tahu, lebih tenang saja kalau tidak tahu. pikirku.
Aku di jemput ayah seperti biasa, ayah lebih dulu sampai sebelum aku keluar kelas, seperti biasa ayah menunggu di pos satpam sambil memgobrol dengan pak satpam .
" Yuk yah ". ucapku saat sampai di pos satpam.
" Ayok ". jawab ayah sambil berdiri dari duduknya.
Aku mengambil helm di motor ayah, dan memasangnya.
" Assalamualaikum yah... ". tiba- tiba bang satria datang dengan sepeda motornya, dia memang sudah kenal dan akrab dengan ayah, karena sudah sering bertemu.
" Waalaikummussalam.. ". jawab ayah. " Besok- besok kalau pulang bir Dini bareng aku saja yah, kan arahnya sama ". tawar bang satria.
" Lihat besok- besok satria, kan sekatang mau libur, masih lama itu, kalau ayah tidak bisa jemput dini ayah percayakan dini pulang bareng kamu ".jawab ayah.
"Iya yah " jawab bang satria. " Yah, dini, aku duluan ya ". ucapnya
" Hati- hati ,jangan ngebut..". ucap ayah sambil menstar motornya.
" Iya yah.... ayah juga hati- hati ". balasnya.
Saat di perjalanan pulang aku melewati banyak tempat kuliner malam, aku ingin beli buat cemilan, tapi apa ya. kemudia aku melihat ada yang jual martabak bandung, pengen beli jadinya.
" Yah... kita beli martabak bandubg yuk, pengen makan yang manis- manis ". ucapku.
" Boleh.. beli di mana ?!". tanya ayah.
" Yang di depan swalayan **** , yah. Eh yang di simpang saja yah, dekat dengan rumah, biar masih panas sampai di rumah ". jawabku.
Aku tidak mau membeli yang di dekat swalayan ****, karena disana hari itu bertemu kak sandra. makanya aku minta yang di simpang jalan besar dekat perempatan ke rumahku.
" Ah kamu Din... beli di sini, beli dekat rumah, sama saja, cuma beda lima menit perjalanan, tetap panas juga kok ". ucap ayah.
" Tapi yang di sini ramai yah, lama antrinya nanti ". ucapku ber alasan. padahal sama- sama ramai pelanggannya, pasti lama antrinya.
" terserah kamu saja, yang penting kamu bisa membelinya, ayah juga pengen makan martabak ". ucal ayah.
Saat melewati swalayan **** tanpa sengaja aku melihat kak sandra di seberang jalan, sepertinya mau menyebrang ke arah warung tenda. Ayah pasti tidak melihat, karena fokus mengendarai motor menghadap kedepan. Akupun pura- pura tidak melihat.
__ADS_1
Tapi sekilas aku melihat kak sandra dengan seorang laki- laki, tapi bukan bang candra, kok....
Untung saja aku tidak jadi membeli martabak yang di sini, kalau tidak pasti akan bertemu dengan kak sandra, dan akan jadi masalah lagi, di bilang memata- matai dia. Seperti tidak punya kerjaan saja.
Sesampai di rumah kami makan martabak bandung, aku membeli dua varian rasa, ayah dan aku sukanya yang biasa, toping kacang meses, sedangkan ibu dan putri suka yang pisang. untuk ilham aku membelikan mi goreng aceh, kesukaanya.
Sambil makan kami berbincang- bincang ringan, tentang sekolah putri dan ilham, tentang kuliahku yang baru siap ujian semester.
" Bagaimana kerjamu selama kuliah Dini ?!". tanya ayah
" Alhamdulillah lancar keduanya yah, mami bos sangat mendukung kuliahku, Setiap sampai di toko selalu yang di tanya kuliahku yah. kalau ada tugas kuliah aku selalu dikasih waktu lebih untuk istirahat, teman yang lain pun tidak keberatan. mereka juga mendukungku ". jelasku.
Ayah mengangguk saja
" Terus .... janjimu bagaimana ?!". tanya ayah lagi.
" Janji apa yah ?. Dini lupa!?". tanyaku balik.
Ayah menarik nafasnya pelan dan menghembuskanya sambil memandangku.
" Apa karena kamu dekat dengan satria sehingga lupa dengan jawabanmu untuk pak haji Faisal ?". ucap ayah
Astahfirullah... ucapku dalam hati, aku lupa.
" Ayah hanya mengigatkan saja, mungkin kamu lupa. Tapi sekarang kamu harus memikirkan jawaban yang tepat menurut hati kamu, bukan karena paksaan, apalagi karena tidak enak hati ". ucap ayah.
Bang rizal beberapa bulan yang lalu setelah orang tuanya memberikan kembali cincin tunangan kami hanya sekali vidio call.
Katanya dia tidak ingin membebani ku untuk memberi keputusan , dia ingin aku santai saja sampai selesai ujian semester. Dan menunggu jawaban dariku setelah ujian semester pertama.
Apa yang harus ku jawab, aku belum memikirkannya, karena lupa.
" Apa kamu punya hubungan dengan satria ? ". tanya ayah.
" Tidak yah.. aku tidak punya hubungan dengannya, hanya teman saja. bang satria itu juga sudah tunangan, aku pernah dikenalkan dengan tunangannya ". ucapku.
Aku memang pernah di kenalkan dengan tunangan bang satria, namanya lidia, dia bekerja sebagai guru smp. bahkan dia tidak kebetatan kalau aku pulang kuliah di bonceng bang satria.
" Oooo... Ayah kira dia mengantarmu ada maunya ". ucap ayah.
" tidak yah ". jawabku
" Sekarang kamu harus segera memikirkan jawaban untuk haji Faisal seandainya mereka datang, kamu jangan terburu- buru memikir kannya ". jelas ayah.
" Baik yah ". jawabku. " Yah ... boleh aku minta pendapat ayah ? ". tanyaku .
" Boleh... tentang apa ?!".
__ADS_1
" Mm... begini yah, kalau di tanya hati, mungkin aku masih ada rasa dengan bang Rizal, tapi aku masih ada keraguan yah... apa tidak akan jadi konflik lagi dengan kak sandra dan keluarganya seandainya aku menerima bang rizal. aku masih was- was yah ". ucapku.
" Itu akan difikirkan dan dibicarakan nanti, sekarang fokus kan hatimu, agar tidak ada keraguan ".jelas ayah.
" Kalau tentang Sandra kan sebulan yang lalu ayahnya bilang sudah ada candra, jangan di pikirkan ". hibur ayah.
" Baik yah ". jawabku.
...
Keesokan harinya aku pergi bekerja seperti biasa, menunggu angkot di pertigaan depan, kulihat kak sandra mendekat kearahku dengan motornya.
" Hey... lagi nunggu pacar baru kamu?!".tanya kak sandra memberhentikan motornya di depanku.
" Tidak kak, lagi nunggu angkot ". ucapku jujur.
" Jangan bohong kamu, pasti lagi janjian sama pacar baru kamu. aku tahu kamu punya pacar baru, kamu sering diantar pulang malam, sok jadi anak baik kamu, pulang malam diantar laki- laki, dasar murahan ". omel kak sandra.
" Jangan fitnah kak !. aku itu pulang malam karena kuliah ".
" Kuliah apa malam- malam?!. dasar pembohong kamu ! tidak akan ada laki- laki yang mau sama kamu, kamu itu ..."
" Dini.... mau pergi bekerja ya ?!. yuk .. aku antar ". tiba- tiba bang satria datang dengan motor besarnya.
" Ketauan kamu dini, katanya lagi nunggu angkot, taunya menunggu pacar. dasar munafik kamu. aku tahu kalian sering keluar malam untuk pacaran, Aku sering melihat kamu berboncengan". oceh kak sandra. lalu dia turun dari motornya mendekat ke arah bang satria,
" Apa sih hebatnya si dini ?!. hingga kamu selalu boking dia?!. aku juga bisa kamu boking, lebih hot dari si Dini ". ucap kak sandra memegang tangan bang satria manja.
Bang satria menepis tangan kak sandra " Apaan sih kamu".
" Kamu harus tahu, Dini itu selalu keluar malam, dan aku juga sering melihat kamu memboncengkan dia malam- malam, makanya kamu harus tahu kalau dini itu tidak baik buat kamu. Dia saja di tinggal menikah oleh tunangannya, itu tandanya apa kalai bukan petempuan tidak benar, dia itu ......".
"Ayok bang.... kita pergi saja ". ucapku memotong ucapan kak sandra, sambil mengambil helm yang diikat di jok belakang motor.
Aku naik setelah memasang helm ku. " Jalan bang ". ucapku agar bang satria pergi, karena aku muak mendengar ocehan kak sandra yang tidak- tidak.
.
.
.
.
like dan komennya mana temans ottor...
🙏🙏terimakasih sudah mampir ya temans.
__ADS_1